Belajar

Apa ini?

Setelah 8 bulan lebih beberapa hari menjadi orang berkepala dua, aku baru menyadari betapa waktu benar-benar terbang cepat tak pernah peduli kenangan apa yang ia tinggalkan. Bahkan kita sering mengejarnya dengan terseret, waktu tak pernah mau tahu, yang ia tahu hanyalah berlari. Mau tak mau kita harus ikut. Kalau tidak, aku bisa mati menjadi budaknya.

Mungkin aku terlambat kalau bilang sekarang ini adalah masa peralihan dari seorang anak menjadi orang dewasa. Sangat terlambat.

Jika terus me-nanti saja-kan kebiasaan kecil yang perlu diubah, kapankan itu akan terjadi? Waktu yang terbaik adalah saat ini.

Baiklah, aku akan berusaha takan pulang malam lagi untuk semester depan. 

………………….gaknyambung

Intimidated By Own Mind (fiction)

I couldnt sleep.

My room’s lamp was too bright for my eyes. So that I turned it off after brushed my teeth and washed my face. Ready to sleep then. I always let my sister sleep in my room due to some reasons. But now she’s already sleep. Then I met my bed, I tried to close my eyes.

But I still couldn’t sleep even I already count the sheep until the 97453627th. Is it what they called by Insomnia? Suddenly I heard someone outside yelled “SAAAATEEEE” for so many times. Spontaneously, I sat at my bed and opened the window to see who is he–even I actually know that he must be a sate seller.

OMG. Shit happened in my head. I just remembered one of indonesian horror story about a sate seller who turned into ghost. Sh*t, how can I remember that in situation like this? Some horror story that I watched from films like play in my head. The conjuring, paranormal activity, even the ‘alay’ indonesian horror film still stuck in my mind. I tried to relax and thinking about another thing like “what gonna happen in school tomorrow? and how will my holiday be?” so that that stupid horror films can get out of my mind. I closed the window, trying to sleep again.

I turned my body to right. Then left. Ah, I’m done about counting sheep! Then I opened my eyes. The sate seller was standing beside my bed still yelling “sate” with his bloody face.

and I screamed out loud till my sister woke up.

She turned on the light and flop!

The sate seller wasnt there anymore.

Ready?

Bukan, idul fitri itu ada bukan untuk merayakan kebebasan muslim untuk bisa kembali makan sepuasnya disiang hari. Bukan juga untuk merayakan tak perlu sholat tarawih sampai jidat menghitam dimalam hari.

Lalu bukan pula, sungguh bukan Idul fitri dirayakan untuk merayakan kembali minimnya bacaan Quran kita seperti yang biasa dilakukan sebelum ramadhan. Dan lagi bukan! Idul fitri dirayakan bukan untuk merayakan lepasnya kewajiban kita untuk berzakat, sungguh bukan!

Bahkan sangat tak pantas jika kita merayakannya karena belenggu setan mulai terbuka kembali. Dan tentu bukan juga dirayakan karena telah perginya bulan penuh ampunan dan bonus-bonus untuk keabadian.

Bukan kah idul fitri itu permulaan pembuktian seberapa berkualitasnya ramadhan kita kemarin?

Jika sholat malam kembali ditinggal, Quran kembali menjadi pajangan, aurat kembali jadi tontonan, ingkar janji kembali menjadi wajar, amarah kembali mudah meluap, lalu apalah arti mulianya ramadhan kemarin bagi diri kita?

Ramadhan itu perlu bukti, apakah ia hanya menjadi formalitas semata, atau benar menjadi jalan Taqwa seperti yang Ia harapkan?

Dan inilah hari pertama pembuktian itu dimulai!

Are you ready?

a note to self.

Semoga bertemu Ramadhan selanjutnya aamin 🙂

Bukan tentang pengusir setan

Tiba-tiba saja aku teringat dengan acara-acara tv saat aku kecil. Aku dulu senang dengan cerita-cerita horor dan tentu berbanding terbalik dengan kenyataannya yang ke wc saja selalu minta antar orang tua. Meski begitu, aku tak pernah kapok. 

Dalam cerita-cerita di televisi tersebut, aku masih ingat sekali, cara orang-orang mengusir hantu itu bisa dengan berbagai macam cara. Bisa dengan bawang putih, dukun-dukunan, dan yang paling manjur adalah dengan; membaca ayat Qur’an atau dengan membuka halaman Qur’an. Setelah itu si hantu akan kepanasan dan lenyap.

Sekarang, tayangan seperti itu rasanya sudah jarang sekali.

Lalu mari melompat kemasa kini. Sekarang sedang marak program one day one juz. Aku sih, pada awalnya setuju saja, meski ya, aku tak mencoba program tersebut (kalau boleh mencari pembenaran: karena aku sibuk kuliah).

Kalau boleh mencari pembenaran satu lagi: Aku takut dalam membaca Quran hanya mengejar kuantitas tanpa memikirkan kualitasnya. Oke, dari segi pahala mungkin dengan mengikuti one day one juz bisa banyak pahala yang diraih –wallahu alam. Namun bukankah inti dari diturunkannya Qur’an itu untuk dipahami? Ditengah sibuk kuliah, aku lebih memilih membaca Quran hanya satu halaman tapi beserta arti dan pemaknaannya (mungkin lagi-lagi ini adalah pembenaran karena ada orang yang mengaji satu juz tiap hari beserta artinya).

Lalu bulan Ramadhan seperti ini, saat aku masih muda sekolah dulu, aku selalu mengusahakan untuk khatam. Supaya nanti dapat THRnya double. Tapi sebelum dan seusai membaca Qur’an aku tak merasakan perbedaan. Jadi aku mengaji semata-mata hanya ingin pahala dan THR saja.

Mari kembali kepada tayangan hantu saat aku masih kecil dulu. Disitu seolah-olah Qur’an adalah suatu hal sakral dengan kekuatan magis yang mampu mengusir kejahatan setan. Padahal, Quran bisa mengusir kejahatan dengan cara diamalkan oleh kita. Bukan karena kita membaca bacaan-bacaan yang kita sendiri tidak mengerti artinya apa.

Tak jarang juga fenomena yang seperti men’suci’kan Qur’an. Saking suci nya Qur’an, sampai-sampai lebih baik simpan saja di lemari tertinggi, jangan disentuh, dan jadi pajangan saja. 

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

 

Ya, semoga saja, seusai kita membaca Qur’an, kita mendapatkan kebahagiaan karena menemukan “terang”.

Bukan hanya karena ingin meraih pahala apalagi THR.

 

Delapan Prodi di ITB Sepi Peminat?

Catatanku

Di Kompas online ada berita tentang ITB yang dapat “menyesatkan” pembaca. Berita dan tautannya saya tampilkan di bawah sini:

Delapan Jurusan di ITB Sepi Peminat
Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2013/03/27/18253122/Delapan.Jurusan.di.ITB.Sepi.Peminat

MAGELANG, KOMPAS.com — Sebanyak delapan jurusan di Institut Teknologi Bandung (ITB) sepi peminat. Delapan jurusan tersebut adalah jurusan Astronomi, Meteorologi, Oceanografi, Rekayasa Kehutanan, Rekayasa Pertanian, Irigasi, Kewirausahaan, dan Pengelolaan Sumber Daya Air.

Demikian dituturkan oleh Koordinator Alumni ITB Peduli Pendidikan, Eddy Purnomo, Rabu (27/3/2013). Selama ini, di tiap jurusan, kursi yang tersedia di kelas selalu terisi separuhnya. Dengan kondisi tersebut, Eddy mengatakan, siapa saja yang mendaftar untuk jurusan-jurusan tersebut, berpeluang besar untuk diterima sebagai mahasiswa ITB.

“Sebenarnya pilihan jurusan tidaklah terlalu penting. Yang penting adalah diterima sebagai mahasiswa ITB terlebih dahulu,” ujarnya.

Hmmm… apa betul delapan prodi itu sepi peminat? FYI, pemilihan Prodi di ITB tidak pada saat mendaftar seleksi masuk (SNMPTN) namun pada tahun kedua setelah menjadi mahasiswa ITB. Calon mahasiswa memilih…

View original post 424 more words

saat Hadist ini telah terbukti……….

Dari Tsauban ia berkata:

Rasulullah Saw bersabda:

“Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan”.

Kemudian ada sahabat yang bertanya: “Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu?”.

Rasulullah Saw menjawab: “Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian hanyalah bak buih di atas air bah [yang dengan mudah dihanyutkan ke sana ke mari]. Dan Allah SWT akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati kalian.”

Ada sahabat yang bertanya lagi: “Wahai Rasulullah Saw, apakah wahn itu?”

beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”

Please do not you ever say a word about something that you have no idea about.

And you have no idea about me.

Malas

Bosan dan malas itu bukan perpaduan bagus.

Seperti bosan dengan Pilpres dan segala konspirasinya.

Bosan dengan masih banyaknya manusia yang mempertanyakan siapa yang harus dibela; zioniskah atau palestina kah saat sudah jelas terlalu banyak korban yang telah berjatuhan.

Bosan dengan medsos dan pencitraan manusia.

Bosan dengan para materialistis yang lupa bahwa akhirat akan mempertanyakan kehidupa mereka.

Bosan dengan ruangan dokter dan bau obat yang telah ditemui dua bulan terakhir ini tapi entah kapan selesainya.

Bosan dengan
Bosan dengan pikiran yang ingin tumpah tapi tak sedang berteman.

Bosan ini biasanya diobati satu hal; menulis.
Tapi kali ini, terlalu malas. Terlalu penuh.

Namun aku tidak bosan dengan orang seperti Dilan kok 🙂 (yg ini sampah)

soul-die-er

Aku tersenyum mendapati tetanggaku memelukku erat-erat. Menjabati tanganku satu persatu-satu, dan beberapa remaja seperti Allison, Jane, dan George (mereka adalah sahabat Alice, anakku) memberiku sepucuk surat berisi semangat. 

“Semoga kau beruntung! Bawalah kemenangan untuk Negaramu!” Teriak Andy, pria gemuk 40 tahun yang menjadi sahabatku sejak kecil dari balkon rumahnya saat aku berjalan menyusuri komplek untuk menuju rumahku. Aku melambaikan tangan, tersenyum, mengangguk, “Doakan saja!” Sahutku teriak.

Akhirnya sampailah aku kerumahku. Istriku, Amy segera memelukku erat ditambah air mata telah membasahi pipinya.

“Sayang, ini, aku berikan ini untukmu. Pakailah. Keberuntungan semoga menyertaimu.” Ia mengecup keningku, lalu memberi sebuah kalung jimat. Aku menyeka air matanya, tersenyum.

“Aku akan jadi pria Negara ini yang membanggakan. Kau pun harusnya bangga padaku, Amy.”

“Ayaaaaaah” Terdengar suara rusuh dari tangga, mereka adalah Jason (7 tahun), Alice (14 tahun), dan Anna (16 tahun); anak-anak kesayanganku. Mereka juga seperti ibunya; mengeluarkan air mata sambil memberiku hadiah. Jason memberiku fotonya yang sudah dibingkai mahal, lalu Alice memberiku boneka manusia perempuan (katanya agar aku nanti tidak kesepian dan agar selalu mengingatnya), sementara Anna memberiku Kitab, agar aku tetap beragama dan bergantung pada Tuhan, katanya.  

“Ayah, apapun yang terjadi, ayah harus kembali kesini” Jason mulai menangis tak bisa mengontrol diri. Ia sesegukan sambil memukul-mukul bahuku. Ah, Jasonku ini memang pria yang sensitive. Sementara kakak-kakaknya terlihat berusaha keras untuk tidak meledak seperti adiknya.

“Tenang Jason, kalaupun ayah tidak kembali, ayah akan dikenang sebagai pahlawan. Keren kan?” Kataku tertawa sambil menunjuk baju superman Jason yang sedang dikenakannya. “Seperti dia”, ujarku pelan. 

tuuuuuuuuuuuuuuuttuuuuuuuuuuuttttuuuuuuuuuuuuuuuut

Suara sirine sudah berbunyi cukup keras, pertanda aku harus menyelesaikan perpisahan ini dan segera pergi merebut tanah yang dijanjikan.

“Ah, ayah harus pergi. Jason, jangan nangis lagi, jaga ibu dan kakak-kakakmu ya. Nanti kalau sudah besar, kamu juga harus jadi anak yang membanggakan Negara dan keluarga.” Aku segera memeluk Jason dan menciumi wajahnya yang belepotan oleh air mata dan ingus.

“Ibu, Anna, Alice, Ayah harus pergi. Jaga rumah baik-baik. Ayah akan segera kembali”

“Jangan lupa pakai kalungmu!” Kata Amy sambil melambaikan tangannya. Aku mengangguk. Aku balas melambaikan tangan pada surga kecilku–keluarga. 

Aku berlari keluar rumah, memasuki mobil yang sudah disiapkan untuk menjemput tentara-tentara. Semoga kami berhasil. Doakan kami.

——————————tobecontinu