#fiksi

Boy

Sudah lama juga kami tidak berkumpul-kumpul seperti ini. Lalu saat aku sibuk tertawa dengan temanku, aku melihatnya. Dia itu orang yang dahulu meminjamkan pulpen saat aku ujian. Wah tumben sekali. Biasanya perempuan itu tak pernah datang saat ada acara kumpul-kumpul seperti ini. Dia kemudian berjalan, mencari tempat duduk yang nyaman. Aku melihat ke kananku. Kosong. Tepat saat itu, iapun segera duduk disampingku. Ia lalu mengobrol dengan teman di kanannya.

Beberapa detik kemudian aku mengajaknya berkenalan lagi, Maaf, aku lupa namamu, hahaha. Jadi, kita kenalan lagi yuk! Wajahnya berubah sedikit kesal. Haha. Aku tahu kita sudah berkenalan tiga kali. Aku juga hafal sekali namanya. Bahkan aku tahu banyak hal tentangnya. Aku udah tau nama kamu. Katanya dengan ketus sebelum aku mengucap namaku. Wah, kukira ia akan dengan mudah melupakan namaku.

Girl

Maaf, aku lupa namamu, hahaha. Jadi, kita kenalan lagi yuk! Ia menjulurkan tangannya. Aku geleng kepala. Ini sudah tiga kali. Aku menarik tanganku untuk menunjukkan aku tidak bisa bersalaman dengan bersentuhan. Ia lalu mengangguk, eh, maaf katanya. Aku menyebut namaku. Lalu aku berkata, Aku udah tau nama kamu, sebelum ia memberitahuku-lagi namanya. Iya, tentu saja. Aku pasti hafal namamu bahkan diluar kepala. Aku bahkan tahu banyak hal tentangmu. Bukankah kita pertama kali berkenalan disaat aku meminjamkan pulpen hitamku enam bulan lalu disaat kau kebingungan dan kehilangan pulpen saat ujian itu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s