/behaviour/

Pagi itu aku sedikit terlambat. Berangkat pukul 06.40 padahal ada kelas pukul 07.00. Dan itu bukan inti dari permasalahan ini. Karena inti ceritanya terjadi saat perjalanan naik angkot cokelat. Jam-jam segitu adalah jamnya orang berangkat kerja dan sekolah, jadi jalan supratman lumayan padat dan mengesalkan. Aku mencoba tidak panik dengan cara tidak mau melihat jam sama sekali. Sepertinya ada juga seseorang yang sedang dilanda rasa kesal. Seorang perempuan cantik bertubuh mungil yang memakai gantungan bertuliskan architecture. Kukira dia seumuran denganku, atau lebih muda setahun, atau lebih tua setahun.

Ia bilang ke pa supirnya saat ngetem di deket sebuah SMP deket katamso, pak, saya mau turun di halte ya. Pa supir ngangguk-ngangguk aja tapi masih ngetem. Eh, sepertinya perempuan itu terlalu lama menunggu jadi akhirnya ia memutuskan bangkit dan turun. Pas ia berdiri, pa supir malah majuin angkotnya. Dengan kesal, perempuan itu bilang ih pak saya mau turun disini. Pa supir heran karena tadinya anak itu bilang ingin turun di halte.

Hal yang mengagetkannya adalah, saat  perempuan tersebut turun dan bayar, ia ngelempar uang ke supir angkotnya dengan kesal. Uangnya limaribuan. Si pa supir kaget. Siapa yang harusnya marah, sih. Harusnya pa supirnya yang marahlah, orang dia minta turun di halte. Ibu-ibu yang didepan mengomel. Sopan dikit dek, ini pak supirnya lebih tua dari kamu. Anak itu hanya bilang, ya maaf dong. Pak supir rupanya kesal juga, ia tak mau memberi kembalian. Eh, pak, uang saya lima ribu!!!! Kata perempuan itu sambil nyolot. Gak mau! Kamu gak sopan sih! Iya juga sih, secara logika ngapain juga perempuan itu marah padahal emang dia yang minta diturunin di halte. Suasana angkot mulai memanas ditambah komentar sinis penumpang pada perempuan itu.

Dan yang mengagetkan kedua adalah anak itu teriak anjjjjjjj**ngg berkali-kali. Pa supir yang udah beruban banyak dan berwajah soleh itu mengehela nafas dan mengurungkan niatnya untuk majuin angkot. Terlihat kesal sekali, tapi ia hanya bilang, Ga berpendidikan ya dek? Perempuan itu masih meng-anj***kan pa supirnya. Seangkoteun pada kaget semua, terutama para ibu-ibu yang leluasa berkomentar seenaknya mengenai perempuan itu.Perempuan itu akhirnya berjalan cepat menjauhi angkot. Angkot pun ikutan jalan.

Pak supir lalu melajukan angkotnya dan bercerita. Saya udah jadi supir angkot dari tahun 1982. Dan baru kali ini di anj2 in penumpang. Masih muda lagi. Kalau digituin sama nenek-nenek sih gapapa. Ia geleng-geleng kepala dan disambut tawa dari seluruh penjuru angkot. Gak ngerti lagi, itu orang kaya orang kuliahan tapi kelakuannya kaya ga pernah sekolah. Saya udah punya cucu dualoh, dan berani dia anj**ng in saya. Saya gak salah apa-apa.

Pft, perempuan kalau marah suka kejam dan menyebalkan sih, emang. Atau sepertinya Perempuan itu sedang dilanda PMS dan tugas belum lagi telat masuk kelas, belum lagi semalem abis begadang, sehingga dia jadi sangat sensian? Sok tahu sih, tapi bisa jadi juga.

Ngomongin soal sensi, sebenernya kenapa sih PMS selalu jadi alasan agar perempuan boleh marah. Meskipun emang ngaruh, tapi kenapa perlu mengumbar-umbar kalimat aku marah karena aku lagi pms. Sepertinya PMS diciptakan agar para perempuan jadi mahir mengontrol emosi saat ia dewasa kelak, saat dia memiliki anak rewel menyebalkan. sowry oot.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s