Reminder.

Pernah ga sih kepikiran hal-hal yang biasanya dihindari dipikirkan oleh manusia?

Kemarin aku sempat selintas berpikir, apakah nanti diakhir hayat, aku dapat menaruh lenganku diatas badanku seperti orang sholat? Atau justru tidak bisa? Apakah wajahku saat itu cerah? Atau justru dengan mulut terbuka dan mata melotot kesakitan? Apakah saat itu aku yang tiada apa-apanya ini dipedulikan oleh manusia? Atau hanya dibiarkan tergeletak dan tidak ada seorangpun yang mengenalku saat itu? Apakah saat itu aku terlalu menyusahkan orang? Apakah aku bisa mengucapkan namaNya diakhir hayat sebagai pertanda diriNya selalu ada dalam diri disaat hidup? Atau justru aku mengucap nama lain yang…………(aku tak berani bilang)

Terlalu banyak hal yang bisa terjadi diluar kendali diri saat itu, saat nyawa sudah entah dilangit atau dijatuhkan dipanasnya bumi. Saat mata benar-benar bisa melihat dengan jelas apakah kita termasuk orang bodoh saat hidup atau tidak. Saat para malaikat bisa saja terlalu marah pada kita karena begitu hinanya diri ini, atau saat mereka justru tersenyum menyambut kita dengan wewangian surgawi.

Ah, aku terlalu egois. Aku tak mau diperlakukan buruk saat itu. Aku ingin diakhir hayat masih bisa memangil namaNya, dengan wajah cerah dan rindu padaNya, dengan segala proses yang mudah dan tidak merepotkan manusia. Tapi hidupku masih seperti ini………..

Aku pernah dengar tentang 10 ciri orang bodoh. Salah satunya ialah mereka yang takut neraka tapi tak mau menghindari keburukan. Ingin surga, tapi tak ada usaha untuk mencapainya. Takut mati, tapi tak ada usaha agar kematiannya tidak sulit.

Aku yang egois. Ingin memiliki akhir hidup yang baik, tapi hidup tetap seperti ini. Tetap menjadi budak duniawi. Terkadang takut akan kematian, tapi hanya sebatas takut saja. Tiada usahanya. Maka, bolehkah aku menuliskan tentang harapanku tentang akhir hayatku? Agar setidaknya aku melakukan hal lain selain ‘merasa takut’. Dan tulisan ini, semoga jadi pengingat untuk diri sendiri, bahwa akhir yang baik berawal dari proses yang baik pula.

Dan aku adalah orang yang ketinggalan jaman jika membiarkan impian tetap jadi impian. Termasuk impian untuk kehidupan setelah ini–yang hanya bisa diusahakan sekarang dan tak boleh lagi dinanti-nanti.

 

Wish you&I have a khusnul khatimah! 

one in million

Ternyata, diantara sepertakhingga kemungkinan, kita bisa hidup berada dalam era yang sama

Ternyata, diantara sepertakhingga kemungkinan, kita bisa berada dalam wilayah yang sama

Ternyata, diantara sepertakhingga kemungkinan, kita bisa berada dalam usia yang sama

Ternyata, diantara sepertakhingga kemungkinan, kita bisa berada dalam lingkaran dan berelasi

Banyak kemungkinan-kemungkinan tentang kita yang telah diiyakan takdir

Kini aku hanya bisa bertanya-tanya

Apakah diantara sepertakhingga perasaan manusia, kita bisa memiliki perasaan yang sama?

Kalau aku? Aku, aku senang mengenalmu

Tapi kalau kamu tidak senang, tak apa. Mungkin kita akan punya lain waktu dan kemungkinan lain

Maaf untuk aku yang tak tahu diri

Space

Sejenak, marilah tinggalkan kehidupan duniawi semester lima ini yang terlalu sesak dan tak pernah memberi spasi.

Kalau aku bercerita tentang kelelahan dan rasa mau mati disemester ini,  kamu juga akan lelah membacanya, karena kamu pasti lelah juga dengan urusanmu sendiri. Kalau aku mengeluh, maka aku akan jadi orang paling menyebalkan. Jadi biarlah aku tenggelam dalam penat ini. Kamupun, nikmatilah saja lelahmu.

Aku cuma ingin cerita tentang kepasrahan. Bahwa yang paling indah diantara deadline akademik dan nonakademik bukanlah nilai atau penghargaan manusia. Tapi kepasrahan. Kalau aku menyebutnya dengan ‘tawakal’, aku tak yakin ada orang yang baca tulisan ini hingga akhir.

Pasrah muncul setelah aku merasa seluruh dunia tidak pernah adil. Pasti kamu juga selalu merasa begitu, bukan? Saat usahamu sudah maksimal sampai berdarah-darah tapi semua orang rasanya——-melihatmu seperti hantu yang tidak bekerja apa-apa. Atau justru mebiarkanmu memikul beban itu sendirian. (eh tapi sumpah temen2 aku sih ga pernah biarin aku susah sendiri seperti minggu lalu, pokonya lovyou somuch buat wanita baruna yang bantuin segala hal sampe terharu pengen nangis *curhat dikit*). Mungkin kamu juga rasanya ingin hilang saja karena terlalu lelah dan lelahmu tidak ada hasilnya.

Setelah rasa itu menyerang, janganlah mencoba bunuh diri atau kabur. Besarkan hati, tarik nafas sejenak, dan yakinkan diri bahwa Allah menyimpan semua lelah kita. Kalau lelah tak terbayar sekarang, mungkin itu sengaja disimpanNya untuk menyelamatkan di kehidupan selanjutnya. Jangan, jangan hanya mengazamkan dalam hati. Tapi sekali-kali turunkanlah ego, dan angkat kedua tangan untuk bicara langsung denganNya dan minta agar lelahmu disimpan dulu.

Satu hal lagi, kalau mencari penghargaan dari manusia, itu hanya akan membuatmu semakin lelah.

 

Bullying

Am I the one here who can’t help seeing any kind of bullying?

Jadi hari ini aku merasa kalau disetiap jaman dan disetiap tempat bisa saja selalu ada praktek buli-membuli. Sewaktu aku masih berada di sekolah dasar, aku memiliki seorang teman yang selalu dibully. Mungkin disekolahmu juga, atau bahkan mungkin kamu adalah korbannya atau malah yang suka membullynya? Terserah. Temanku itu saking kesalnya pada teman-teman lainnya, ia menulis dan meneriakkan; “kalau aku mati, aku sumpah bakal menghantui kalian semua”, sambil menangis dan mengepalkan tangannya. Aku masih sangat ingat bagaimana ekspresinya saat itu. Yah, anak kecil sih, tapi serem juga.

Atau hari ini, di sebuah sekolah dasar di jaman yang berbeda, ternyata buli-membuli itu masih ada. Pada dasarnya, orang yang dibully itu adalah orang yang ‘menyebalkan’. Tapi tidak sepatutnya diperlakukan dengan dijauhi, tidak ditemani, bahkan tadi itu–digelutan.

Aku bukan mau cerita disini sebagai sok-sok psikolog atau gimana, tapi rasanya kalau dibullynya sejak kecil takutnya akan menumbuhkan psikologi yang jelek dimasa depannya. Bahkan psikologis jelek bisa jadi akan tumbuh seiring seringnya dibully. Iya enggak para sikolog?? (wqwq) Hal kayak gitu bisa jadi menimbulkan dendam dan kesal yang jika meledak akan parah–dan aku tak mau bercerita bagaimana tadi kasusnya.

Bahkan di dunia ‘dewasa’ sekarang ini, secara tidak langsung aku masih suka heran, kenapa sih selalu ada orang yang diperlakukan ‘berbeda’, may I say that it was a kind of bullying? Karena aku merasa kesendirian itu menyebalkan dan membuat ingin muntah–meskipun mereka tidak lagi seperti anak kecil yang maenannya gelut dengan senjata ‘tajam’. Unless you’re perfect, mendingan diem aja dan mencoba berteman dengan semua orang meskipun menyebalkan. Kalau dibilang munafik karena berteman dengan orang yang tidak disukai, lalu berarti seumur hidupku aku adalah orang munafik karena aku benci diri sendiri tapi tetap mencoba berteman dengannya. (eh apaan jadi oot).

Hari ini menyedihkan. Semoga sukses dan mendapat teman banyak di masa depan, Kew!