I’ve Been Slapped

Beberapa menit yang lalu ada suatu hal biasa yang entah kenapa di hari ini begitu menyentuh hati. Aku baru saja membelikan adikku sebuah makanan bernama putu. Itu loh, yang suaranya nnnnnggggggggggggggggg. Terus aku tanya berapa harganya, kata penjualnya itu harganya lima ratusan. Hm, cukup murah kan. Lalu dibawah rintik hujan (euy asa puisi) aku mengamati penjual itu yang sedang cekatan membuat adonan dan memanaskannya, lalu mengeluarkannya, lalu buat adonan lagi, da begitu seterusnya.

Hari ini hujan. Aku memikirkan bagaimana susahnya menjadi penjual putu yang harus tetap mencari nafkah bagaimanapun cuacanya. Aku dengan segera membayangkan bagaimana kesalnya saat pulang kampus, cuaca hujan, dan sepatu kebasahan. Itu adalah hal yang bikin males dan bikin jelek mood. Aku pun mengamati sepatu penjual putu tersebut. Sepatu kets nya sudah usang, kebasahan, dengan celana yang kebasahan pula. Usia penjualnya sudah tidak muda lagi, kutebak mungkin ia sudah kepala lima atau enam. Pendengarannya pun sudah tak bagus lagi. Aku perlu mengucapkan beberapa kali baru ia mendengarnya. Kalau aku jadi penjual putu, mungkin aku akan dengan mudah menyerah. Berjalan jauh, dengan kekuatan fisik yang lemah, dengan kaki kedinginan karena sepatu yang basah, bukanlah perpaduan yang mudah untuk dijalani.

Bahkan sore tadi, dengan pilek yang tidak seberapa ini aku masih mengeluh karena tugas yang masih bertumpuk. Dan pak penjual putu berhasil membuatku amat sangat malu.

Bukan hanya penjual putu, tapi tadi siang saat aku pulang, aku melewati mesjid dan sebuah tempat wudhu. Aku melihat seseorang berwudhu dengan khusu dan setelah itu ia membasahi seluruh rambutnya. Aku awalnya berfikir, buat apa keramas diwaktu kaya gini, di tempat wudu pula. Tapi setelah jalan beberapa langkah aku melihat gerobak berisi hasil ‘mulung’. Dan ternyata orang tadi merupakan seorang pemulung. Yang sholatnya tepat waktu. Yang wudunya bener-bener khusu dan detail. Bahkan kadang diri ini yang kadang ngerasa sok sibuk nggak terlalu mendetailkan wudhu. Sholat masih tidak tepat waktu dengan alasan masih-ngerjain-ini.

Ah, masih banyak hal-hal miris yang terjadi diluar sana. Kadang membuat diri ini menjadi sangat malu. Malu karena tidak ada syukur-syukurnya sama sekali.

Semoga Allah SWT merahmati penjual putu dan pemulung dan semua orang yang bernasib seperti mereka

.tumblr_m5i8k9JGQW1ryv631o1_1280

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s