Softlensing

Akhirnya I got a pair of soft-lens lagi setelah melewati tahun masuk jurusan yang rada rada rempong sehingga ga mungkin ngurus beginian. Tujuannya apa, aslinya demi apapun bukan untuk ngegaya, tapi ingin menikmati ringannya hidung karena kacamata yang berat hidup saat bisa melihat normal. Jaman dulu waktu pertama kali pake soflens itu rasanya sangat bahagia karena seolah kayak punya mata ‘baru’ yang bisa ngeliat dunia dengan jelas se jelas-jelasnya dan hampang (ringan,red). Berbahagialah Anda yang masih bisa merasakan hal itu tanpa bantuan lensa! Sungguh bahagia! Serius! Sombong dikit ye, jadi sekarang soflen nya warna cokelat, sebenernya kalau ada yang bening mah pasti milih yang bening lah biar ga keliatan. Dulu sih sempet beli yang item, tapi pas dipake……malah kaya setan….jadi aja menyesal.

Meski begitu, banyak sekali prahara dalam hidup ini mengenai kengerian dalam menggunakan softlens. Iya, aku pun tidak terlalu suka karena sebenarnya bisa menyebabkan hal tidak diinginkan kalau kita tidak apik dalam penggunaannya. Apalagi kemarin-kemarin sempat ada berita tentang wanita yang matanya buta karena pake softlens. Ternyata penyebabnya adalah dia memakai softlens tersebut selama enam bulan tanpa dicopot! dibawa tidur, dibawa renang, dan dibawa nangis! gila ga! yaiyalah matanya jadi rusak, itu mah salah sendiri.

Jadiii mungkin ini beberapa tips agar tetap selamat dalam pakai soflens (sumber: orang di optik dan lain-lain): 1. Kalo bisa dipake maksimal 8 jam. 2. Sesuaikan diameter–kalo bisa yang kecil diameternya biar oksigennya masuk, tapi kalo soflens buat cosplay dan butuh yang gede biar keliatan soflennya sih yaudah sok aja. 3. Sesuaikan kadar airnya dengan mata kita. 4. Setiap setelah dipake, cuci dulu pake (duh apa sih namanya) cairan desinfektan, caranya cuci tangan dulu, lalu tuangkan ke telapak tangan kita si cairannya, dan bersihkan soflens menggunakan ujung jari telunjuk. 5. Setelah dibersihin, masukkan ke lens case nya dan jangan lupa untuk merendam si soflens dengan cairan desinfektan tersebut. Kalau bisa sih tiap tiga hari sekali cairannya diganti (kalo soflennya ga dipake). 6. Jangan kebalik antara kanan dan kiri. 7. Jangan kebalik cekungannya. 8. Tangan harus bersih dalam menyentuh soflens. Kurang lebih begitu deh, semoga manfaat dan jangan takut! Tapi hati-hati juga yaaaaaaaaaa

Kalau

20140819-055426 AM.jpg

Kalau kau bilang benci
Aku juga merasakan lebih dari itu
Tak sukaku lebih dari yang kalian tahu
Lebih lama dari bagaimana orang mengenalku
Karena usianya, berumur seperti aku
Sudah kubilang
Aku sungguh lebih memilih jadi mentari
Meski ia mati, tapi ia telah memberi terang pada semesta
Tapi bodohku
Aku tidak se mentari itu

Ya Allah tapi aku sangat mau!

Wedding!

Selamat untuk dua orang teman yang sudah mulai berkeluarga dihari ini!

Yang perempuannya adalah teman cukup dekat waktu kelas 3 SMA dan bahkan waktu TPB kita belajar bareng terus meski beda fakultas :” Lalu yang lelakinya adalah teman yang setiap hari aku lihat dia danus dikampus. Saat aku bertanya untuk apa, katanya untuk diri sendiri. Akhirnya aku tau, semua danusan itu untuk hari ini dan seterusnya bersama wanitanya. Soooo sweet.

Selamat kaliaaaaaaaaan semoga all the best dan barakallah!

xoxo

Doraemon

Sejak aku masih kelas 2 SD hingga entah kapan, hal yang paling membuatku bahagia adalah sebuah hal yang cukup sederhana: Ke Gramedia dan beli komik Doraemon.

Seusai mendapatkan komik Doraemon, aku sesegera mungkin membuka sampulnya, dan mulai membaca di mobil saat perjalanan pulang. Padahal, komik tersebut biasanya habis sebelum malam hari. Lalu aku ulang lagi, ulang lagi dan tidak bosan sama sekali. Aku tidak pernah bisa tidur jika sebelumnya aku tidak baca, mungkin itu sebab utama kenapa hari ini aku menjadi satu-satunya orang dirumah yang miopi. Ya, itu, karena selalu membaca sambil tidur–tiap malam selama bertahun-tahun.

Sampai hari ini aku masih ingat halaman mana yang membuatku ikut sedih, dan halaman mana yang aku tertawa sampai keluar air mata. Saat cerita tentang Nobita menemukan buku tentang hari kiamat dan ternyata semua tanda-tandanya benar terjadi, itu adalah part yang paling menyedihkan bagiku saat itu.

Ada juga buku yang paling sering aku baca berulang-ulang. Yaitu saat mereka berpetualang di Arabian Night. Kuyakin kalian pasti sudah menontonnya. Ada juga yang membuatku tergelak, tapi padahal itu tidak lucu. Yaitu saat nobita melihat dirinya waktu bayi dan ia bilang, “kok aku seperti monyet yaa”.

Doraemon juga merupakan langkah awal dari hobiku yang dahulu (ingat, dahulu) yaitu membaca. Setelah aku menyukai doraemon, aku menjadi suka buku lain. Seperti buku Enid Blyton, dan novel-novel kecil. Dulu, aku tak pernah menyisakan satu bukupun dirak yang tidak dibaca. Setiap ke Gramedia, aku merasa excited yang sangaaat dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Hingga akhirnya hari ini semuanya menguap. Aku tidak mau menyalahkan kuliah atau sok-sibuk-ku yang lain.

Aku jadi malas dan sama-sekali tidak antusias saat ke toko buku. Hanya penulis yang aku sukai saja yang aku baca bukunya; itu pun tidak akan langsung habis sehari.

Ah aku jadi rindu Doraemon yang bisa membuatku rajin baca buku (exception: buku pelajaran)–meski rajinnya tidak penting.

A Box of Mysteries

Adil memang belum disini tempatnya. Adil juga sebuah misteri yang jawabnya bisa berupa takdir apapun diwaktu terbaiknya.

Rasanya tidak adil seorang aku yang pemalas bisa dengan mudahnya masuk PTN (karena keajaiban). Aku yang try out bimbelnya ada di peringkat ratusan, yang sholat duha dan tahajudnya sering bolong.

Rasanya tidak adil juga saat seorang yang try out bimbelnya ada di peringkat atas, bersekolah di sekolah favorit yang notabene mudah masuk jalur undangan, dan tidak pernah bolong sholat duha dan tahajudnya justru begitu banyak rintangan untuk bisa masuk universitas yang diinginkannya.

Untungnya, adil memang belum disini tempatnya.

Abu Thalib dan Bara Api

Menyedihkan sekali.

Azab paling ringan yang ada di neraka adalah bara api yang diinjak oleh Abu Tholib yang dapat mendidihkan otak dikepalanya. ‘Sayang’nya, itu hanya akan berlaku untuk Abu Thalib dan sayangnya lagi itu adalah azab ter-ringan. Jangan tanya bagaimana yang menengah atau yang terberatnya. Jangan.

Lalu apa jadinya jika manusia lain yang terjatuh kedalam neraka. Yang bukan Abu Tholib.

Seperti apakah rasanya azab yang lebih dari ‘bara api diinjak oleh telapak kaki dan dapat mendidihkan otak’ kita? Tidak ada yang mau tahu jawabnya. Manusia hebat mana pula yang bisa menahan azab paling ‘ringan’ tersebut?

Menyedihkan sekali.

Neraka paling ringanpun rasanya aku tak sanggup, aku tak mau. Lalu surgapun masih jauh dari pantas bagi diri ini untuk menikmatinya.

Ah, ikhlas.

Mana ikhlasmu kalau masih memikirkan surga-neraka.