Tremor and Why

Tremor can be a symptom associated with disorders in those parts of the brain that control muscles throughout the body or in particular areas, such as the hands. Neurological disorders or conditions that can produce tremor including multiple sclerosis, stroke, traumatic brain injury, chronic kidney disease and a number of neurodegenerative diseases that damage or destroy parts of the brainstem or the cerebellum, Parkinson’s disease being the one most often associated with tremor.

Other causes include the use of drugs (such as amphetamines, cocaine, caffeine, corticosteroids, SSRI), alcohol, mercury poisoning; or the withdrawal of drugs such as alcohol or benzodiazepine. Tremors can also be seen in infants with phenylketonuria (PKU), overactive thyroid or liver failure. Tremors can be an indication of hypoglycemia, along with palpitations, sweating and anxiety. Tremor can also be caused from lack of sleep, lack of vitamins, or increased stress Deficiencies of magnesium and thiamine have also been known to cause tremor or shaking, which resolves when the deficiency is corrected. See magnesium in biology. Some forms of tremor are inherited and run in families, while others have no known cause. Tremors can also be caused by some spider bites, e.g. the redback spider of Australia.

Characteristics may include a rhythmic shaking in the hands, arms, head, legs, or trunk; shaky voice; difficulty writing or drawing; or problems holding and controlling utensils, such as a fork. Some tremors may be triggered by or become exaggerated during times of stress or strong emotion, when the individual is physically exhausted, or during certain postures or movements.

Tremor may occur at any age but is most common in middle-age and older persons, typically around the age of 52–61. It may be occasional, temporary, or occur intermittently. Tremor affects men and women equally.

source:wikipedia

Happy Fasting, You!

Kemarin sempat kaget karena baru sadar kalau Ramadhan bener-bener udah di depan mata, bahkan udah melambai-lambai mendekat. Aku sejujurnya merasa sedikit sedih karena kok aku ga ngerasa gimana-gimana ya gak kaya orang lain yang begitu excited dan gak sabar untuk menyambut bulan mulia ini. Astaghfirullah sih, bisi dosa.

Bulan yang bisa jadi bulan akselerasi bagi keimanan dan tabungan pahala ini pastinya mubazir banget kalau ga dimanfaatin, apalagi aku yang sehari-harinya seperti kurang amal soleh, maka bulan ini harus jadi penambalnya. Sepertinya harus banyak berkaca dengan Ramadhan kemarin yang bersaing dengan mati-matian kehidupan diklat divisi untuk o-es-k-m (sengaja nulisnya alay, bisi ada yang nemu tulisan ini via google as always).

Ramadhan tahun kemarin, aku terlalu fokus (atau mau nggak mau harus mau?) diklat medik. Sahurnya kadang tepat beberapa menit setelah malam swasta, atau malam-malam ‘biasa’. Buka puasa juga pernah minum susu ultra doang eh dilanjut diklat lagi. Kalau ga ada diklat malem bisa sih tidur sampai 5 jam bari itu juga kebangun terus gara-gara takut ada jarkom. Kalau masalah push up, agitasi, dan lari? Ha-Ha. Itu masih berjalan seperti biasa gak peduli kalau ini bulan puasa. Bahkan buset pisan ga kita sempet utang 130 seri push up, dan setiap diklat malam suka kadang ketiduran ‘sedikit’ pas lagi danlatnya ngomong (eh ga nyambung).

Kalau ada hari tanpa diklat, itu so pasti diisi dengan pbb dan olahraga angkatan atau minta wawancara pendiklat. Melelahkan tapi kenapa ya tetep aja semangat dan seneng, hahaha.

Tarawih apa kabar? Tadarrus apa kabar? Entah aku yang lemah atau apa, tapi sering banget-banget-dan banget bolong :(Saat jeda antara buka puasa dan diklat, ada beberapa orang yang maksain taraweh tapi aku mah engga, soalnya takut ga keburu :/ Tadarruspun kayaknya nggak nyampe 15 juz. Bahkan kurang dari itu. Bener-bener gak produktif untuk amalan-amalan yang biasanya dilakukan maksimal saat Ramadhan.

Tapi pada akhirnya aku bisa melewati bulan Ramadhan dengan ke-nauzubillah-capek-dan-rempong-pisan-nya diklat itu. Bisa. Dan itu membuatku sadar kalau sebenernya kita punya kapasitas diri yang lebih dari apa yang kita biasanya lakukan. Buktinya buka puasa seadanya dan tidur seadanya pun kita bisa tetep kuat. Makaaaaaaaaaaaaaaa Ramadhan kali ini yang sibuknya nggak separah jaman dahulu, harus tetep diisi sama hal ekstra. Kalau tahun kemarin banyak tarawih ngaji dan momen-momen baik dan berpahala yang sering terlewat, maka Ramadhan sekarang harus memaksimalkan semuanya.

Kalau taun kemaren push up berseri-seri bisa, masa sekarang taraweh 11 rakaat aja udah keder?

Kalau taun lalu tidur dikit bisa, masa sekarang malah tidur mulu seharian?

Dilihat dari Ramadhan kemarin, aku tahu aku seharusnya bisa maksimal. Tinggal masalah kemauan, paksaan, dan kerajinan.

 

Fool

Draft bulan 06 tanggal 26 2014

If i were bird, i’ll follow you everywhere you go. I’ll stand on your window, seeing you everyday.
Ah but no. Its a bad idea. Because you wouldn’t notice me, and making me ended up being such a fool bird.
I’d rather be me then. I couldn’t be with you everytime and everywhere. You also wouldn’t notice me. And of course it won’t make me being a fool girl.

What They Don’t Tell You About Writing

Fiction All Day

Who are they?  

They can be anyone – commencement speakers, mentors, authors at writing conferences, motivational coaches, life experts.  They help inspire us.  They tell us what we can do with our lives, with our writing.  Their words are sweet and move us to action.  They tell us that anybody can be a writer, that anybody can learn, that everybody has a story to tell.  They tell us that the craft can be learned and that if we try, really try, put in the effort day in and day out and struggle through, then we, too, can be great storytellers, bestselling novelists, award-winning authors. 

But they don’t always tell us that for as many ups as we have, we’ll have ten times as many downs.  And if they do mention it, we don’t listen.  We don’t always understand that we’ll struggle, that we’ll fail, that we’ll come to a…

View original post 392 more words

Susanty

Kehilangan yang pertama dalam hidupku adalah nenekku.

Lalu yang kedua, adalah seorang sahabat. Aku sampai menangis diangkot karena kehilangannya. Ia seorang asisten mama dirumah, tapi ia juga sekaligus menjadi temanku dirumah. Setiap aku sakit, aku selalu berteriak memanggil-manggilnya untuk mendengarkan ceritanya di kampung halamannya. Aku ingat bagaimana ia bercerita bahwa ia bercita-cita ingin jadi guru ngaji. Ia juga saat dulu tidur dirumahnya, sering sekali tikus masuk ke kakinya. Atau cerita tentang Aep yang kini sudah jadi suaminya. Ia diatasku tiga tahun. Tapi menyenangkan sekali bersahabat dengannya. Bahkan semua rahasiaku disekolah, aku bocorkan padanya. Aku dulu bukanlah anak SD yang suka bercerita. Aku memendam kesalku, bahkan sukaku. Aku hanya menceritakan ini semua padanya. Itu artinya dia memang istimewa bagiku.

Setiap ia pulang ke kampung halamannya, lalu kembali kerumahku, ia selalu membawa banyak oleh-oleh semacam buah-buahan atau sayur-sayuran. Ia juga selalu cerita tentang adik kecilnya yang ternyata sudah beranjak besar. Ia bercerita bahwa sepulang dari Bandung, ia jadi bahan omongan orang di kampungnya. Untung dia orang yang cuek.

Kami pun sering menjelajahi bandung (meski itu bip-bip lagi, tapi bagi anak SD hal ini sudah teramat cukup, apalagi jika tidak bersama orang tua), kami fotobox beberapa kali, saling menulis surat-suratan, tapi tak jarang juga aku berubah jadi orang menyebalkan dan manja yang hanya bisa menyuruh ini itu lalu marah-marah sendiri. Maafkan:(

Aku tak pernah menyangka ia akan pulang ke kampung halamannya dan takkan kembali. Tak pernah. Sesungguhnya pernah pikiran itu muncul sesekali, namun segera aku tepis karena rasanya menyebalkan menghadapi kenyataan ia takkan ada dirumah ini lagi.

Kami sering menonton Akademi Fantasi Indosiar, lalu mendukung Dicky AFI. Bahkan kami berdua menangis tersedu saat Dicky AFI tereliminasi. Ia juga naksir salah seorang penjaga warung, dan aku selalu men-comel-kan pada penjaga warung tersebut. Hasilnya, ia menjadi marah namun aku tetap saja tertawa-tawa tidak berdosa.

Bahkan saking dekatnya, aku selalu memintanya sekamar denganku. Pernah suatu hari, saat aku tidur, aku merasa sesak hingga terbangun. Dan ternyata sebuah guling dikamarku terbakar. Ia segera bangun dan mematikan apinya, sendiri, dan berhasil. Hebat.

Hingga hari itu datang, aku masih kelas tujuh, ia dilamar seorang laki-laki dan akhirnya tak bisa lagi tinggal bersama kami. Aku menangis diangkot hampir dua minggu. Dan itu sesak sekali. Sampai hari ini, aku tak pernah merasa sesak sesesak dua minggu tersebut. Kosong sekali rasanya.

Malam ini, 08.15 pm, nomor asing memberikanku sebuah pesan:

opi lagi ngapain………….ini cece apa ka barmu?

 

 

Pergi Atau Tidak

Waktu SD aku suka nonton serial full house. Kayaknya enak aja punya rumah besar yang temboknya kaca semua, lokasinya pas pinggir pantai banget, dan si ceweknya (lupa namanya) kerjaannya adalah jadi penulis novel. Terus dia nulis-nulisnya di sebuah meja deket jendela yang jendelanya madep ke pantai. Dia menulis sambil menatap deburan ombak, tenggelam dalam indahnya sunset atau sunrise, lalu ditemani secangkir kopi penghalau kantuk. hhhhh what a beautiful life.

Anggap saja aku ingin mengikuti cara hidup dia yang seperti itu. Anggap saja.

Anggaplah rumah dengan suasana laut itu sudah aku miliki; yaitu aku kuliah di oseanografi (anggap aja ya woy jangan protes)

Lalu tentang secangkir kopi, sepertinya aku sudah gagal karena perutku tak bisa bersahabat baik dengannya.

Kemudian tentang menjadi seorang penulis novel. Aku ingin jadi penulis. Liburan ini aku mencoba menjadi penulis yang konsisten dengan sebuah ide yang telah ada dikepalaku. Tapi hey, aku baru sadar, menjadi penulis itu bukan sesederhana membalikan telapak tangan (yaiyalah ya). Butuh waktu untuk menghidupkan karakter yang kita ciptakan, bagiku ini sulit sekali karena sejujurnya aku tidak bisa membuat karakter kecuali karakter aku sendiri atau teman-temanku yang disamarkan namanya. Lalu mengenai setting, anak rumahan yang forever bandung seperti aku tahu apa tentang tempat-tempat bagus?………………………(lalu jd sedih sendiri)

Selain itu, menjadi penulis haruslah memiliki kreativitas tinggi dan kepintaran sehingga dapat menyambungkan kejadian ini itu dengan kejadian lainnya yang tak terprediksi. Poin terakhir, menjadi penulis haruslah rajin dan konsisten. Kalau rajin nulis sih, yaa sepertinya aku bisa mengatasi itu. Tapi konsisten? Susah. Jika hari ini aku buat cerpen berjudul A, maka besok aku membuat yang B, besoknya lagi yang C, karena aku gak pernah tahan dengan suatu cerita yang bertopik sama dan digali terlalu dalam.

aaaaaaaaa sedih. susah banget dan sepertinya aku sudah hampir mengibarkan bendera putih, hiks. yaudah deh mau jadi oseanografer aja.

 

Colouring Life

Kalau tak bisa mewarnai, setidaknya pertahankan warnamu. Setidaknya jangan terwarnai.

 

Perbedaan itu indah, bukankah?

Indah itu jika perbedaan tersebut membuat selaras, saling melengkapi, dan tetap dalam batas damai. Ya meski pada kenyataannya banyak juga permasalahan yang timbul karena perbedaan ini. Toleransi.

Tapi setahuku toleransi itu bukan berarti kita harus mengikuti hal berbeda yang dimiliki oleh orang lain. Toleransi itu bukan meleburkan prinsip yang seharusnya kita pegang dengan prinsip yang orang lain pegang. Toleransi bukan juga melepas prinsip kita lalu mengikuti prinsip orang lain.

Toleransi bukanlah diciptakan untuk melupakan diri kita sendiri. Bukan untuk melupakan komitmen kita untuk siapa dan apa.

Hai dunia, apakah jika aku melaksanakan apa yang aku yakini itu artinya aku tidak menghormati perbedaan?

Apakah definisi toleransi ini sudah berubah? Atau dunia yang sedang menipuku?

Kalau tak bisa mewarnai, setidaknya pertahankan warnamu. Setidaknya jangan terwarnai.

Adik kecil

kerjaannya Iyut

S A V A S C I

That moment when you watched horor movie with girl 5 yo. 

that’s my lil sister. 

unyu banget. 

Kelakuannya bodor pisun. 

 

2 Hari yang lalu, dia buka yutub di tab supergede. Bukan lagi barbie-sinetron-kartun atau bahkan lagu-lagu yang dia liat. Tapi liatnya “POCONG DARI MEDAN”, dan-lain-lain. Bahkan, kemarin, adik kecil liat video tentang alam barzakh. 

eh, malah sakit panas.__________________.

dan sore tadi, pas lagi nonton the conjuring, my old sister asked her, “dek, takut ga nonton ini?”

and i was surprised of what she said. 

“Engga, kan ada Allah.”

she is 5 years old. 

View original post