X-Factor

Drafr 08/03/2014

Bukannya mau sombong meskipun sombong, tapi nem waktu aku SMP menuju SMA itu lebih besar dari kedua adikku. Bukan pula mau menyalahkan takdir, aku hanya bertanya-tanya mengapa mereka berhasil masuk SMA favorit sementara aku ditolak oleh kedua SMA tersebut.

Bayangin ya na, kalau aku jadi angkatan kamu, atau jadi angkatan sebelum aku, atau setelah aku, pokonya bukan jadi angkatan aku, aku bisa masuk SMA knowledge is power but character is more. Terus, Yut, aku juga, bisa banget masuk ke SMA kamu kalau aku bukan ada di angkatan 2012. Kenapa sih?

Aku bertanya-tanya di mobil saat mengantar adik ke suatu SMA di Bandung. Sebenarnya bukan benar-benar bertanya, tapi hanya sekedar keluhan dan luka lama yang tergores kembali jika mengingat masa-masa mau masuk SMA tersebut. Iya, aku tau hikmahnya apa, aku memang hanya ingin mengeluh saja. Fyi sih ya, angkatan aku waktu itu tuh parah abis, nem-nem di sma cluster satu tiba-tiba menjulang tinggi. Dan parahnya lagi, temen-temen (bukan temen smp) yang nemnya lebih kecil dari aku bisa masuk ke SMA favorit yang nem-nya harusnya gak cukup. Keliatan banget nggak fair-nya. Tapi angkatan diatas dan dibawah aku tuh nem nya kembali normal dan membuatku dulu menyesal kenapa ada di angkatan ini.

Kenapa opi waktu snmptn males-malesan tapi bisa masuk ITB. Waktu SMA juga opi susah banget masuk rengking tiga besar, tapi malah gampang banget masuk kuliahnya. Kenapa? Terus kenapa Ena yang belajarnya 180 derajat beda dengan kamu malah sampe sekarang belum masuk kuliah? Padahal dia di SMA favorit yang harusnya gampang keterima undangan. Padahal dia rajinnya parah dan lebih sering sholat malam dan sholat dhuha daripada kamu, tapi sekarang masih harus belajar buat tes-tes mandiri PTN. Kenapa?

Itu balasan mereka atas keluhanku tadi.

Kalau opi gak masuk alcent, gak ada temen-temen sma yang sampe sekarang masih sering kerumah kan? Mungkin juga gak akan keterima kuliah dengan gampang kayak sekarang.

Itu lanjutan balasannya.

Banyak sekali x faktor dalam hidup ini yang dalam mengetahuinya kita hanya harus melakukan satu hal: sabar. Klise banget ya.

Bisa saja dulu aku ikut-ikutan orang lain dengan masuk SMA favorit lewat ‘jalan belakang’, tapi itu juga akan mengakibatkan aku mungkin ga akan kuliah bukan disini.

Banyak hal pahit yang harus kita telan sekarang, tapi waktu akan menjawab kenapa kita harus menelan pil pahit tersebut. Sabar dan take it easy ajaa~

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s