Astaghfirullahaladzim.

Seseorang pernah bercerita padaku tentang apa yang mereka bilang perasaan. Perasaan aneh dan berbeda yang membuatmu mengistimewakan seseorang daripada yang lain. Katanya perasaan itu seperti hujan dan anggur.

Seperti hujan, karena rasa itu adalah berkah. Membawa kesuburan bagi banyak hal, menumbuh suburkan tanaman, menyegarkan, dan meneduhkan. Membuatmu tenang, dan dapat melepas kepenatan hidupmu. Tapi ada kalanya saat kau memperlakukannya dengan salah dan seenak hati maka ia akan menjadi musibah besar yang bahkan bisa merenggut nyawamu. Ia bisa menjelma menjadi longsor, banjir, bahkan badai. Begitupun perasaan, jika kau menodainya dengan yang tidak semestinya, maka perasaan itu bisa saja membunuhmu.

Lalu, perasaan itupun seperti anggur. Anggur merupakan buah yang menyegarkan dan menyehatkan. Itu jika kau memakannya dengan alamiah. Tapi kalau kau diamkan anggur itu dan kau melakukan hal-hal berlebihan terhadapnya seperti fermentasi, maka ia akan menjadi minuman haram yang memabukkan, dan tidak menyehatkan lagi.

Maka, biarkanlah hujan itu turun memabasahi halaman rumah kita, kebun-kebun tetangga, dan membasahi penatnya jalanan perkotaan. Jangan sampai hujan-hujanan. Jangan juga berlebihan dan sok-pintar untuk berbuat sesuatu kepadanya.

Biarlah hujan turun dengan sewajarnya. Nikmati anggur itu seperti layaknya anggur; bukan minuman keras mahal namun haram.

 

(sebenarnya aku takut bahwa dalam diamku ini ternyata aku diam-diam menggali lubang agar air hujan bisa masuk kerumahku. Jangan, pi.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s