Day 9 (atau 10?)

Agak membingungkan juga sih sebenernya, ini tuh diksar ke sembilan atau sepuluh, ya? Soalnya seperhitungan aku ini adalah diksar ke 9 tapi kata danlap ini adalah diksar ke sepuluh. Oke, ga penting juga dibahas lama-lama.

Jadi sore itu kami disuruh bawa spek lapangan lagi 🙂 yang bisa menuhin angkot 🙂 yang kalo packing ribet pisun 🙂

Asik banget kan, rasanya kaya tinggal naek Gunung Ranukumbolo dan syuting film 5 cm sambil liat pemandangan ijo-ijo yang indah dan menyegarkan bersama kawan lama yang menyenangkan. Tapi ceritanya akan berbeda kalau di siangnya harus masuk mata kuliah ter-abstrak; mekanika. Rasanya akan berubah jadi kayak mendaki gunung Everest yang tiada ujung dan pemandangannya salju-salju dan batuan super licin dengan suhu yang membuat tubuh membeku. Ah, iya, dengan spek berat di punggungmu.

Pagi itu aku memutuskan untuk naek ojek untuk mencapai puncak everest tersebut.

Iya, oke, maksudnya aku berangkat ke kampus naek ojek gitu. Tapi sebelumnya mampir dulu ke kosan temen buat naro spek yang kaya mau kemping itu. Tapi dijalan malah dimarahin si abang ojeknya gara-gara salah jalan :’) Udah ke kosan temen, kami malah ngobrol, dan rada rariweh sedikit. Tapi akhirnya kami pergi ke kampus sambil ngos-ngosan karena takut telat ngumpulin laporan.

Udah gitu kita praktikum komputasi, lalu istirahat, lalu masuk ke…….mekanika. Saat itu aku ngantuk sekali dan sering curi-curi tidur. Kenapa mesti curi-curi? Karena beberapa waktu lalu pernah dengan polosnya aku tidur, dan akhirnya malah ditunjuk sama dosennya.

Duh, ini curhat apa cerita diksar sih jadi bingung juga.

Pukul 16.00 kami sudah stand by di GKU Timur sambil cek spek, makan, latian pbb, dan ngerjain tugas-tugas osjur. Ternyata spek sampo ketinggalan. Akhirnya nitip temen beli di Istek (sip, gausah diceritain harusnya).

Udah gitu, jam 18.30 kami dijemput sama jendral keamanan untuk menuju selasar labtek delapan. Disitu kami ngobrol sama kaka taplok, tapi aku ngeliat hari ini banyak temen-temen yang lagi sakit dan nggak enak badan. Jadi, suasana saat itu malah membosankan karena banyak yang tidur. Setelah itu, kami sholat dan dimobilisasi lagi ke tempat danlap 🙂

Hal-hal berjalan seperti ‘biasa’; rada sedikit seperti robot (eh, sedikit apa banyak ya?). Tapi bedanya, setelah sesi konsekuensi (baca: pus-up) kami disuruh tutup mata pake kain biru yang kami punya. Asa hawa-hawa pelan***** gini hehehehe. Padahal hal yang disensor itu tadi ngga terjadi dan kita dibawa per lima orang ke suatu tempat yang berbeda untuk nantinya ada semacam diskusi dengan massa himpunan.

Kami diskusi tentang komitmen.

Komitmen ini menurut aku hal yang cukup penting. Apalagi setelah melihat berbagai fakta, terutama di unit yang aku jalani. Keloyalan anggotanya kurang, jadi sering sekali ngorbanin orang-yang-selalu-ada dengan kerja ekstra yang harusnya akan ringan kalau dikerjain barengan. Oke deh ngga bullshit juga kadang aku juga nggak komitmen dengan unit-unit yang aku jalani. Kadang kegiatan unit dinomor dua atau tiga atau empat-kan diantara prioritas lainnya.

Eh naha jadi ngomongin unit.

Seorang jendral nanya, apa bukti real kamu mau komitmen kalau nanti masuk himpunan kami? (‘kalau’nya itu harus banget dimiringin guys). Aku yang bingung dan kurang wawasan hanya bisa bilang pengen jadi anggota kominfo yang bertanggung jawab. Sementara temen-temen ada yang pengen jadi kadiv, bahkan jadi danlap.

Ngga ada yang lebih besar? Tanya jendral itu lagi. Tapi aku bilang kalau aku masih ga punya gambaran tentang acara-acara di himpunan. Jadilah dia keliatan aga kesel tapi diem aja.

Abis itu, kami dituntun lagi ke GKU Barat dan setelah itu sesi danlap lagi tapi sama danlap yang beda dengan yang tadi. Entah kenapa aku ngerasa kalau di sesi danlap yang ini aku selalu aja kena. Ya gapapa, sih sebenernya.

Dan sedihnya ada empat orang diantara kami yang dirasa ‘belum’ ada kesungguhan yang besar untuk masuk himpunan. Disitu kamI ditanya mengenai kontribusi yang bisa menyelamatkan mereka. Tapiiii keempat teman kami ini hanya bru diingatkan aja, dan untuk melihat kontribusi mereka, akhirnya mereka jadi pj untuk acara pengenalan prodi ke tpb 🙂

Udah gitu, yah biasalah ya pus-up push-up ‘dikit’, lalu akhirnya kami pulang.

dadah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s