apakah sudah?

Gambar

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”.

Sudahkah menjadi orang beragama?

Karena meski KTPmu menuliskan jelas apa agamamu, itu sama sekali bukan bukti telah beragama dimata-Nya.

Ataukah kau menyimpan agama hanya di hati? Sebagai hal paling privasi dan sebagai rahasia dengan Tuhan sajakah?

Ayat diatas langsung menjawab:

menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Itulah ciri orang beragama.

Menegakan ajaran Tuhan, apakah bisa dengan hanya lewat hati saja? Dia telah memberi selurh jiwa raga dan karunia, tapi kita hanya membalasnya dengan hati saja?

Don’t Make It Complicated.

Tak perlulah kita berlelah-lelah mencari setitik cahaya jika kita memang berada dalam ruangan yang gelap, yang memang tak ada penerang, yang memang sudah di design orang jahat agar kita terbiasa dengan kegelapan. Tapi juga jangan tertipu, karena bisa jadi kita yang sudah lahir di tempat itu, terlanjur terbiasa dengan kegelapan, menganggap gelap adalah hal biasa, dan jadi tidak tahu apa itu cahaya.

Lalu semua orang sibuk memperdebatkan dimana titik terang sesungguhnya. Padahal, jika tetap berdiam disitu, ya tentu tidak akan ditemukan. Sudah kubilang, semuanya kan sudah di design untuk gelap.

Kenapa kita tidak membuka pintu saja, mencari cahaya diluar ruangan gelap terdesign ini dan berpindah tempat?

Secepatnya. Sebelum waktu kita habis. Yuk?

Sunday and Sister

Naira tiba-tiba datang padaku dan meminta mengajarinya mengetik. Lalu ia mengetik.

20140413-080400 PM.jpg

Mau tau dia ngetik apaan?

20140413-080437 PM.jpg

Twins (fiction)

Terlalu banyak kesamaan itu memusingkan.

aku bisa ini, kau juga bisa ini. Tak masalah sih, selama kita bekerja sama, dan memang selalu bekerja sama, kan? Tapi masalahnya, aku tak bisa itu, kau juga tak bisa itu. lalu kita hanya bisa diam dan saling mendorong satu sama lain untuk melakukannya. Dan yang terdorong itu selalu aku. Tak apa, asal itu untukmu. Hal seperti ini terus berulang. kemudian aku capek. kemudian aku malas. kemudian aku kesal. kemudian kita pusing sendiri. dan akhirnya kita membutuhkan perbedaan dan meninggalkan kesamaan ini.

lalu, selamat tinggal! Kita harus berjuang di jalan masing-masing!

:(

Menjadi fasik adalah hal yang paling sering menghantui diri. Fasik itu tahu mana benar dan salah tapi kadang menafikan. Dulu aku sering bertanya-tanya, mengapa Abu Jahal tahu Islam itu kebenaran tapi tidak mau mengikutinya?

Sekarang aku mengerti, karena jawabannya akan sama dengan pertanyaan: Kenapa kamu tahu sholat itu wajib tapi masih melalaikan? atau juga, kenapa kau tahu Al-Qur’an itu pedoman hidup tapi malah dipakai sebagai ‘penolak bala’ semata?

Karena percuma jika mengetahui ilmu-ilmu tanpa aplikasi.

Percuma, merasa kebahagiaan dengan bersama-Nya jika orang lain bahkan tak mengenal-Nya. Karena kebahagiaan itu wajib-sungguh wajib- untuk dibagi.

Ya Allah, beri kami kekuatan keluar dari zona nyaman ini.

Bendera Putih

Seandainya aku kembali ke masa alay lalu maka aku akan mengatakan bahwa hari ini aku merasakan apa yang namanya: males tingkat dewa.

Semua file-file tugas udah dibuka, buku-buku sok-sok an ditumpuk disamping sejak hari Sabtu kemaren, tapi……….belum ada satupun yang tersentuh. Jenuh sekali. Kalau saja ini adalah acara dunia lain, maka aku ingin sekali mengacungkan tangan ke kamera dan menyerah.

Gambar

Tahta

sori nih mumpung wikend jadi terlalu banyak menumpahkan things in my head in a day.

Bentar lagi kan pemilihan umum nih. Rasanya bingung pisan ya mau percaya milih yang mana. Ada salah satu partai yang mengusung nama Islam. Hmmmm sounds good. Tapi kemudian aku ingat salah satu cerita tentang Rasulullah SAW jaman dulu.

Ceritanya adalah, waktu itu Rasul sempat ditawarkan oleh para petinggi Mekkah tiga hal;

Harta, Tahta, Wanita,

Kalau saja benar Islam dapat digaungkan lewat cara pemerintahan, tentu Rasul akan memilih ‘Tahta’, kan? Karena dengan beliau menjadi pemimpin Mekkah-logikanya-beliau akan dengan mudah mempengaruhi banyak orang untuk menyebarkan Islam-nya. Tapi tidak, beliau justru menolak semuanya. Termasuk tahta. Beliau menolak menjadi petinggi Mekkah. Pasti dan sangat pasti ada banyak hikmah dibalik pilihannya menolak menjadi petinggi, dan tentunya berdasarkan perintah Allah SWT juga.

Bentar, Rasul itu siapa-mu sih? Uswatun hasanah kan, katamu? Suri teladan dan contoh hidup paling ideal?

Lalu kenapa tidak mengikuti cara Rasul dengan menolak ‘Tahta’?

Who’s better?

Semester lalu aku mengambil kelas agama, dan ada sebuah perdebatan yang aku masih ingat sampai sekarang.

Perdebatan ini mengenai aturan mana yang dipakai jika landasan negara bertabrakan dengan aturan ALLAH SWT.

Dan hasil dari debat itu-you-will-always-know-what-yaitu aturan Allah SWT lah yang harus mengalah, kenapa? Simple, karena kita tinggal di Indonesia, maka kita harus pakai landasan negara Indonesia.

Atulah.

Aneh.

Emangnya Allah yang Katanya Kau Sangat Percaya Bahwa Ia Maha Pencipta tidak menciptakan negara tercintamu ini?

How dare you untuk mengabaikan perintah dari Dia Yang Memberimu Kehidupan dan Segala Nikmat Selama Ini. Sombs