2014

Bukan, aku bukan mau mengucapkan selamat tahun baru. Toh, ucapan selamat untuk apa? Untuk kematian yang jaraknya semakin dekat? Untuk ratusan ribu uang yang orang-orang habiskan untuk merayakannya? Atau selamat untuk kehidupan dunia yang semakin merangkak menuju alam akhirat ini? What’s the point of saying happy new year–for me? I have no idea. Lagipula aku tidak tahu maknanya dengan pasti.

Al Isra:36. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Al Isra:38. Semua itu [855] kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu.

[855] Maksudnya: semua larangan yang tersebut pada ayat-ayat: 22, 23, 26, 29, 31, 32, 33, 34, 36, dan 37 surat ini.

 

Oh ya, satu alasan lagi, di tahun baru hijriahpun (yang aku tahu inti maknanya apa: memperingati hijrahnya Rasulullah dan mengingatkan kita agar senantiasa berhijrah juga) aku tidak mengucapkan happy new year, people. Jadi, aku merasa malu saja jika sekarang aku mengucapkan selamat tahun baru tapi di tahun baru hijriah aku malah merasa nothing happened.

Tapi, biasanya dalam menyambut tahun baru, kebanyakan orang membuat revolusi-revolusi hidup. Tidak salah, malah bagus menurutku, agar kita senantiasa menjadi orang yang selalu memperbaiki diri. Meskipun itu bisa dilakukan setiap saat sih, bukan hanya pas taun baru doang.

Ngomong-ngomong, malam tahun baru kemarin rasanya aku menjadi orang yang sangat sinis. Apalagi saat mendengar kebisingan dari terompet-terompet, kembang api, dan petasan-petasan yang cukup memekakkan telinga. Rasanya menyebalkan, apalagi kalau kamarmu ada didekat jalanan. 

Aku dua tahun yang lalu, di tanggal yang sama pada pukul 00.00 sedang mengamati langit Lembang dan takjub akan kembang api-kembang api yang keren itu. Tapi aku tidur larut–tentu. Dan aku shalat subuh pukul 07.00……………gara-gara tahun baru. Lalu aku tak mau lagi bangun hanya gara-gara nunggu pukul 00.00 untuk mengucapkan happy new year atau hanya untuk melihat kilauan kembang api saja.

Yang pasti, di tahun 2014 ini, aku sudah berkepala dua. Yes, some of you might call me old. Bukan salah bunda mengandung kan kalau umurku sudah sebesar ini? Semoga saja kedewasaanku tidak kalah dengan umur yang sudah tidak bisa dikatakan remaja ini.

Oke, waktunya tidur. Conclusionnya ada dikepalamu, ya?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s