The Grey Truth?

Kebenaran sudah mulai abu-abu. Tertutupi kepulan asap hitam yang entah datang dari mana. Eh, tidak, kebenaran akan tetap putih, hanya saja sekarang terlihat abu-abu. Seketika sudah tak ada lagi yang patut dipercaya didunia ini. Bahkan pembawa acara berita sekalipun, berita-berita dikoran sekalipun, dan sinetron-sinetron yang katanya ‘mengajarkan’ agama pun sudah pantas diragukan kebenaran ajaran yang ditampilkannya. Berbagai media, baik media sosial, media televisi, majalah, dan internet, semua menyuguhkan begitu banyak informasi yang kadang bisa membuat seseorang menelan mentah-mentah semua berita, gosip, dan kabar yang ia dapatkan. Tanpa tahu itu kebenaran atau hanya fitnah belaka.

Berbeda 180 derajat dengan apa yang terjadi di era Orde Baru. Dimana majalah-majalah dan koran-koran selalu ditunggu oleh berbagai lapisan masyarakat karena kebenaran dan ‘kegigihan’ media tersebut dalam mengupas suatu informasi dan berita hingga masalahnya selesai. Bukan seperti sekarang dimana berita naiknya harga bawang putih dan bawang merah segera hilang setelah muncul cerita Dul, anak 13 tahun yang hebat dan sudah menewaskan 6 orang. Membuat masyarakat menjadi acuh atas apa yang terjadi dan apa masalah yang seharusnya diselesaikan di negeri ini. Sekarang siapa lagi yang peduli kasus lapindo yang belum juga beres? Siapa juga yang masih peduli dengan kasus Century? Rasanya sekarang lebih banyak yang peduli kisah Vicky dan Zaskia daripada masalah-masalah yang lebih serius dan menyangkut kehidupan masyarakat luas.

media-1

 

source: http://www.neuroanthropology.net

                Apa-apa yang diberitakan negatif oleh media, akan dibenci masyarakat. Apa yang dipuja puji oleh media, ikut juga dielu-elukan oleh masyarakat. Contohnya saja FPI, banyak yang menghakiminya dan bahkan membencinya setengah mati karena banyak media memberitakan hal-hal buruk tentang FPI. Tapi siapa sih yang bisa menjamin kalau berita itu benar. Adakah yang bisa melihat hal-hal positif yang dilakukan FPI? Ingat, siapa yang memegang informasi, dialah yang akan menang dan menguasai dunia. Eh, bukan berarti aku ngebela FPI ya, cuma berpendapat aja.

Contoh lainnya adalah Densus 88 yang sudah jelas sering sekali salah nembak dan menimbulkan banyak korban tak berdosa difitnah dan kehilangan nyawa. Densus 88 tak pernah dibenci masyarakat sebenci mereka pada FPI. Aneh sekali dunia ini. Ariel sekalipun yang jelas-jelas berbuat pornografi masih memiliki banyak penggemar, lain halnya dengan Aa Gym yang berpoligami dan itu menimbulkan kritik pedas masyarakat yang berdatangan tanpa henti. Apakah sekarang seks diluar nikah (padahal sudah beristri) lebih baik daripada poligami? Padahal jelas-jelas poligami itu bentuk tanggung jawab, dan selingkuh adalah bentuk kepengecutan. Dan tentu saja dosa besar, jika kamu Islam. Sekali lagi aku katakan, media itu milik dia yang menguasai dunia.

Begitulah zaman sekarang. Tidak tahu lagi mana kebenaran dan mana kebohongan. Semua bercampur jadi satu, dan mereka menyuapi semuanya ke berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Maka sebelum ikut-ikutan media membenci seseorang, atau menyukai seseorang karena ‘berita’nya, kita harus memiliki banyak ilmu dan wawasan agar bisa memilah milih apa yang mereka suguhkan. Jangan langsung dimakan, semua itu racun. Bisa membuatmu mati.

000cf1bdd03f093091cb0e

 

source: http://www.china.org.cn

 

Terakhir, aku katakan lagi:

Media itu milik dia yang menang; yang menguasai dunia.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s