Para Penunggu Hujan

untuk para penunggu hujan yang terlalu muak dengan kehidupan

Gersang ini memusingkan. Aku jadi kagum sekali pada ibunda Ismail, Siti Hajar. Ia berlarian di gurun pasir demi mencari setetes air, demi sang anak. Kau tak perlu kuberitahu lagi seberapa panasnya gurun di timur tengah bukan?

Gersang ini membuat aku semakin berdahaga, mungkin aku hampir mati dehidrasi. Akupun jadi kagum pada para prajurit Perang Badar. Mereka mengorbankan diri mereka untuk agamanya disaat bulan Ramadhan. Tentu sambil berpuasa, dan tentu tak perlu lagi aku katakan kalau bulan Ramadhan selalu menjadi bulan ter’panas’ disana.

Aku tak sanggup. Panas ini rasanya akan segera melelehkanku dari ubun-ubun hingga ujung kaki. Aku jadi bertanya-tanya mengapa Mashitoh tetap bisa bertahan dalam keyakinannya padahal Firaun akan memasukkannya kedalam kuali besar yang panas? Seberapa tahan panas-kah ia sampai mau memegang dengan kuat keislamannya?

Panas ini hampir-hampir membuatku bunuh diri. Gersang ini hampir saja membuatku putus asa. Aku sempat lupa, bahwa hujan pasti akan datang. Sebagaimana munculnya air zam-zam setelah ibunda Ismail bersusah payah mencari kemana-mana. Sebagaimana bala bantuan pasukan malaikat dari Allah kepada para prajurit perang. Juga seperti surga yang dijanjikan kepada Mashitoh.

Katanya, jika hujan masih belum turun juga, artinya aku memang belum mengerahkan seluruh tenagaku untuk menghadapi kegersangan ini. Mungkin aku masih harus berjuang sedikit lagi untuk menemukan air zam-zamnya bunda Hajar. Yang kutahu, aku masih harus bertahan. Karena hujan pasti akan datang. Hujan pasti akan menyegarkan kembali diriku yang lelah dan hampir putus asa.

Mungkin sekarang hujan sedang menyapa para syuhada di tanah Gaza, siapa yang tahu? Atau ia sedang membasuhnya agar keberkahan senantiasa tumbuh di kota bersimbah darah itu. Bahkan bisa jadi hujan sedang menyemangati wanita dan anak-anak di Suriah, dan para manusia yang sebatang kara ditinggal mati semua keluarga. Biarlah hujan membasahi mereka yang terlalu kering dulu.

Sebentar lagi, sebentar lagi hujan akan membasahimu, wahai pejuang yang telah habis peluhnya.

Advertisements

One thought on “Para Penunggu Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s