Keep It Simple

Hello dunia, aku adalah sesuatu. Sesuatu? Iya. Aku juga tidak tahu aku itu apa. Orang tua? Aku tidak punya orang tua untuk bertanya. Teman, saudara, juga tidak ada. Aku baru saja muncul didunia. Mau membantuku mencari tahu siapa aku? Tapi, bagaimana cara mengetahui siapa aku? Hmm, mungkin aku harus menjalani hidupku dulu, lalu nanti, setelah aku mengetahui apa saja yang aku punya, tentu aku akan mengetahui siapa-dan untuk apa aku ini ada. Setuju? Kau juga begitu kan dalam mencari tahu siapa dirimu?

Boleh aku berbagi suatu rahasia? Sebenarnya aku sudah tahu siapa aku. Tapi aku sekarang sedang ingin bercerita saja, bagaimana perjalanan panjangku untuk menemukan ‘sesuatu’ apakah aku itu.

Perjalanan yang cukup melelahkan, tapi ternyata akulah yang membuat semuanya rumit. Padahal, kalau aku sedikit menjernihkan pikiranku dan bertanya pada hati nurani, maka aku akan tahu siapakah aku. Tapi waktu itu aku sombong dan menutup telinga dari hati nuraniku, aku merasa ada sesuatu yang lain, yang lebih hebat, maka aku putuskan untuk mencarinya lagi-sendiri.

Perjalanan panjang ini membuatku ingin selalu mengeluh. Betapa keadilan tidak ada dimana-mana. Aku bingung sekali, aku hidup hanya mengikuti arus dan jika kebanyakan orang menuju A maka aku akan ikut pula ke A. Tanpa tahu esensinya.

Perjalanan takkan lengkap tanpa teman bukan? Kaupun sama kan? Itulah titik awal aku menerka-nerka siapakah aku sebenarnya. Sahabatku, Abby, mengatakan kalau aku adalah singa. Aku harus menjadi yang terhebat dan bisa merajai semua. Aku menurutinya. Tapi aku sama sekali tidak bahagia. Awalnya menyenangkan, lalu semua tiba-tiba memusuhiku dibelakang dengan mengata-ngataiku, aku tidak suka.

Sahabatku yang lain bilang kalau aku adalah cicak. Lalu aku hidup sebagai cicak, dan aku tetap tidak bahagia. Yang lain bahkan berkata aku adalah seekor burung. Aku yang bodoh ini malah menurutinya, mengikuti latihan terbang berbulan-bulan. Menyenangkan. Tapi akhirnya kakiku patah.

Suatu hari saat aku sedang gundah gulana, datang seekor buaya. Aku heran melihat hidupnya yang diam-diam saja membosankan tapi ia bahagia.

“Aku telah menemukan siapa diriku sebenarnya” Kata buaya setelah aku tanya perihal hidupnya yang membahagiakan (meski jika aku jadi dia maka aku akan kebosanan setengah mati).

“Bagaimana caranya?” Tanyaku heran. Ia mati-matian menunjuk kepalanya dengan tangan. Namun nihil, karena tangannya tidak bisa menyentuh kepala. Lalu ia menyerah dan berkata, “Berpikir.” Aku melongo. Aku sudah menghabiskan seumur hidupku untuk memikirkan siapa diriku, dan nasihatnya hanya berpikir? Sama sekali tidak membantu. Buaya lantas tertawa, lalu mulai ceramah panjang lebar.

“Kenali dulu dirimu. Apa yang kau miliki? Apa yang membuatmu beda dengan yang lain? Itulah dirimu”

Lalu ia tertawa lagi,

“Kau berasal dari mana? Kau menciptakan dirimu sendiri atau ada orang lain yang menciptakanmu?” Baru saja aku ingin menjawab, ia keburu melanjutkan ceramahnya.

“Bertanyalah pada yang membuatmu, sebenarnya kau itu apa.”

____________

harusnya kita bersyukur sebagai manusia, karena jelas-jelas identitas kita telah ditentukan oleh Pencipta. Untungnya lagi, Pencipta kita memberitahu segala detailnya dalam sebuah Buku Petunjuk. Tak perlu pusing-pusing lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s