D;i;e

Ada hal yang menakutkan yang akan terjadi pada setiap manusia. Mungkin ‘menakutkan’ itu relatif. Tapi bagiku sekarang hal itu masih ‘menakutkan’. Hal ini tak bisa dihindari meskipun kamu berlindung kepada orang yang menyayangimu, kepada orang-orang hebat, jenius, bahkan pertolongan dari seluruh dunia sekalipun tak mampu menolongmu.

Kematian.

Usia muda dan tubuh sehat selalu membuat kita lalai akan satu hal ini. Merasa beumur masih lama, padahal siapa yang bisa menjamin akan bangun lagi esok hari? Dua hari yang lalu, ada sebuah kecelakaan maut di dekat rumah. Korbannya seorang wanita pengendara  motor. Ia tersenggol, lalu ada bus yang melindasnya. Tewas. Usianya mungkin masih muda. Tapi kematian begitu cepat menghampirinya.

/Sumpah aku sambil ketakutan nih ngetiknya./ Aku berharap Dia masih memberiku kesempatan untuk melaksanakan segala Amanah dari-Nya sepenuh hati dengan seluruh jiwa raga yang memang telah kujanjikan untuk selalu berada di jalanNya. Kumohon, biarkan aku memenuhi janjiku itu dulu. Janji yang satu itu saja, tidak lebih.

Kematian memang merupakan nasihat terbaik. Ia diingat bukan untuk ditakuti rasa sakitnya, rasa sedihnya karena meninggalkan orang tersayang, bukan juga untuk dihindari. Mengingat kematian seharusnya membuat diri ini lebih waspada lagi dalam melakukan segala tindakan-sekecil apapun. Lebih berhati-hati dalam segala perbuatan dan pembicaraan. Karena yang dapat menolong kita dari dahsyatnya sakaratul maut hanyalah amalan-amalan kita saja. Tidak lebih.

Hidup ini bagaikan grafik sinusoidal. Kadang naik, kadang turun. Aku harap kita-aku dan yang sedang membaca-akan berakhir saat kita berada di puncak tertinggi. Kata mereka itu bernama khusnul khotimah. Seseorang pernah berkata kepadaku bahwa akhir kehidupan seseorang itu biasanya merupakan aktivitas yang memang paling sering dilakukan oleh orang tersebut. Misalnya saja si A gemar mendengarkan musik. Maka bisa jadi akhir hidupnyapun sedang mendengarkan musik. Atau si B yang sering membaca Qur’an. Maka bisa jadi akhir hidupnya terjadi saat ia sedang membaca Qur’an.

Aku berharap, nanti-atau secepat mungkin, rasa ‘takut’ ini akan berubah menjadi rindu. Rindu bertemu denganNya.

large (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s