Day 8

Jam 6.29 am pagi ini aku sedang berlari didepan gedung Geodesi untuk menuju GKU timur. Karena kalau lebih dari 6.30 aku harus bayar denda, maka aku lari secepat mungkin dengan beberapa orang temanku. Ah, iya, kami lari dengan membawa spek lapangan (tas carrier 40 liter dan segala macam isinya).

Akhirnya kami ga telat. Yeyeyeyeye. Mungkin hari ini pertama kalinya aku ga didenda karena telat.

Langsung aja to the point saat kami bertemu danlap-danlap lagi.

Kami hanya melebihi satu hitungan saat PBB. Disuruhnya bikin 6 banjar dalam 40 hitungan tapi kami malah 41 hitungan. Dan itu adalah kesalahan pertama. Udah gitu, kami cek spek. Cek spek kali ini lumayan perjuangan soalnya spek kami lebih banyak dari biasanya. 

Cek spek berjalan lancar hingga akhirnya spek alat mandi menjadi masalah bagi kebanyakan dari kami. Kami hanya membawa sabun doang atau ada yang sampo dan sikat gigi doang, pokoknya alat mandi kami kebanyakan nggak lengkap (handuk, sikat gigi, odol, sabun, sampo). Hanya tersisa sebelas orang yang bertahan dibarisan, dan aku tidak termasuk didalamnya. 

Menurut aku sih ini salah kami soalnya kami terlalu kaku untuk menuruti apa yang diperintahkan SOP dan ngga ada inisiatif sendiri untuk ngerti kalau seharusnya mandi itu pake sikat gigi-odol-sabun-anduk dan ga mungkin sabunan doang tanpa sikat gigi saat ke lapangan seminggu.

Jadilah teman kami yang sebelas orang itu menanggung kesalahan kami yang ngga bawa alat mandi lengkap. Mereka push-up dan tahan atas dengan cukup lama sambil mengucapkan kesalahan-kesalahan kami: tidak membawa spek, tidak sigap pbb, kurang inisiatif, dan kurang kritis. Kesalahan itu kami ucapkan berulang-ulang sambil push-up. Tapi kami yang kurang spek hanya bantu menghitung.

Setelah sesi danlap selesai, kami dikasih materi tentang himpunan. Pertama mengenai strukturnya, dari kahim ke senat dan sekjen, dst. Udah gitu, ini nih yang seru. Kami diajarin mars himpunan. Nggak langsung hafal sih, tapi kami terus-terusan nyobai nyanyiin bareng biar hapal. 

Lalu, kembali ke sesi danlap lagi.

Kami ditanya mengenai materi yang udah didapat hari itu. Aku sempet disuruh maju untuk ngejelasin makna dari jaket himpunan dengan segala kecupuanku.

Udah gitu, kami ketemu pembimbing lagi, dikasih tugas, dan pulang.

Aku sempet mengalami kegalauan pulangnya naek ojek atau taxi atau angkot atau minta jemput; berhubung bawa tas segede gaban. Tapi melihat perutangan kepada orang yang masih banyak, maka aku memutuskan naik angkot lewat gerbang matematika. Eh, aku ngelewatin jendral-jendril yang lagi foto bareng. Bingung harus nyapa atau gimana, akhirnya aku jalan lurus aja ngga nengok sama sekali. 

Eh, udahan ah, udah mulai nggak penting.

Day 7

Bagaimana kalau aku ceritanya secara sistematis aja, biar bosen.

Jadi kami pagi ini ada praktikum yang wajib bawa laptop. Lalu sebgai orang yang ga punya kosan deket akhirnya aku harus berangkat bawa leptop plus spek-spek diksar beserta baju ganti dan alat-alat buat bikin handmade.
Sebagai anak yang ga bisa pake kendaraan maka aku naik angkot dengan bawa barang-barang yang gedenya udah kaya mau kemping tadi, dengan dua tas pula. Eeeeh diangkot ternyata ada bapa-bapa yang bawa barang dgangannya, yaitu balon. Alhasil aku duduk dengan barang banyak dan tenggelam diantara balon-balon bocah. Pada intinya aku merasa sangat cupu sekali guys.

Teruuuus udah gitu kami praktikum kuliah dan lalala sampai akhirnya jam 15.30 kami harus kumpul di gku timur buat cek spek, latian pbb, dan lain-lain.

Hal tersial disore itu adalah aku lupa bawa celana training dan baru sadar saat mau kumpul angkatan. Prinsip kumpul angkatan kami adalah time is money. Kamu telat semenitpun harus bayar 2000 beserta push-up. Maka dengan sangat riweuh dan emosi akupun pulang lagi kerumah dengan menempuh perjalanan 45 menit. Emosi semakin memuncak saat si mang angkot malah lelet banget jalannya, tapi apa daya akhirnya aku hanya nahan-nahan kesel doang sambil minta tambahan waktu kumpul angkatan biar ga didenda.

Lalu aku nyampe rumah, langsung naro leptop dan barang ga penting lainnya. Aku bawa training, dan langsung pergi lagi. 45 menit perjalanan hanya untuk 10 menit dirumah, kawan. Pengen nangis deh.

Tapi karena kalo telat denda maka aku memutuskan naek ojek aja meskipun bayarannya ternyata seharga taxi -.-

Naaaaaah, langsung aja ke waktu saat kami bertemu danlap-danlap, kira-kira jam 7.20 malam di selasar labtek biru. Kalo kaya gini udah bisa dibaca sih, pasti pbb dulu lalu cekspek dan sisanya omelan dan nasehat danlap mengenai angkatan.
Ternyata,
Pbb kami ternyata kacau.
Spek kami lengkap, tapi kami lelet.
Sangat jauh dengan minggu kemarin dimana kami benar-benar gercep abis sampe danlap bingung mau bilang apa.
Hari ini kami tidak menepati janji kami untuk datang diksar denan lebih baik lagi. Kami kehilangan semangat, dan akhirnya mengacaukan segala hal.

Satu lagi, tugas kami gak ada satu orangpun yang udah beres. Eng ing eng, omelan omelan lagi.

Tapi yang paling berkesan dan ber’bekas’ adalah entah berapa puluh menit kami nge-trill dan entah berapa seri kami turun push up. Nyaris kayak diklat medik. u.u cape pisun pokonya mah, kaki-kaki kami udah pada bergetar dan keringet mulai ngucur banyak sekali.

Teruuuus
Saat itu kesalahan seseorang akan ditanggung seangkatan kecuali orang tersebut. Ini seharusnya membuat kami ngerti kalau kami ini stu angkatan, satu tubuh, satu keluarga. Apapun kesalahan yang dilakukan oleh masing-masing akan berdampak ke semua orang. Jadi, kami juga seharusnya belajar bagaimana bertanggung jawab.

Yahbsudah dulu deh.
Ngantuk, besok dateng nyubuh, diksar.
Bye

Zombie.

Perkenalkan, malam ini aku menjadi zombie.

Entah hidup entah tidak.

Aku hanya haus akan darahmu.

Jadi aku ini zombie atau vampire, sih? #failpost

Kamu Punya Qur’an?

Enam tahun yang lalu, dibalik bangku kotak berwarna cokelat, aku duduk manis memperhatikan seorang guru yang sedang bercerita didepan kelas. Beliau menceritakan tentang………..apa ya, lupa-.-

Tapi yang aku ingat, setelah itu ia bertanya kepada kami. Siapa yang punya Al-Qur’an? Tentu saja secara serentak kami mengangkat tangan. Lalu guruku itu menunjuk satu orang dan menanyakan dimana Qur’annya. Temanku mengeluarkan sebuah benda tebal dan ya, itu Qur’an. Guruku menggeleng dengan wajah yang sedikit kecewa. Itu sih mushaf Al-Qur’an. Itu mushafnya, bukan Qur’an.

Diskusi semakin ramai, banyak tanggapan dari teman-teman dikelas. Aku juga bingung dengan jawaban guruku itu. Kalau yang ini bukan Qur’an, lalu dimanakah Qur’an? Ah, aku punya ide. Aku lalu bertanya pada guruku, Inikah Qur’an? Tanyaku sambil membuka mushaf Al-Qur’an dan menunjukkan ayat-ayatnya. Sama aja, itu juga mushafnya. o-ow. Kelas mulai memanas karena bingung dan penasaran dengan maksud beliau.

Akhirnya setelah semua menyerah, ia berkata, Qur’an itu seharusnya ada disini. Beliau menunjuk ke dadanya. Kelas hening sebagai pertanda ingin mendengar penjelasan guru kami lebih lanjut.

“Yang kalian bilang Qur’an itu adalah mushafnya. Hanya tulisannya. Tulisan itu mudah dirobek, dibakar, dan mudah hilang. Tapi Al-Qur’an itu bukan sekedar tulisan. Qur’an adalah cerminan akhlak seseorang. Jadi, apakah kamu sudah punya Al-Qur’an didalam dirimu?” 

Guru kami kemudian tersenyum.

Obrolan Senja

Jadilah sore itu, diselasar labtek biru, kami berpikir keras karena sebuah pertanyaan dari seorang kakak kelas kami. Kenapa kalian ada disini. Sebuah pertanyaan sederhana namun terlalu bodoh jika aku harus menjawab karena saya pengen jadi oseanografer. Aku yakin sebenarnya ada hal besar melebihi sekedar profesi.

Lalu, aku mencoba menjawab, karena takdir kan? Tapi sepertinya itu juga merupakan jawaban bodoh. Toh kita manusia sudah diberi banyak pilihan hidup. Semuanya tak bisa disalahkan kepada takdir. Yah, meskipun pada awalnya keberadaanku disini bukanlah keinginanku. (eh kenapa curhat)

Kemudian aku berpikir lagi. Aku mengingat-ingat perjalanan hidupku yang sepertinya selalu ditunjukkan olehNya kepada ‘sesuatu’ yang aku tidak akan tahu. Aku tidak tahu karena aku tak pernah merancang untuk menuntut ilmu dan berkecimpung dikehidupan di labtek biru ini. Aku mencoba menjawab lagi, Karena ini merupakan bagian dari hidup saya untuk menjadi sesuatu yang saya pun tidak tahu apa.

Lalu kakak kelasku mengangguk-angguk seperti berpikir. Nah, itu jawabannya, katanya, kita hidup untuk mencari jawaban untuk apa sebenarnya kita hidup. Kalau kita sudah tau jawabannya, pasti kita sudah mati.

Aku manggut-manggut setuju.

Tapi dalam konteks lain sih sudah jelas bahwa hidup kita itu untuk ibadah. Hanya saja secara spesifiknya seperti menjadi apa, manfaat atau tidak, bagaimana pengaruh kita terhadap orang lain–atau mungkin terhadap dunia, bahkan penting-atau tidaknya kita, itulah yang masih akan kita cari jawabannya.

Semoga, aku dan kamu–yang lagi baca–bisa menjadi orang-orang yang ibadah dan manfaat diakhir kehidupan masing-masing. Terlepas dari segala profesi; oseanografer, dokter, penulis, bahkan tukang sampah sekalipun. 

Ilmu tanpa tind…

Ilmu tanpa tindakan adalah nol.
Pengetahuan tanpa tindakan adalah mati!

Seorang danlap yang juga kakak nim

Those people will fulfill my life fo the next three years. Or more.

1280834_4811623583621_1312709792_n

531920_4794804603157_593280986_n

Those people will fulfill my life fo the next three years. Or more.

“Oseano grafi 2012 adalah bagian dari keluarga mahasiswa institut teknologi bandung yang memiliki ciri pribadi mandiri, semangat, optimis, dan waspada. Namun kami tak sempurna layaknya kapal yang terus maju ditengah ganasnya ombak, kadang oleng namun tetap tegar. Bersama kami bisa!” -Isi buku angkatan kami.

Barunaaaa, let me love ya :’

Lagi Pusing

Aku kehilanganmu ditengah penatnya kehidupan kampus.

Kaderisasi dimana-mana, adaptasi dengan jurusan baru, mengejar segala ketertinggalan, tugas-tugas dan quiz, hingga praktikum dimalam hari. Rutinitas yang melelahkan membosankan. Tapi rasanya tak perlu aku jadikan status twitter, toh sangat banyak orang telah mewakilkan perasaan itu disana. Tapi apa pentingnya juga sih. Belum lagi kehidupan diperkotaan yang menjemukan. Kemacetan, orang tak bertanggung jawab, dan kejahatan, membuat semuanya semakin menyebalkan. Apalagi kalau kamu pernah jadi korban.

Inilah kehidupan, kawan. Tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali menikmati setiap tekanannya, dan melebarkan hati untuk bisa tetap tersenyum. Lihatlah, masih banyak bagian dari dunia ini yang patut disyukuri dan dinikmati keindahannya. Bahkan tugas-mumet-bertumpuk mu itu pun akan menjadi sesuatu yang kamu syukuri kelak..

Nikmati saja, sebelum semuanya dicabut. Sebelum kamu menyadari bahwa banyak orang diluar sana yang ingin berada diposisimu, dan menikmati indahnya sibuk kuliah sepertimu.

Semua hal itu butuh proses, termasuk kesuksesanmu 🙂

The Power of Differences

Yang menyatukan seorang dengan seseorang lainnya itu bukan karena kesamaan yang mereka miliki, tapi perbedaan. Karena jika mereka terlalu banyak memiliki kesamaan, maka mereka akan stuck di satu titik, tak bisa saling membantu, dan terbelit dalam masalah yang sama. Mereka bisa berjalan beriringan, tapi tidak bisa bekerja sama.

Itulah yang membuat perbedaan menjadi indah.

Perbedaan membuat manusia saling melengkapi satu sama lain. Saling menyemangati jika ada yang terjatuh. Saling membantu jika salah seorang terjerat dalam suatu masalah. Mereka berjalan beriringan, meskipun mungkin agak lama, tapi mereka bisa bekerjasama dengan baik.

Itulah indahnya perbedaan. Maka jangan dulu terlalu senang jika kalian memiliki banyak kesamaan.