soul-die-er

Aku tersenyum mendapati tetanggaku memelukku erat-erat. Menjabati tanganku satu persatu-satu, dan beberapa remaja seperti Allison, Jane, dan George (mereka adalah sahabat Alice, anakku) memberiku sepucuk surat berisi semangat. 

“Semoga kau beruntung! Bawalah kemenangan untuk Negaramu!” Teriak Andy, pria gemuk 40 tahun yang menjadi sahabatku sejak kecil dari balkon rumahnya saat aku berjalan menyusuri komplek untuk menuju rumahku. Aku melambaikan tangan, tersenyum, mengangguk, “Doakan saja!” Sahutku teriak.

Akhirnya sampailah aku kerumahku. Istriku, Amy segera memelukku erat ditambah air mata telah membasahi pipinya.

“Sayang, ini, aku berikan ini untukmu. Pakailah. Keberuntungan semoga menyertaimu.” Ia mengecup keningku, lalu memberi sebuah kalung jimat. Aku menyeka air matanya, tersenyum.

“Aku akan jadi pria Negara ini yang membanggakan. Kau pun harusnya bangga padaku, Amy.”

“Ayaaaaaah” Terdengar suara rusuh dari tangga, mereka adalah Jason (7 tahun), Alice (14 tahun), dan Anna (16 tahun); anak-anak kesayanganku. Mereka juga seperti ibunya; mengeluarkan air mata sambil memberiku hadiah. Jason memberiku fotonya yang sudah dibingkai mahal, lalu Alice memberiku boneka manusia perempuan (katanya agar aku nanti tidak kesepian dan agar selalu mengingatnya), sementara Anna memberiku Kitab, agar aku tetap beragama dan bergantung pada Tuhan, katanya.  

“Ayah, apapun yang terjadi, ayah harus kembali kesini” Jason mulai menangis tak bisa mengontrol diri. Ia sesegukan sambil memukul-mukul bahuku. Ah, Jasonku ini memang pria yang sensitive. Sementara kakak-kakaknya terlihat berusaha keras untuk tidak meledak seperti adiknya.

“Tenang Jason, kalaupun ayah tidak kembali, ayah akan dikenang sebagai pahlawan. Keren kan?” Kataku tertawa sambil menunjuk baju superman Jason yang sedang dikenakannya. “Seperti dia”, ujarku pelan. 

tuuuuuuuuuuuuuuuttuuuuuuuuuuuttttuuuuuuuuuuuuuuuut

Suara sirine sudah berbunyi cukup keras, pertanda aku harus menyelesaikan perpisahan ini dan segera pergi merebut tanah yang dijanjikan.

“Ah, ayah harus pergi. Jason, jangan nangis lagi, jaga ibu dan kakak-kakakmu ya. Nanti kalau sudah besar, kamu juga harus jadi anak yang membanggakan Negara dan keluarga.” Aku segera memeluk Jason dan menciumi wajahnya yang belepotan oleh air mata dan ingus.

“Ibu, Anna, Alice, Ayah harus pergi. Jaga rumah baik-baik. Ayah akan segera kembali”

“Jangan lupa pakai kalungmu!” Kata Amy sambil melambaikan tangannya. Aku mengangguk. Aku balas melambaikan tangan pada surga kecilku–keluarga. 

Aku berlari keluar rumah, memasuki mobil yang sudah disiapkan untuk menjemput tentara-tentara. Semoga kami berhasil. Doakan kami.

——————————tobecontinu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s