Little Things

Aku punya sebuah permainan!

Jadi begini, siapkan dulu selembar kertas dan sebongkah pulpen

Terus buat dua kolom

Kolom pertama (paling kiri) isi dengan hal-hal primer dalam hidup. Contohnya: Sholat, keuangan, akademik, silaturahmi,organisasi, ibadah sunnah, dll

Udah gitu kolom kedua, isi dengan perubahan kecil (atau sangaaat kecil) mengenai hal-hal primer tadi. Misal nih ya, disamping kolom sholat, isi dengan: “sholatnya pake tumaninah” (untuk yang solatnya udah 5 waktu tapi kecepetan), atau “sholatnya tepat waktu”, atau untuk yang suka bolong-bolong tulis aja “sholat ga pernah bolong”.

Lalu untuk kolom keuangan, misalnya untuk yang gak pernah nabung, tulislah “sehari nabung 2000, makan minimal yang 15ribu dan sisihkan 1000 tiap hari untuk infaq” atau “puasa tiap senin kamis, buka puasanya harus dirumah biar irit, nabung 5000 perhari dan infaq 20ribu perminggu” yaa ini mah contoh aja sih, turuti aja apa hati kamu dan kebutuhan kamu.

Terus misal untuk kolom akademik, tulis aja: “nyatet semua pertemuan” atau “duduk di depan terus biar konsen” atau kalau aku sih yah “catetnya pake warna-warni biar gampang inget” yaa ini mah contoh aja sih, turuti aja apa hati kamu dan kebutuhan kamu.

Yang ketiga kolom silaturahmi, tulis aja: “ngewaro grup line temen lama” atau “mencoba dateng ke sekre yang sudah ditinggalkan” atau “berkunjung ke rumah sepupu” atau bagi anak kosan “telepon ortu sehari minimal sekali” yaa ini mah contoh aja sih, turuti aja apa hati kamu dan kebutuhan kamu.

Selanjutnya untuk kolom ibadah sunnah, misal bagi yang sunnahnya masih nol, tulis aja “minimal seminggu ada sekali solat rawatib” atau “sebulan tiga kali solat malem” yaaa pokonya tulis aja yang ringan-ringan dan masih terjangkau dan tidak begitu memberatkan.

Tulisan di kolom kirinya jangan banyak-banyak juga sih bisi capek. Nah, udah gitu, inti permainan ini adalah tulis nama bulan diatas kolom tadi. Contoh : Juni.

Lalu laksanakanlah hal-hal di kolom kanan semuanya selama bulan Juni ini. Jadi yang harus dilakukan dibulan juni adalah : (contoh) sholat pake tumaninah, nabung 2000perhari, ga tidur pas pelajaran, nelpon ortu sering, solat malam sebulan tiga kali.

Lalu jika bulan Juni sudah berganti, tulis lagilah hal yang sama namun dengan pencapaian yang berbeda.

Jika kamu berhasil, maka belajarlah menghargai diri sendiri yaitu dengan membiarkan hedon misalnya, atau membiarkan nonton, atau ga ada hadiah sama sekali juga gapapa sih suka-suka aja.

Enjoy!

Maafin kalau so asik hahahahahaha.

Selamat

Sebenarnya dari kisah sejarah tentang Idul Adha ini ada pelajaran banget.

Tentang nabi Ibrahim dan Ismail……….(terus pada langsung diclose tab nya).

Pelajaran utama dari pergaulan waktu aku masih masa SMA adalah “cara untuk memahami orang adalah dengan ngebayangin kita ada di posisi orang itu” (source: nida nain dila dkk). Quotes tersebut masih membekas banget di relung hati terdalam ini.

Maka, mari kembali kepada nabi Ibrahim. Bayangin kalau kamu adalah seorang ayah. Lalu disuruh untuk berpisah sama istri yang baru melahirkan (siti hajar baru melahirkan ismail). Sedih pisan kan ya. Yang ada, kalau punya anak kan pengennya dirawat bareng, dicoco-o, disayang-sayang, dan ga mau jauh-jauh. Tapi nabi Ibrahim lebih taat sama Allah untuk ngerelain istri dan anaknya pergi.

Lalu sekian tahun kemudian, istrimu dan anak yang sekarang udah besar pulang. Kangen banget ga? Seneng banget ga? Bahagia banget ga kaya naik ayunan waktu tk dan dilempar kenceng-kenceng sampe dada excited banget? Iya kan ya. Tapi ternyata……………………ada perintah untuk meng-kurbankan anakmu itu. Anak sendiri, disuruh disembelih. Bayangin seberat apakah keputusan untuk memilih merelakan Ismail-yang baru ketemu setelah sekian tahun pisan–untuk dikurbankan. Wah kalau aku sih bakal mikir berkali-kali atau bahkan langsung memutuskan untuk ga akan melakukannya.

Tapi beginilah cinta manusia diuji. Apakah ia lebih cinta pada Penciptanya atau kepada manusia? Toh pada akhirnya, saat Ibrahim lebih memilih cinta Allah, ia tetap mendapatkan Ismail tanpa dikurbankan sedikitpun kan? Bahkan ia mendapat nikmat yang lebih banyak daripada itu.

Manusia, jangan lagi meniadakan yang mengadakan.

Kecuali kamu memang sangat kuat, bisa hidup dan mati sendiri,  bisa bikin oksigen sendiri, bisa hidup di bumi punya sendiri, dan badan bikinan sendiri. Selamat.

bingcongekam

Aku memasuki angkutan umum, pukul 20 lewat 14 menit. Harusnya aku pulang ba’da maghrib, tapi karena bertemu dua teman lama, jadi kami berbincang dulu hingga lupa waktu. Aku sekarang duduk dengan seorang laki-laki dan seorang perempuan didepanku. Mereka sedang berbicara seru sekali. Yang perempuan, berambut hitam sebahu dengan baju pink lengan pendek dan jeans–sangat typical untuk mahasiswa dikampus ini. Namanya mungkin Agnes. Yang laki-lakinya juga sama saja, maksudku, berpakaian seperti mahasiswa dikampus kami. Ia bernama Setia.

Aku menoleh kepada keributan di kiriku, rupanya ada sepasang lagi. Yang perempuan berkaca mata dengan rambut tipis sepunggung, dan manis wajahnya. Namanya…menurutku dia cocok bernama Ayu. Laki-lakinya terlihat sangat senang mendengarkan perempuan itu berceloteh, lelaki ini kupikir namanya Kevin. Mereka membicarakan hal serius seperti tentang kuliah bahkan sekali-kali tentang politik. Entah kenapa sekali-kali mereka tertawa–padahal tidak ada lucunya. Mungkin sedang saling memiliki perasaan.

Berbeda dengan pasangan didepanku yang membicarakan hal-hal bodoh dimasa lalu. Setia bercerita bahwa waktu SMA dia sering bertanya pada guru hingga dimarahi. Agnes juga bercerita kalau dia hobi lypsync saat menunggu dosen. Aku sedikit menahan tawa mendengar obrolan mereka.