Susanty

Kehilangan yang pertama dalam hidupku adalah nenekku.

Lalu yang kedua, adalah seorang sahabat. Aku sampai menangis diangkot karena kehilangannya. Ia seorang asisten mama dirumah, tapi ia juga sekaligus menjadi temanku dirumah. Setiap aku sakit, aku selalu berteriak memanggil-manggilnya untuk mendengarkan ceritanya di kampung halamannya. Aku ingat bagaimana ia bercerita bahwa ia bercita-cita ingin jadi guru ngaji. Ia juga saat dulu tidur dirumahnya, sering sekali tikus masuk ke kakinya. Atau cerita tentang Aep yang kini sudah jadi suaminya. Ia diatasku tiga tahun. Tapi menyenangkan sekali bersahabat dengannya. Bahkan semua rahasiaku disekolah, aku bocorkan padanya. Aku dulu bukanlah anak SD yang suka bercerita. Aku memendam kesalku, bahkan sukaku. Aku hanya menceritakan ini semua padanya. Itu artinya dia memang istimewa bagiku.

Setiap ia pulang ke kampung halamannya, lalu kembali kerumahku, ia selalu membawa banyak oleh-oleh semacam buah-buahan atau sayur-sayuran. Ia juga selalu cerita tentang adik kecilnya yang ternyata sudah beranjak besar. Ia bercerita bahwa sepulang dari Bandung, ia jadi bahan omongan orang di kampungnya. Untung dia orang yang cuek.

Kami pun sering menjelajahi bandung (meski itu bip-bip lagi, tapi bagi anak SD hal ini sudah teramat cukup, apalagi jika tidak bersama orang tua), kami fotobox beberapa kali, saling menulis surat-suratan, tapi tak jarang juga aku berubah jadi orang menyebalkan dan manja yang hanya bisa menyuruh ini itu lalu marah-marah sendiri. Maafkan:(

Aku tak pernah menyangka ia akan pulang ke kampung halamannya dan takkan kembali. Tak pernah. Sesungguhnya pernah pikiran itu muncul sesekali, namun segera aku tepis karena rasanya menyebalkan menghadapi kenyataan ia takkan ada dirumah ini lagi.

Kami sering menonton Akademi Fantasi Indosiar, lalu mendukung Dicky AFI. Bahkan kami berdua menangis tersedu saat Dicky AFI tereliminasi. Ia juga naksir salah seorang penjaga warung, dan aku selalu men-comel-kan pada penjaga warung tersebut. Hasilnya, ia menjadi marah namun aku tetap saja tertawa-tawa tidak berdosa.

Bahkan saking dekatnya, aku selalu memintanya sekamar denganku. Pernah suatu hari, saat aku tidur, aku merasa sesak hingga terbangun. Dan ternyata sebuah guling dikamarku terbakar. Ia segera bangun dan mematikan apinya, sendiri, dan berhasil. Hebat.

Hingga hari itu datang, aku masih kelas tujuh, ia dilamar seorang laki-laki dan akhirnya tak bisa lagi tinggal bersama kami. Aku menangis diangkot hampir dua minggu. Dan itu sesak sekali. Sampai hari ini, aku tak pernah merasa sesak sesesak dua minggu tersebut. Kosong sekali rasanya.

Malam ini, 08.15 pm, nomor asing memberikanku sebuah pesan:

opi lagi ngapain………….ini cece apa ka barmu?

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s