TQ!

Malam ini banyak pelajaran sekali dari sebuah organisasi kecil di kampus yang aku ikuti; Perisai Diri. Yakni sebuah unit yang berbasis kekeluargaan yang menjadi tempat pulang pertamaku di kampus gajah ini. Unit yang aku ga niat akan bertahan lama tapi malah jadi yang paling bertahan.

Disini aku baru sadar, kalau ini adalah tempat yang tidak menuntut banyak. Bahkan tetep saling mendukung satu sama lain untuk mendapat akademik yang baik. Bukan merupakan sebuah lingkungan yang mempertanyakan kepada “pemegang jabatan” tentang: kamu siap DO nggak? seperti yang biasanya dipertanyakan disetiap organisasi di kampus ini. Bukan juga organisasi yang: kamu kok gak dateng sih, banyak tugas? ujian? aku juga sama. 

Malam ini juga aku tersadarkan bahwa aku masih belum memprioritaskan akademik. Berawal dari nasehat seorang sarjana baru (ehm), katanya: ip 3,35 tuh udah aman. Lalu aku sedih karena dapet ip 3 aja udah mati-matian dan baru sekali seumur hidup (eh ketauan b****nya). Tentang pahit getirnya dunia kampus dan betapa tingkat tiga itu akan “menyenangkan”.

Baru kali ini, di itb, aku dapet motivasi untuk ngejar akademik saat lingkungan yang lain justru sering menyuruhku jangan ambis dan woles aja. Malam ini aku bener-bener kaya baru bangun dari tidur panjang dan sadar kalau “hey kamu tuh kuliah buat belajar serius!”

Malam ini juga aku belajar bahwa di masa kuliah seperti ini, setiap orang ‘muncul’ dan berperilaku A atau berprilaku B bukan karena alasan dangkal. Misalnya: si Fulan gak pernah aktif di himpunan, lalu orang-orang berasumsi kayaknya dia males, kayaknya dia ga betah, dll. Padahal bisa jadi alasannya nggak sedangkal ‘males’ atau ‘mager’. Banyak orang yang memiliki masalah diluar kampus atau masalah didalam kampus namun tak ada tempat ‘pulang’ untuk bercerita. Atau si Fulan yang tingkahnya menyebalkan bisa jadi ia lagi terjerat masalah besar yang tiada seorangpun yang tahu.

Itulah kenapa di dunia perkuliahan kita butuh ‘keluarga’ agar bisa pulang saat semua tuntutan sedang menghimpit.

Lalu aku juga yang sempat hilang satu semester terakhir ini diingatkan bahwa tiap-tiap diri kita itu penting bagi organisasi ini. Mungkin perasaan “penting dan tidak penting” ini yang banyak membuat orang kabur-kaburan dalam organisasi manapun. Sejujurnya aku sempat merasa tidak penting ada di sini karena emang aku payah banget dalam bela diri ini. Gak jarang orang yang bilang, kamu bela diri apa nari sih? tapi tenang, ga akan dimasukin ke hati kok karena udah biasa (hahahuhuhu).

Kalau saja PD itu diibaratkan main ucing sumput atau ucing baledog atau ucing apapun, pasti aku jadi anak bawangnya yang pemainnya akan berkomentar “yah wajar aja dia kayak gitu, kan anak bawang”. Tapi hari ini aku mendapat semangat karena kalian membuat aku sadar kalau se-cupu apapun aku dan se payah apapun aku dalam ber-PD, aku dan kalian dan tiap-tiap anggota PD adalah saling berarti untuk semuanya. Terharu banget sih di bagian ini, ga boong. 

Hmmm banyak sekali sih hal berkesan dari obrolan malam ini, semoga kita bisa tetep bersatu dan bersinergis untuk Tuhan, bangsa, dan almamater…………..(eh)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s