Keledai

Aku sering sekali mengutuki diri sendiri karena mengambil keputusan yang selalu dirasa salah. Seperti keputusan memilih ekskul Centaurian Journalist waktu SMA, padahal aku sudah tahu pasti bidang jurnalistik adalah bidang yang tidak aku sukai, karena sewaktu SMP aku kewalahan sekali mengurusi ekskul tersebut. Meliput sana-sini, bikin-bikin mading, nulis-nulis hal yang tidak dilandasi keikhlasan, dan yang ternyebelinnya adalah; deadline. Dan terbukti, riweuhnya 11-12 dengan ekskul yang aku ikuti waktu SMP. Tapi ada satu keuntungan sih, yaitu bisa foto bareng Kim Kadarshian, Irfan Bachdim, Jennifer, dan beberapa pemain bola lainnya yang ga aku kenal. Udah we itu doang. Eh, sama bertemu teman-teman yang seru juga sih. Oiya sama menang bikin lomba mading se bandung juga sih.

Aku berazzam dalam hati, nanti pas kuliah gak lagi-lagi ikut-ikutan yang ginian.

Dasar memang keledai yang jatuh dilubang yang sama. Aku malah milih unit jurnalistik. Entahlah, tapi ada satu bisikan yang paling berbeda dan mendominasi diri, jadi akhirnya lagi-lagi ikutan hal berbau jurnalistik. yaelah. Kalau ditanya menyesal atau tidak, aku tidak akan jawab, hahaha.

Hal lain yang bagaikan keledai adalah, aku juga pernah berazzam dalam hati kalau nanti pas kuliah ga akan ngambil jurusan yang susah. Cukuplah pelajaran eksak saat SMA menyusahkan hidup, nanti ga mau-mau lagi. Aku udah memiliki plan memilih beberapa jurusan yang ga ada fisika atau matematikanya. Dan eng ing eng, pas daftar malah milih fitb. Pas ngisi kuisioner malah milih oseanografi. No komen sih udah.

Terus satu lagi, aku bukanlah orang yang terstruktur rapi dalam mengurusi administrasi dan lain-lain. Eh, malah jadi sekretaris di unit satunya. Padahal udah niat mau kabur pas tingkat dua. Jadilah terkurung lagi. Kesalahan lain adalah dihimpunan malah milih keuangan. Duit sendiri aja sering keilangan. Ini malah megang uang orang.

Jadi selama ini aku merasa memiliki dua sisi, sisi yang rasional adalah sisi yang menolak semua hal yang tidak bisa aku lakukan; fisika, jurnalistik, sekretaris. Tapi ada sisi lain yang juga bilang; yaudahlah cobain aja. Aku juga selalu ingat pesan ayah saat aku mengeluh habis-habisan mengenai jurusan sekarang, katanya gini, kuliah kan buat belajar, kalau gabisa fisika ya kuliah yang ada fisikanya. Biar belajar.

Biar belajar.

Dan aku mencoba positive thinking bahwa dibalik kesukaran ada kemudahan.

Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s