“He doesn’t look like a coward. He looks like he could save your life. These hard, artistic features contrast with a pair of dangerous brown eyes that almost glitter in the artificial strip lighting.

Don’t. Fall. Into. Them. “

A quote from This Is A Love Story novel

by Jessica Thompson

One Day In The Past

Hati-hati dengan hampa. Hati-hati dengan kosong. Hati-hati dengan kesedihan tak berujung. Jangan sampai semuanya membuatmu seolah-olah tidak memiliki Allah SWT yang padahal selalu ada untukmu, tapi kau, menganggapNya tak ada?

jangan terlalu sedih, kamu kok kayak gak punya Allah aja?

Lagi-lagi hasil obrolan. Well, senang sekali punya teman yang berani melemparkan pasir kemataku, meski ia tak sadar. Terimakasih! 🙂

Togetherness

Tetiba ingat lagi tentang snmptn dua tahun lalu.

Aku tidak ikut, tentu saja. Tapi saat hari pengumuman tiba, aku merasa sedih yang sangat. Baru kali ini aku sedih bukan karena diri sendiri. Tapi karena orang-orang yang dekat denganku belum lolos snmptn.

Ini bukan lebay atau fiksi, tapi bayangkan saja saat kau sudah memiliki tempat kuliah–yang bahkan diinginkan sebagian temanmu–tapi justru temanmu belum mendapat tempat dimanapun. Aku merasa begitu egois, padahal aku tak bermaksud, karena apa pula yang bisa aku lakukan?
Ah lagipula teman sekolah, tak ada yang menggantikannya, bukan? Senang sedih bersama. Belajar dan berlaku bodoh bersama. Semua selalu bersama-sama, lalu pada akhirnya aku mendahului mereka dalam memasuki jenjang kuliah. Ingin aku berteriak pada takdir untuk berbagi ‘keberuntungan’ku pada mereka. Bahkan aku sempat berfikir ingin bersama mereka dalam merasakan ketidak beruntungan dalam memasuki ptn, dan ya, ini keinginan yag buruk, aku tahu.

Berada dalam kesenangan tapi sendirian itu menyakitkan.

Itu kesedihan yang bisa dibilang terlebay dalam hidupku. Saat menemuiku, mereka malah kaget. Mereka kaget kenapa aku bersedih selebay ini. Sedihnya ini rasanya seperti patah hati. Malah merekalah yang bilang padaku “Lebay amat sih pi, kita masih bisa daftar ke universitas lain kali”

Dan perkataan itu seketika membuatku merasa orang termelankolis yang bodoh.

Ohiyaya. Aku lupa bahwa masih banyak sekali jalan mereka menuju Roma.

Sesungguhnya inti dari tulisan ini bukanlah cerita tersebut. Tapi intinya adalah kalimat :
Berada dalam kesenangan tapi sendirian itu menyakitkan.
Berada dalam kesenangan tapi sendirian itu menyakitkan.

Berada dalam kesenangan tapi sendirian itu menyakitkan.
Berada dalam kesenangan tapi sendirian itu menyakitkan.

Aku saksi hidupnya.

Sayang, ini baru kehidupan dunia.

Akan lebih menyedihkan lagi jika nanti diakhirat kau hanya memasuki surga sendirian. Itu akan menyakitkan. snmptn saja yang bukan segalanya aku sudah merasa sebersedih itu.

Maka ayolah, ayolah kita memasuki surgaNya bersama. Kau, jangan tinggalkan aku. Begitupun aku, aku sangat ingin semua orang yang aku sayangi bersama-sama memasuki langit ketujuh itu, tak ada yang tertinggal didasar bumi.

 

 Demi waktu, Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi.  Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.

……dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.

QS. Al-Ashr

 

jangan simpan surgamu sendiri. jangan eksklusif. Selagi masih bisa saling mengingatkan, ingatkanlah. Sebelum umur habis, sebelum penyesalan saja yang tersisa.
(i talk to my hand-again)

V&M

Si Perempuan terbangun, tersentak, ketakutan. Mimpi buruk lagi. Dan ini adalah kebodohan, juga kehampaan. Eh, mengapa bantalnya basah sekali? Ia memegang sudut bibirnya.Tidak, tidak ada air liur. Lalu ia menyeka pipinya. Loh? Ada air mata. Rupanya mimpi buruk tadi membuatnya benar-benar menangis. Nyawanya belum terkumpul sempurna, ia terhuyung saat berniat bercermin untuk melihat selebam apa wajahnya akibat menangis ketika tidur tadi.

Si Laki-laki memang masih terjaga malam itu. Ia sedang asyik internetan. Sesekali ia mengeluh. Sesekali tersenyum. Tapi ia lebih banyak menghela nafas, berkeluh kesah. Ayahnya sudah memperingatinya untuk tidur. Awas nanti sakitmu kambuh lagi kalau tidak tidur. Si Laki-laki hanya mengiyakan, lalu menutup rapat kamarnya. Pura-pura tidur, padahal masih terjaga. Bagaimana ia akan bisa tidur lelap sementara pikirannya masih melanglang buana kemana saja. Ah, bukan kemana saja, tetapi selalu kepada si Perempuan. Betapa ia telah menyakitinya di hari itu. Tapi ia terlanjur melakukannya. Kalau kau menyarankan untuk minta maaf tentu saja harga dirinya yang setinggi langit itu akan jatuh seketika. Kenapa aku bodoh sekali. Bagaimana aku bisa merubah semuanya? Dan malam itu ia habiskan untuk mencari jawabannya.

Perempuan kemudian membuka lemarinya perlahan, setelah ia cuci muka dan merapikan wajahnya yang berantakan karena menangis tadi. Ia mengambil sebuah jaket berwarna hitam. Kok aku bodoh sekali. Aku tak pernah segila ini. Katanya dalam hati sambil tersenyum sedih. Perempuan lalu mengambil jaket itu. Memperhatikan lamat-lamat, lalu ia kembali duduk dikasur. Selanjutnya apa? Pikirnya dengan penuh kekesalan.

Hantu

Aku sedang berjalan diselasar, perlahan. Hari libur, katanya guru-guru sedang rapat. Aku melihat ada dua anak sedang duduk dipojok. Keduanya wanita. Sedang membuka buku-buku, sepertinya sedang belajar. Hebat sekali, liburan seperti ini malah menyempatkan belajar, pikirku.

Aku mendekati mereka dan duduk disamping seorang perempuan berbaju biru tua. Perempuan itu melepas kacamatanya saat aku duduk. Ia terlihat pusing, memegangi kepalanya beberapa kali. Lalu teman disebrangnya, yang berbaju cokelat, sedang menempelkan kepalanya keatas meja. Perempuan yang kedua bercerita bahwa ini hari pertamanya menstruasi, perutnya sakit hebat sekali. Aku mengamati mereka.

Sebut saja perempuan yang berbaju biru itu dengan sebutan P dan perempuan yang sedang sakit perut itu dengan sebutan Q.

Mereka, bergumul dalam kesakitannya masing-masing, sambil masih membahas tugas. Beberapa kali mereka memegangi kalkulator, menyebut beberapa angka, lalu menuliskannya dengan tulisan yang jelek. Pembahasan tugas tersebut diselingi obrolan-obrolan cukup menarik. Aku masih mengamati mereka. Dan mereka sama sekali tidak sadar. Terkadang Q menatap kearahku, tapi ia melihatku bagai melihat udara. Tak ada respon sama sekali.

Aku sekarang sedang ketakutan sekali. Kata si Q, sambil meringis memegangi punggungnya yang sakit. Si P yang sudah mulai kembali memakai kaca mata bertanya, Karena apa? lalu ia kembali menulis angka-angka dalam bukunya.

Pokoknya, aku takut. Takut. Q meringis lagi karena perutnya. Lalu ia meminum seteguk air. Aku duduk semakin rapat dengan P, agar bisa lebih jelas mendengar pembicaraan mereka lagi. P kemudian menoleh kearahku. Lagi-lagi ia seperti melihat udara. Tak ada respon apa-apa.

/tobecontinyu

No Words

No words.

There are no words to describe or define
What’s inside you, your feeling, your vibe
Believe me I’ve tried to break you down to a science
I see you in my mind and I open my mouth and it’s silence
I can articulate a Shakespeare poem
Even though I didn’t know him
I can see where he was going
And where he’s coming from
I can even catch his flow
And then I think of you
I don’t know where this metaphor is going

‘Cause there are no words you can understand, only lovers can
You can ask the professor and the madman
If they couldn’t find the words, no one can
All I’ve seen, all I heard
When it comes to you there’s just no, just no words

NoWords-TheScript

gak curhat sih tapi emang. Pengen aja ngepost

Coincide, Isn’t It?

 

 

Gambar

(maap pake snippingtool//baru diajarin mita)

Kalau dipikir-pikir, arti dan maknanya Al-Falaq itu dalem banget.

1). Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh
2). Dari kejahatan makhluk-Nya
3). Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita
4). Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul
5). Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”

Lagi merasa “tersentuh” karena setelah semalam sempat kecewa dengan banyaknya kejahatan yang ada disekitar kampus, eh paginya diperlihatkan QS. Al-Falaq ini. Kebetulan yang tepat sekali.

Berlindunglah pada Dia Penguasa Subuh yang mampu menerangi dunia setelah pekatnya malam hari. Bumi-pun dapat Ia ‘terangi’, apalagi kita manusia. Semoga segala bentuk kejahatan yang menimpa kita dapat Dia hilangkan sebagaimana Ia menghilangkan gelapnya langit saat subuh.

Secara hakikatnya sih begitu. Tapi secara syariatnya, kita tetap saja harus waspada dan hati-hati. :—)

 

Anak TK tergaul

20140526-074644 PM.jpg

Kalah gaul sama adik sendiri yang punya akun instagram dan udah bisa ngaplod sendiri. Pas nggak sengaja ngeliat, ternyata ada suatu caption dlm salah satu fotonya…..
“Donkrai. Debisya………”
Setelah seharian mikir, ternyata maksudnya adalah lirik lagu ceribel yakni: don’t cry..don’t be shy…

Maygatttttttt

Kesimpulan: jangan biarkan anak kecil memiliki tab.

You’re Precious!

Aku baru tahu bahwa ternyata jaman dulu para filsuf Yunani sempat memperdebatkan apakah wanita itu memiliki jiwa atau tidak. Beberapa menganggap wanita adalah keturunan iblis. Bahkan kata Femina yang berasal dari feminus itu memiliki arti fem=iman dan minus=kurang. Artinya wanita dianggap sebagai makhluk yang imannya takkan pernah sempurna. (Eh para wanita yang baca jangan dulu sakit hati ya, mari lanjutkan bacanya.)

Tak berhenti dari situ, di zaman Rasulullah dulu, bahkan memiliki anak perempuan adalah aib yang sangat memalukan. Wanita bagi mereka hanyalah pemuas nafsu semata. Maka mengubur anak perempuan hidup-hidup adalah hal biasa saat itu.

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dgn (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. An-Nahl:58

Rupanya belum berakhir juga. Di Indonesiapun wanita masih dipandang sebelah mata. Mereka tidak boleh sekolah, dan hidupnya tidak merdeka sama sekali.

Lalu apakah sekarang pelecehan terhadap wanita sudah selesai? Sepertinya sudah ya? Bukankah Kartini dan kawan-kawan sudah memperjuangkan hak-hak para wanita?

Sayangnya, ternyata hingga hari inipun wanita masih tetap tertindas. Hanya saja caranya lebih pintar. Yaitu dengan tertindas tanpa ada yang merasa tertindas.

Hari ini wanita ditindas dengan apa yang disebut emansipasi dan kecantikan. Semua menjunjung tinggi persamaan. Bukankah seharusnya laki-laki dan perempuan memiliki porsinya masing-masing? Lalu belum lagi para public figure yang mencontohkan cara berpakaian wanita yang sebenarnya tak tahu itu masih bisa disebut berpakaian atau tidak. Tak aneh jika sekarang banyak wanita yang berpakaian seenaknya dan menjadi tontonan gratis untuk kaum Adam.

Ah, janganlah jadi murahan. Tak kasihan pada Kartinimu yang sudah memperjuangkan hak-hak wanita?

Karena sekarang saatnya kita untuk lebih menghargai diri sendiri. Dont get the point? Ada part duanya deh someday hehe.

Put 1st Thing 1st

Sekarang sih jujur aja, lebih menyesal saat sholat malam kelewat atau tugas ketinggalan?

Lebih menyesal ujian dapet BC atau shaum sunnah kelupaan?

Lebih ngusahain ngerjain tugas atau lebih ngusahain nyempetin waktu buat ngaji?

Padahal kita tahu kan, mana yang hasilnya akan abadi?

Tamparan dari Miss A, pagi ini.