b00k

Surga dunia adalah saat kamu bisa tiduran di sofa, menikmati waktu luang dengan tenggelam dalam dunia luar yang menakjubkan, sambil sesekali menyesap green tea. Traveling around the world without stepping your foot on it. Cocok buat para manusia yang sedikit mager, atau manusia yang mau-ga-mau harus mager seperti saya karena ga ada temen to travel, atau juga orang yang emang belum ada kesempatan untuk perpetualang ditempat-tempat di dunia, atau bisa saja manusia yang mengalami ketiga hal ini.

Reading books. Jangan dulu protes, maksdunya bukan buku Halliday bukan buku Atam P Arya, bukan juga buku-buku berat yang kamu akan bilang aku ambis saat aku memegangnya. ha.ha. Baca buku merupakan caraku untuk mengetahui dunia luar, juga mengetahui imajinasi manusia-manusia.

Sejak kelas 2 SD –aku masih sangat ingat– aku suka novel detektif enid bylton. Yang semakin lama semakin tua dewasa selera novelku semakin berganti dan beragam. Alhamdulilahnya adalah adik-adik pun memiliki kesenangan yang sama, jadi gak perlu susah-susah nabung untuk beli novels, tinggal nunggu aja buku apa yang selanjutnya akan dibeli oleh Gina (mysista).

Namun sejak kuliah, mulai dari masa TPB hingga sekarang, waktu luang makin dikit, ditambah dengan aku yang emang sulit menej waktu, ditambah lagi dengan ketinggalan kengertian dalam akademik, membuat aku ga pernah meluangkan waktu untuk baca satu buku pun. Satu buku pun aku ga pernah baca. Dan Gina udah beli novel-novel sangat banyak, yang membuat aku semakin sesak saat ngerjain tugas (karena aku merasa mereka semua–novel-novel itu– memanggilku).

But holiday is coming! Dan aku langsung mengisinya dengan baca sebuah buku berjudul A Book With No Name yang udah lama pengen banget dibaca.

Entah lebay entah apa, tapi setelah selesei baca, aku ngerasa buku itu sering kebawa mimpi dan suka menimbulkan imajinasi yang agak gila. Semacam imajinasi yang akan timbul saat kamu selesai nonton Final Destination.

Buku itu nyeritain tentang suatu kota dimana kota itu adalah Ibukotanya para mayat hidup, vampire. Singkat kata, hidup di kota itu tuh bener-bener mendebarkan jiwa karena banyak berkeliaran orang-orang jahat yang ga akan segan-segan menembakkan pelurunya ke kepalamu, atau menggerek lehermu dengan pisaunya, meskipun kamu orang yang gak tau apa-apa dan ga punya masalah dengan siapapun. Membuatku sedikit bersyukur hidup di zaman ini dan di tempat ini.

Satu hal lagi, ceritanya tak terduga. Orang yang pada awalnya dianggap jahat, ternyata merupakan pahlawan. Dan orang yang dianggap pahlawan oleh semua orang, ternyata merupakan Dewa Kegelapan yang sesungguhnya.

Ga jauh beda lah ya sama kehidupan nyata. Saat seluruh dunia menyatakan si A adalah penjahat kelas dunia, bisa jadi sebenarnya dia hanya ingin enyelamatkan dunia ini dari kegelapan yang sesungguhnya. Kegelapan yang selama ini terlalu banyak menipu menolong umat manusia, sehingga kegelapan itu dianggap sebagai tempat terindah.

Sudahlah, kau anggap aku ngalor ngidul? Atau mungkin kamu beranggapan aku terpengaruh buku itu? Terserah saja. Bisa jadi iya, bisa juga tidak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s