“Jika Perang Du…

“Jika Perang Dunia Ketiga adalah berjuang dengan senjata nuklir, yang keempat akan diperjuangkan dengan busur dan anak panah.” – Louis Lord Mountbatten

“Saya tidak tahu dengan apa senjata Perang Dunia Ketiga akan diperjuangkan, tetapi Perang Dunia Keempat akan diperjuangkan dengan kayu dan batu.” – Albert Einstein

Watch Your Words!

Mereka bilang, Mulutmu Harimaumu. Ada juga yang berkata, Lisan itu bagai pisau bermata dua.

Bicara tentang hal ini, memang membosankan. Seperti hal yang sudah terlalu sering didengar dan jadi malas sekali untuk membahasnya. Seperti kisah para nabi yang terlalu sering diceritakan saat kanak-kanak, membuat malas untuk mendengarnya lagi setelah dewasa.

Gosip, ghibah, fitnah, bicara hal yang kotor, jorok, berbicara hal yang menyakiti orang lain, semuanya melelahkan. Membuatmu akan kelelahan, maksudku.

Yang paling penting dari ini semua bukan hanya seberapa tajam lisanmu akan melukai dirimu sendiri, tapi juga seberapa tajam ia dapat melukai orang lain.

yeah, some people still don’t know how to use their words wisely.

b00k

Surga dunia adalah saat kamu bisa tiduran di sofa, menikmati waktu luang dengan tenggelam dalam dunia luar yang menakjubkan, sambil sesekali menyesap green tea. Traveling around the world without stepping your foot on it. Cocok buat para manusia yang sedikit mager, atau manusia yang mau-ga-mau harus mager seperti saya karena ga ada temen to travel, atau juga orang yang emang belum ada kesempatan untuk perpetualang ditempat-tempat di dunia, atau bisa saja manusia yang mengalami ketiga hal ini.

Reading books. Jangan dulu protes, maksdunya bukan buku Halliday bukan buku Atam P Arya, bukan juga buku-buku berat yang kamu akan bilang aku ambis saat aku memegangnya. ha.ha. Baca buku merupakan caraku untuk mengetahui dunia luar, juga mengetahui imajinasi manusia-manusia.

Sejak kelas 2 SD –aku masih sangat ingat– aku suka novel detektif enid bylton. Yang semakin lama semakin tua dewasa selera novelku semakin berganti dan beragam. Alhamdulilahnya adalah adik-adik pun memiliki kesenangan yang sama, jadi gak perlu susah-susah nabung untuk beli novels, tinggal nunggu aja buku apa yang selanjutnya akan dibeli oleh Gina (mysista).

Namun sejak kuliah, mulai dari masa TPB hingga sekarang, waktu luang makin dikit, ditambah dengan aku yang emang sulit menej waktu, ditambah lagi dengan ketinggalan kengertian dalam akademik, membuat aku ga pernah meluangkan waktu untuk baca satu buku pun. Satu buku pun aku ga pernah baca. Dan Gina udah beli novel-novel sangat banyak, yang membuat aku semakin sesak saat ngerjain tugas (karena aku merasa mereka semua–novel-novel itu– memanggilku).

But holiday is coming! Dan aku langsung mengisinya dengan baca sebuah buku berjudul A Book With No Name yang udah lama pengen banget dibaca.

Entah lebay entah apa, tapi setelah selesei baca, aku ngerasa buku itu sering kebawa mimpi dan suka menimbulkan imajinasi yang agak gila. Semacam imajinasi yang akan timbul saat kamu selesai nonton Final Destination.

Buku itu nyeritain tentang suatu kota dimana kota itu adalah Ibukotanya para mayat hidup, vampire. Singkat kata, hidup di kota itu tuh bener-bener mendebarkan jiwa karena banyak berkeliaran orang-orang jahat yang ga akan segan-segan menembakkan pelurunya ke kepalamu, atau menggerek lehermu dengan pisaunya, meskipun kamu orang yang gak tau apa-apa dan ga punya masalah dengan siapapun. Membuatku sedikit bersyukur hidup di zaman ini dan di tempat ini.

Satu hal lagi, ceritanya tak terduga. Orang yang pada awalnya dianggap jahat, ternyata merupakan pahlawan. Dan orang yang dianggap pahlawan oleh semua orang, ternyata merupakan Dewa Kegelapan yang sesungguhnya.

Ga jauh beda lah ya sama kehidupan nyata. Saat seluruh dunia menyatakan si A adalah penjahat kelas dunia, bisa jadi sebenarnya dia hanya ingin enyelamatkan dunia ini dari kegelapan yang sesungguhnya. Kegelapan yang selama ini terlalu banyak menipu menolong umat manusia, sehingga kegelapan itu dianggap sebagai tempat terindah.

Sudahlah, kau anggap aku ngalor ngidul? Atau mungkin kamu beranggapan aku terpengaruh buku itu? Terserah saja. Bisa jadi iya, bisa juga tidak.

War

War

It’s not about love, galau, or sumthin else like that.

It’s about this world.
Are you happy now?
Wake up! It’s not the right time to feel that happiness.
We’re in a war.
War.
The never ending war, since Adam and Eve was expelled from Heaven.

Jenuh

Mungkin ini tulisan paling…………ga bermanfaat

Tengah malam ini, kembali aku menengok masa lalu. Entah kenapa, rasanya begitu jauh dan terlalu berbalik dengan kehidupan sekrang yang porsi seriusnya lebih sangat banyak bertambah. Bahasanya jelek ya? Maaf.

Mungkin ini yang membuat Im not living this life now. Karena terlalu sering melihat kesenangan di masa lalu yang gak mungkin bakal dicapai lagi. Tersandung, jatuh, terlalu cuek, tidak peduli, terlalu dibudakkan oleh rutinitas. Terlalu banyak foto-foto di SMA yang membuatku bertanya-tanya, jadi dulu aku sebahagia itu ya? Pernah sesenang itu ya? Hft. Malah jadi gak bersyukur kan.

Love. Love. Love.Love.

I love kehidupanku yang sekarang. Harus. Mungkin aku hanya membutuhkan sedikit tertawa setiap harinya, sedikit, tidak perlu berlebihan seperti dulu lagi. Dunia mulai semakin kejam, dan tak ada lagi banyak waktu untuk tertawa terlalu banyak. Senyuman palsu harus dibuang, demi ketulusan.

Happy. Happy. Happy. Be Happy, Shofia.

Sepertinya plegmatis dan melankolis bukan perpaduan yang bagus.

15Desember oleh seseorang yang sedang ditunggu 8 slide pendos.

Kadang kau harus meneladani matahari. Ia cinta pada bumi; tapi ia mengerti; mendekat pada sang kekasih justru membinasakan.

(Ust. Salim A. Fillah)

406400_466736586682772_1241928090_n_thumb

I’ve Been Slapped

Beberapa menit yang lalu ada suatu hal biasa yang entah kenapa di hari ini begitu menyentuh hati. Aku baru saja membelikan adikku sebuah makanan bernama putu. Itu loh, yang suaranya nnnnnggggggggggggggggg. Terus aku tanya berapa harganya, kata penjualnya itu harganya lima ratusan. Hm, cukup murah kan. Lalu dibawah rintik hujan (euy asa puisi) aku mengamati penjual itu yang sedang cekatan membuat adonan dan memanaskannya, lalu mengeluarkannya, lalu buat adonan lagi, da begitu seterusnya.

Hari ini hujan. Aku memikirkan bagaimana susahnya menjadi penjual putu yang harus tetap mencari nafkah bagaimanapun cuacanya. Aku dengan segera membayangkan bagaimana kesalnya saat pulang kampus, cuaca hujan, dan sepatu kebasahan. Itu adalah hal yang bikin males dan bikin jelek mood. Aku pun mengamati sepatu penjual putu tersebut. Sepatu kets nya sudah usang, kebasahan, dengan celana yang kebasahan pula. Usia penjualnya sudah tidak muda lagi, kutebak mungkin ia sudah kepala lima atau enam. Pendengarannya pun sudah tak bagus lagi. Aku perlu mengucapkan beberapa kali baru ia mendengarnya. Kalau aku jadi penjual putu, mungkin aku akan dengan mudah menyerah. Berjalan jauh, dengan kekuatan fisik yang lemah, dengan kaki kedinginan karena sepatu yang basah, bukanlah perpaduan yang mudah untuk dijalani.

Bahkan sore tadi, dengan pilek yang tidak seberapa ini aku masih mengeluh karena tugas yang masih bertumpuk. Dan pak penjual putu berhasil membuatku amat sangat malu.

Bukan hanya penjual putu, tapi tadi siang saat aku pulang, aku melewati mesjid dan sebuah tempat wudhu. Aku melihat seseorang berwudhu dengan khusu dan setelah itu ia membasahi seluruh rambutnya. Aku awalnya berfikir, buat apa keramas diwaktu kaya gini, di tempat wudu pula. Tapi setelah jalan beberapa langkah aku melihat gerobak berisi hasil ‘mulung’. Dan ternyata orang tadi merupakan seorang pemulung. Yang sholatnya tepat waktu. Yang wudunya bener-bener khusu dan detail. Bahkan kadang diri ini yang kadang ngerasa sok sibuk nggak terlalu mendetailkan wudhu. Sholat masih tidak tepat waktu dengan alasan masih-ngerjain-ini.

Ah, masih banyak hal-hal miris yang terjadi diluar sana. Kadang membuat diri ini menjadi sangat malu. Malu karena tidak ada syukur-syukurnya sama sekali.

Semoga Allah SWT merahmati penjual putu dan pemulung dan semua orang yang bernasib seperti mereka

.tumblr_m5i8k9JGQW1ryv631o1_1280

Saat semua orang berkata oh jadi sekarang kamu udah berubah ya jadi kayak gini. Mungkin merekalah yang baru mengenal dirimu yang sebenarnya sekarang.

large (8)