I’ve Been In Hell

ya, waktu SMP dulu aku pernah masuk neraka.

Saat itu kami disuruh masuk ruang audiovisual. Kedinginan seperti biasa oleh air conditioner yang tak pernah bersahabat. Kami duduk berjauhan. Lalu ada sebuah tayangan paling horor sedunia-bagiku. Tayangan yang tak pernah berhenti membuat bergetar. Sakaratul Maut. Lampu dimatikan, para perempuan sibuk menutup wajahnya. Takut melihat mayat yang sedang ditanya ini itu oleh malaikat. Aku pun. Aku takut sekali, tapi penasaranku tiada habisnya mengenai Sakaratul Maut ini meski aku sudah menontonnya berkali-kali. Aku menutup wajah namun mengintip-sama saja kelihatan.

Tayangan beres. Beberapa perempuan tersedu. Yang lelaki hanya melamun sedih. Lalu infokus dimatikan.

sekarang, tutup mata kalian dengan kain masing-masing. Titah seorang guru. Mata kami ditutupi kain oleh guru-guru kami. Lalu semua masih hening. Masih terbawa suasana tayangan tadi.

Ternyata, Sakaratul maut diputar lagi. Namun kami mendengar suaranya saja, karena kami tak bisa melihat. Semua bertangis-tangisan. Semua berkaca dan menyesali karena tak ada amalan yang bisa dibanggakan dalam diri saat kelak bertemu Munkar Nakir. Akupun. Aku juga membasahi kain ini. Teman yang lelaki sudah tidak ragu lagi menangis. Aku bisa mendengar mereka.

Lalu aku disuruh berpengangan tangan dengan seorang teman. Kalau boleh kutebak, itu tangan Oni. Kemudian kami digiring ke suatu tempat masih dengan tutup mata. Tiba-tiba suatu suara menghentikan kami. Kami tidak lagi bergenggaman tangan, karena temanku dibawa ke tempat lain. Aku disitu bersama entah siapa yang bertanya banyak hal; Siapa Tuhanmu, dan banyak pertanyaan lainnya yang beberapa aku tidak bisa jawab. Setiap kali aku tidak bisa jawab, seperti ada suara yang begitu besar. Suara seperti gada yang terbentur sesuatu. Aku takut. Aku takut. Aku baru sadar ini adalah simulasi kematian.

Ini, baru simulasi kematian. Dan aku sangat takut sekali. Aku menangis lagi setiap ada pertanyaan yang tidak bisa kujawab.

Lalu aku digiring lagi ke tempat lain. Ditengah perjalanan, suaranya menyebalkan sekali. Seperti banyak yang berteriak, ada juga yang menjatuhkan brang-barang. Berisik sekali. Menakutkan.

Setelah melewati jalan yang menurutku cukup lama, akhirnya aku boleh membuka kain yang menutup mataku. Kainnya basah oleh ketakutan. Aku mengerjap-ngerjap mata.

Tempat ini jelek sekali.

Sesungguhnya tempat itu adalah kelasku yang disulap menjadi entah apa. Berantakan. Banyak kecoa. Menjijikan.

Selamat Datang Di Neraka

oh.

Jadi aku masuk neraka gitu?

___________________________

Sekat di ‘neraka’ ini dibuka, semacam sekat yang membatasi kelas-kelas. Setelah dibuka, aku melihat kelas disebelah yang ternyata disulap menjadi ‘surga’. Beberapa temanku ada disana sambil makan, sambil tiduran disofa, pokonya enak sekali.

Panggil teman yang kalian sayangi yang ada di neraka.Perintah seseorang pada teman-temanku yang ada di ‘surga’.

Satu persatu penghuni neraka keluar. Berpindah kesurga bersama teman yang memanggilnya.

Lalu Oni, yang ternyata ada disurga maju ke perbatasan (sekat). Ia meneriakan namaku.

Aku lalu berlari, memeluk Oni.

Makasih Oni, udah nyelamatin aku dari neraka.

______________________________________

that’s what friends are for.

Advertisements

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s