Astaghfirullahaladzim.

Seseorang pernah bercerita padaku tentang apa yang mereka bilang perasaan. Perasaan aneh dan berbeda yang membuatmu mengistimewakan seseorang daripada yang lain. Katanya perasaan itu seperti hujan dan anggur.

Seperti hujan, karena rasa itu adalah berkah. Membawa kesuburan bagi banyak hal, menumbuh suburkan tanaman, menyegarkan, dan meneduhkan. Membuatmu tenang, dan dapat melepas kepenatan hidupmu. Tapi ada kalanya saat kau memperlakukannya dengan salah dan seenak hati maka ia akan menjadi musibah besar yang bahkan bisa merenggut nyawamu. Ia bisa menjelma menjadi longsor, banjir, bahkan badai. Begitupun perasaan, jika kau menodainya dengan yang tidak semestinya, maka perasaan itu bisa saja membunuhmu.

Lalu, perasaan itupun seperti anggur. Anggur merupakan buah yang menyegarkan dan menyehatkan. Itu jika kau memakannya dengan alamiah. Tapi kalau kau diamkan anggur itu dan kau melakukan hal-hal berlebihan terhadapnya seperti fermentasi, maka ia akan menjadi minuman haram yang memabukkan, dan tidak menyehatkan lagi.

Maka, biarkanlah hujan itu turun memabasahi halaman rumah kita, kebun-kebun tetangga, dan membasahi penatnya jalanan perkotaan. Jangan sampai hujan-hujanan. Jangan juga berlebihan dan sok-pintar untuk berbuat sesuatu kepadanya.

Biarlah hujan turun dengan sewajarnya. Nikmati anggur itu seperti layaknya anggur; bukan minuman keras mahal namun haram.

 

(sebenarnya aku takut bahwa dalam diamku ini ternyata aku diam-diam menggali lubang agar air hujan bisa masuk kerumahku. Jangan, pi.)

Ampuni.

Kepada siapa lagi aku bisa memohon ampun kecuali pada-Nya. 

Aku ingin memohon ampun atas diri yang terlalu terbawa dunia. Terbawa pemikiran-pemikiran semacam; hidup sukses adalah kamu lulus, kerjaan mahal atau lanjut kuliah diluar, keluarga bahagia dan kaya, bayarin ortu dimasa tuanya, dan punya suami keren juga anak lucu. 

Saat pemikiranku sebatas itu saja, maka aku dengan mudah melakukan apapun demi nilai bagus (oh man, kayanya bagi beberapa mahasiswa udah ga jaman juga sih terlalu mendewakan nilai). Lalu jika pemikiranku kembali ke kalimat miring tadi, maka aku akan menempatkan akademik sebagai urutan nomor satu yang harus dicapai dalam hidup–melewatkan kebutuhan setelah mati. Ya, inilah yang sering aku lupakan. Bahwa setelah mati, aku pasti akan memiliki kebutuhan terhadap banyak hal. Kematian, bisa saja datang besok kan? Sementara kuliah, aku masih punya waktu 3-4 tahun lagi, kan?

D kehidupanku setelah mati pasti aku butuh teman; padahal temanku hanyalah amalan. Kalau aku membuat banyak amal buruk, maka temanku nanti akan buruk. Kebutuhan kedua adalah tempat; luas dan terang. Dimana cara mencarinya adalah dengan membaca dan mengamalkan Qur’an. Tapi sekarang, aku masih sering melewatkan banyak hari tanpa Qur’an dengan dalih sibuk kuliah. Dan kebutuhan terpenting dikehidupan setelah mati adalah keamanan. Aman dari berbagai siksa. Siksa yang bisa muncul karena kesalahan apapun; bahkan salah dalam istinja sekalipun. Konon, Rasulullah pernah mendengar seseorang sedang disiksa dalam kubur hanya karena ia tidak bersih dalam beristinja. :”””””( apalagi hal-hal lain yang sudah jelas dan tau bahwa itu adalah dosa.

Huft, sudahlah. Aku hanya ingin mengingatkan diri sendiri. Hidup itu bukan hanya kuliah dan mencari nilai demi mendapat pekerjaan kaya raya. Lebih dari itu, aku harus mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan untuk kehidupan setelah mati.

Mungkin kau bisa mati setelah membaca ini, bisa juga besok. Bisa juga besoknya lagi. Siapa yang tahu?

 

World University Rankings – Earth & Marine Sciences

1=
United States
89.00
1=
United States
89.00
3
United States
88.70
4
United Kingdom
88.00
5
United States
87.50
6
United Kingdom
84.80
7
United States
84.60
8
United States
84.10
9
United States
82.50
10
Switzerland
81.80
11
United States
81.60
12
United States
81.50
13
Australia
80.30
14
United States
80.20
15
United States
79.80
16
United Kingdom
79.70
17
United States
79.10
18
Japan
78.10
19
Canada
77.70
20
Canada
77.30
21
United Kingdom
77.10
22
United States
76.40
23
United Kingdom
76.30
24
United States
76.20
25
United States
76.00
26
United States
75.70
27
United States
75.50
28
United States
74.60
29
United Kingdom
74.50
30
United Kingdom
73.90
31
United States
73.40
32
United Kingdom
73.10
33
Australia
71.70
34
Japan
71.30
35
United States
71.20
36=
Japan
70.90
36=
Australia
70.90
38
United Kingdom
70.80
39
United States
70.70
40=
Japan
70.60
40=
Japan
70.60
42
United States
70.10
43=
United States
69.80
43=
United States
69.80
45
France
69.50
46
Netherlands
69.10
47
United States
68.90
48
United States
68.50
49=
Taiwan
67.90
49=
Australia
67.90
49=
Mexico
67.90
51-100
United Kingdom

Source: http://www.topuniversities.com/university-rankings/university-subject-rankings/2013/earth-and-marine-sciences

Hope one day I’ll be study in one of those universities.

Kemarin, tak ada hal yang lebih mengharukan daripada seorang anak SMA random datang ke stand oseanografi dan mengaku membaca wordpress ini. Akhirnya aku menemukan suatu alasan untuk hidup dan bersemangat lagi :'”””) 

iya, lebay pisun.

Mencari kebahagiaan itu hal yang serius loh.

[kata seseorang saat  kumpul unit kemarin malam]

Katanya, kebahagiaan itu bisa dipaksakan. Bisa, kok. Akan ada suatu hari dimana kita bukan lagi melakukan apa yang kita cintai, tapi bagaimana untuk mencintai apa yang harus kita lakukan. Kadang terfikir lebih baik meninggalkan pekerjaan yang tidak kita sukai daripada menjalaninya dengan tidak ikhlas. Tapi tidak, justru keterpaksaan bisa jadi awal dari keikhlasan itu sendiri. Maka, akan kucoba untuk bertahan meski (masih) belum dari hati. Dalam hal apapun.

If love was a bird
Then we wouldn’t have wings
If love was a sky
We’d be blue
If love was a choir
You and I could never sing
Cause love isn’t for me and you

If love was an Oscar
You and I could never win
Cause we can never act out our parts
If love is the Bible
Then we are lost in sin
Because its not in our hearts

So why don’t you go your way
And I’ll go mine
Live your life, and I’ll live mine
Baby you’ll do well, and I’ll be fine
Cause we’re better off, separated

If love was a fire
Then we have lost the spark
Love never felt so cold
If love was a light
Then we’re lost in the dark
Left with no one to hold

If love was a sport
We’re not on the same team
You and I are destined to lose
If love was an ocean
Then we are just a stream
Cause love isn’t for me and you

So why don’t you go your way
And I’ll go mine
Live your life, and I’ll live mine
Baby you’ll do well, and I’ll be fine
Cause we’re better off, separated

Girl I know we had some good times
It’s sad but now we gotta say goodbye
Girl you know I love you, I can’t deny
I can’t say we didn’t try to make it work for you and I
I know it hurts so much but it’s best for us
Somewhere along this windy road we lost the trust
So I’ll walk away so you don’t have to see me cry
It’s killing me so, why don’t you go

So why don’t you go your way
And I’ll go mine
Live your life, and I’ll live mine
Baby you’ll do well, and I’ll be fine
Cause we’re better off, separated

Usher-Separated

Good Thing about (not)Using Glasses.

Kadang dunia terlihat lebih indah tanpa kacamata diwajahmu. Membiarkan semuanya blur menjadi satu. Tak tahu siapa orang yang ada didepanmu atau disampingmu. Kadang dunia terlihat lebih sejuk tanpa kacamata diwajahmu, tanpa perlu memperhatikan segala detail yang memusingkan. Tanpa perlu tahu siapa yang peduli atau justru mengabaikanmu. Tanpa kedua lensa itu, rasanya dunia jadi lebih bersahabat.

Dan memang begitulah caraku bersahabat dengan dunia jika angan dirasa kosong dan harapan terbang membumbung-entah kembali.

 

oh iya, tapi ada satu hal menyedihkan saat melihat dunia dalam blur: selalu salah nyapa orang dan selalu sombong saat ada yang menyapa, karena aku tak bisa melihatnya.

Mum <3

This day I and some HMO friends went to a Panti Jompo at Lengkong. It’s name is Budi Istri. This is the very 1st time for me to visit panti jompo. A lil bit nervous, because I never interacted with grandmas since 2003 (both my grandma were died) and have no idea what to talk about with…emm adult people. Ah! This ‘grandmas’ word means nenek-nenek but not my real grand mother.

At the first time we entered the Panti, stupid thing happened. I and two of my friends sat with 8 grandma. It was like ‘krik krik krik’ and we three only lookin at each other, didn’t know what to say. Grandmas lookin so happy but they keep silent glancing at us. Their eyes like ‘come, come, sit beside me, i’ll tell you stories of my life’. Ah, I almost forget to tell you that all grandmas were wearing the same pink clothes, and some of them wearing make up. They did it only for us, to welcoming us. Aaaa it made us feel so special.:’3

Then, I tried to be relax. I stand up, walked for 3 steps, and murmured ‘may I have a talk with you?‘ I glanced to some grandma. ‘Aaaaa sure! come! sit here!‘ They was so happy, I sat between two grandma with 3 grandma in front of our seat. I remembered what Kak Fuad (as kadiv pengmas) ordered to us; to ask about their young live, and the reasons why they’re here. So, here are my conclusion after talking with em:

1. The reason why they decided to live at panti jompo due to they felt uncomfortable at their house. They felt alone, their child is success but too busy to take care of their mum. Grandmas also worried if sometimes bad things happen to them when they’re alone at their house, e.g: sick, fall down, or villain. But, one of them-the-oldest-grandmas is there because she was expelled from her house by her grandson 😦

2. They’re smart, funny, and up to date. They knew about Sinabung Mt. which had eruption. One of them teach us how to speak in Belanda. One of them loves poem; she has some poem’s album and she likes to read it for us (it can makin us cryin). One of them is so up to date that she always asked us to taking some pic of her with ‘gaul’ poses like ‘peace’ ‘metal’ etc. Can’t help laughing!

3. Panti Jompo is place that made them feel happier than when they’re in their house. The reasons are because they didn’t feel alone anymore, they can shared all the things they wanted to tell to their (old) friends (they said that young people won’t understand them even their child or their grandchild).

4. Their son/daughter always visit them once a month. But I asked, don’t you miss them by living without them anymore? She nodded and smile. I wonder why every time my son visit me, he always alone without his child or wife. I also miss them all.  Aa hiks hiks.

5. Grandmas happy with their son’s successful. They never told me that they hate their child’s attitude which ignoring their mum. Believe me, I wanted to live here not because of my child. But it’s my willingness. They’re so kind that always visit me even only once a month–emh no,sometimes once two month. Omg. Mom’s love is never ending even how much evil their child’s attitude to them. (?)

6. Everytime I sat beside one of grandmas, they held my hand, treat me like I am their grandchild. They loves shared everthing about their young life. One of them told me stories when she was at colonialism era by Japan. Once she stops, I look at her eyes with excitement and tell her ‘tell me again everything!!’ It feels like I am a spongebob in one of his episode when he indulged to his grandmom. Oooo this makin me miss my real grand ma :/

At 12.00 pm, we had to go back. Time to say goodbye with grandmas. They look so sad and disappointed. Why don’t you all stay here till evening? Said them.

This Panti Jompo really gave me some lessons; the most important thing for our parent is not only our successful but also our affection and love to them; always being there for them in their old time.