Svarga 1

 Di sebuah galaksi yang amat jauh disana, terdapat setitik debu. Setitik debu yang jika Anda melihatnya lebih dekat-dekat-dan lebih dekat lagi, ternyata titik debu itu adalah sebuah planet yang sangat indah. Mungkin inilah yang disebut-sebut dengan surga. Di planet ini Anda bisa mendapatkan semua yang Anda inginkan. Sungguh menakjubkan! Ah iya, aku datang dari planet Dysnomia. Planetku tidak seindah planet ini. Karena aku yang menemukan planet bak surga ini, maka aku pula yang berhak menamainya. Aku akan menamakannya ‘Svarga’. Sekarang, aku sekarang sedang bermalas-malasan dibawah sebuah makhluk yang kerjaannya hanya diam saja. Makhluk yang tinggi, dikepalanya terdapat banyak tangan-tangan, dan di setiap tangan ada sebuah benda sebesar kepala yang berwarna hijau dan polos. Makhluk ini, aku ajak berkenalan ia tetap diam. Bahkan aku bingung mana wajahnya. Aku menghiraukannya dan memutuskan menikmati pemandangan Svarga ini. Aku melihat benda berkilauan amat jauh disana. Sepertinya itu cahaya dari benda langit lain. Keren namun cahaya kuningnya begitu menyilaukan, dan cukup panas.

Aku terlelap. Kelelahan atas perjalanan tiga bulan melintasi galaksi-galaksi ini. Sebenarnya, alasanku pergi dari planet Dysnomia-ku ini sangat sederhana. Jenuh. Penat. Aku muak dengan makhluk-makhluk disana. Dengan suasana Dysnomia yang suram. Maka, dengan pesawat buatanku ini aku pergi. Aku bahkan tak tahu apa tujuan dari perjalanan ini. Untung saja ada Svarga. Jika tidak, mungkin aku masih melakukan perjalanan ke galaksi lain yang aku tidak pernah tahu bahayanya seperti apa. Untuk bisa sampai kesini saja, aku harus melewati beberapa hujan meteor, sebuah komet hampir menabrak pesawatku, dan aku hampir tertarik black hole. Menyebalkan sekali. Dan menegangkan.

Aku membuka mataku perlahan. Hey, kenapa tubuhku tidur diatas sesuatu yang empuk? Samar-samar aku melihat makhluk-makhluk yang sedang berteriak keras. Mereka mengucapkan sesuatu yang aku tidak mengerti. Makhluk-makhluk itu bentuknya sama sepertiku, hanya saja bola matanya hitam dan cokelat. Sementara bola mataku berwarna-warni dan membentuk suatu pola. Kalau mataku, membentuk kotak-kotak kecil yang didalam kotak itu ada segitiga-segitiga. Seketika aku sedih, karena ternyata Svarga ini berpenghuni. Ada kemungkinan aku akan segera diusir. Atau mungkin dibunuh? Entahlah. Tapi teriakan mereka cukup membuatku ketakutan.

——tobecontinue———

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s