Cari Aman

nemu di draft bulan 07 tanggal 29 tahun 2014

Aku paling benci kalimat itu: Jangan cari aman.

Kalimat ini sering sekali terdengar saat aku mengikuti diklat dan osjur. Kalimat ini pula yang berhasil membangkitkan emosi lengan untuk mengacung meski entah nanti mau ngomong apa. Kenapa aku benci? Karena aku memang merasa sedang cari aman, dan orang yang bilang begitu terasa seperti sedang mencemoohku meski kenyataannya tidak. Lalu kenapa aku malah jadi mau mengacungkan tangan? Entah, mungkin aku hanya ingin membuktikan pada diri sendiri kalau aku sedang tidak cari aman.

Suatu hari aku pernah berpikir, kenapa hidupku sebegini aman-nya. Kalau lihat perjalanan hidup manusia-manusia hebat, mereka selalu mengalami rintangan tak habis-habisnya. Seperti Rasulullah SAW yang dianggap sesat dan gila, bahkan dilempari kotoran dan diperlakukan buruk oleh petinggi negaranya. Seperti juga Zainab Al-Ghazali yang dipenjara, diperkosa, dan disiksa habis oleh pejabat Mesir dizamannya. Atau Sumayyah, wanita hamil yang dibunuh dengan cara ditusuk kemaluannya hingga tombak tersebut menembus bayi diperutnya. Mungkin zaman sekarang bisa kita lihat di Gaza, sudah ratusan atau mungkin ribuan syuhada yang mengalami perihnya hidup.

Naira kemarin bertanya, 

“Teh, kalau orang Islam mah dunia teh jadi kayak neraka ya biar nanti diakhiratnya masuk surga?”

 

 

 

jasmerah

nemu di draft, bulan 08 tanggal 06 tahun 2013

Kata bung karno sih kita itu harus Jas Merah, artinya jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Setuju sekali dengan quote dari kata Bung Karno tadi, kita seharusnya menengok kebelakang dan mempelajari kesuksesan orang sukses dan meninggalkan kesalahan orang salah.

Sebenarnya ada pola sangat menarik dari kehidupan manusia sejak jaman Nabi Adam. Ada suatu pola yang terus terulang-ulang dari jaman ke jaman. Kalau saja semua orang menerapkan baik-baik jas merah dalam hatinya, mungkin pola ini tidak akan terjadi. Sayangnya, tidak. Banyak yang menempatkan sejarah hanya sebagai pelajaran membosankan saat sekolah. Sama sih aku juga.

Polanya itu seperti ini:

Ada sebuah masyarakat yang hidupnya tidak teratur. Mereka mengikuti jejak nenek moyang, menyembah apa yang nenek moyang mereka sembah. Lalu datang seorang Rasul, sayangnya rasul itu adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Jadi aja dia nggak begitu dipercaya dan malah dihina dina. Kalau rasul itu ada dalam diri seorang yang mereka agungkan, mungkin mereka bakal mengikuti (mereka berdalih sperti itu). Udah gitu, rasul dikasih mu’jizat untuk membuktikan kebenarannya, sayangnya masih aja masyarakat itu nggak percaya. Akhirnya, masyarakat tersebut diazab karena terlalu keras kepala.

Lalu terulang, laul terulang, hingga akhir zaman kini.

Lihat kisah nabi Idris, Nuh, Hud, Saleh, Ibrahim, Luth, Ismail…….dst. Atau kalau ragu, boleh saja tengok surat Al-Anbiya. Atau surat belasan (duh lupa).

Biar lebih meyakinkan, lihat saja akhir zaman ini.

Lihat. Pikirkan baik-baik.

Sudahkah melihat pola yang sama?

Let me know if u feel the same! ^^

who’s time?

Me-time itu awalnya memang menyebalkan–teringat aku dulu bukan orang yang sama sekali suka sendirian. Tapi ada kalanya dimana kamu-harus-sendirian. Dan aku kini sudah berdamai dengan itu. Bahkan sudah mulai nyaman dengan diri sendiri. Mulai nyaman dengan makan siang di Jalan Riau sendiri. Mulai nyaman dengan hunting barang sendiri. Yet i’m still dad’s girl yang lebih nyaman lagi kalau pergi bareng keluarga.

Family-time. Awalnya aku bosan, karena setiap minggu kami bepergian. Ke saparua lagi. Ke gramedia lagi. Ke ujung berung lagi. Ke Ngopi Doeloe lagi. Setelah masuk kuliah, family time itu menjadi mahal dan amat baik untuk recharge diri. Dimana bisa cerita apa saja yang tidak pernah penting bagi siapapun. Dimana aku bisa mengenalkan teman-teman yang tidak mereka tahu wajahnya. Dan lagi-lagi, tempat berantem sebagai pelampiasan banyak tugas.

Kampus-time. Aduh……capek ceritainnya, tapi bermangfaat kok insya allaaaaah

Friendzone (eh salah). Friends-time. Selalu menyenangkan. Tapi duit juga menangis………………………..

Jadi, bagaimana mengatur waktu? Bagaimanakah cara terbaik untuk memberikan waktu kepada Yang Memilikinya?

Pergilah Wahai Mimpi-Mimpi Fana

Draft tanggal 12 Juni 2014

Waktu smp aku selalu diajarkan oleh setiap guru, bukan hanya guru agama–bahkan guru ips, guru ipa, guru tik–bahwa orientasi hidup itu harus ditujukan kehidupan yang abadi.

Kemudian setelah aku melihat dunia, semua manusia malah mencoba meruntuhkan kalimat tersebut. Semua orang begitu ambisius dengan mimpinya masing-masing–namun mimpi yang orientasinya dunia. Aku sempat malu saat SMA, disaat semua orang meneriakkan mimpinya masing-masing dan aku hanya terdiam. Aku jadi apapun mau, asal selamat. Inginnya sih aku bilang begitu, tapi apa daya. Aku merasa takut dan lemah akan ‘mimpiku’ saat berada dilingkungan yang sangat akademis.

Pikirku saat itu, why dont we focus on one thing. Yaitu bagaimana agar selamat sampai akhir nanti. Tapi untuk mencapai itu, bagaimana? dengan ‘sarana’ apa aku berjalan menuju itu? jadi dokterkah? guru? jadi anak teknik kah?

Jadi, sekarang aku sudah punya mimpi yang tidak terlalu fana:

jadi oseanografer dan atau jadi dosen dan atau jadi penulis dimana ketiga profesi tersebut akan menghantarkan aku menuju cita-citaku yang sebenarnya. Dengan jadi dosen dan penulis aku ingin bermanfaat untuk seluruh manusia dengan ilmu yang (semoga) terus mengalir dikalangan manusia.

–dan oh, tentu saja aku juga harus jadi anak solehah bagi kedua orang tua agar aku bisa menyelamatkan mereka dikehidupan selanjutnya.

Kalaupun nanti aku berakhir hanya jadi ibu rt saja, tak apa (asal suaminya kaya). semoga itu bisa jadi sarana juga untuk menghasilkan generasi islami yang meneruskan perjuangan Rasul.

 

Bermimpilah untuk akhirat, maka kau akan menggenggam dunia.

 

Twenitwo

20150117-085121 PM.jpg

I dont know about you
But I’m feelin’ twenty two
Everything will be allright
If you keep me next to you~

Semoga jadi teman hidup sampai akhirat!
Selamat ke 22 ayah&mamah!
Mwah!

#NotInMyName

“Je Suis Charlie.”

Merupakan kalimat yang didegungkan dimana-mana sebagai suatu bentuk dukungan terhadap Charlie Hebdo yang kemarin diserang oleh –what they called by– terrorist.

7 Januari kemarin, kantor Charlie Hebdo diserang oleh ‘teroris’ sehingga terdapat 12 korban meninggal terbunuh, 4 dari mereka adalah kartunis. Alasannya ternyata diketahui setelah para teroris itu selesai melakukan pembunuhan. Mereka berteriak “We have avenged The Prophet Muhammad” lalu, “Allahu Akbar”. Hal ini disebabkan Charlie Hebdo ini telah banyak mengkartunkan Nabi Muhammad (dan pelecehan terhadapnya).

Sebagai seorang muslim, tentu sedih mendengar adanya pembunuhan yang mengatasnamakan agama dan nabi yang selalu kami agungkan. Mau dengar sedikit cerita tentang Rasul yang dulu selalu dihina oleh nenek buta Yahudi?

Setiap hari, selalu ada nenek buta di pinggir jalan (pengemis) yang selalu mencela nabi Muhammad setiap paginya. Hingga suatu hari, nabi Muhammad wafat. Abu Bakar kemudian bertanya pada Aisyah RA, “Apa yang biasanya Rasul lakukan namun belum aku lakukan?” kemudian Aisyah menjawab, “Rasulullah selalu memberi makan nenek tua di pinggir jalan itu, ia selalu menyuapinya”. Abu bakar heran karena nenek tua itu adalah orang yang paling rajin mencela nabi. Abu bakar kemudian melakukan hal yang sama seperti Nabi; menyuapi nenek itu. Tapi nenek itu malah berteriak,

“Kamu bukan orang yang biasa menyuapiku! Ia biasanya melembutkan dulu makanan yang akan ia suapi padaku! Mana orang yang biasanya menyuapiku?”

Abu bakar menjawab, “Beliau sudah wafat. Beliau adalah Nabi Muhammad SAW yang selalu engkau cela”. Nenek itu pun menangis, terharu.

Untuk orang yang menyetujui pembunuhan atas nama agama dan nabi, bisa beri aku suatu contoh dari Rasul yang mengajarkan bahwa hal itu diperbolehkan? Mereka bilang mereka telah ‘membalaskan’ Nabi Muhammad? Ah, kurasa tidak. Mereka justru ‘melecehkan’ nabi Muhammad dengan cara membunuh atas nama beliau. Lihat saja respon dari seluruh dunia. Kini mereka kembali mengatakan Islam adalah kekerasan, identik dengan pembunuhan, kejahatan, dan hal-hal sejenis. Jauh dari Islam yang sebenarnya.

Masih ingat sejarah bahwa Yerussalem pernah menjadi kota 3 agama dengan kepemimpinan Islam–dan hanya dengan kepemimpinan Islam? Sebelum Islam datang ke Yerussalem, tempat itu pernah ‘haram’ untuk Yahudi selama bertahun-tahun, dan pernah juga kaum Nasrani dibantai oleh Yahudi setelahnya (saat Yahudi sempat berkuasa). (source: ensiklopedi kota Islam) Mereka dimasa itu benar-benar telah melaksanakan Islam sehingga kedamaian bisa tercipta.

Sebagai muslim, hal yang harusnya kita lakukan adalah menunjukkan Islam itu seperti apa–dengan melaksanakan aturanNya dan bukan didasarkan hawa nafsu semata. Bukan dengan cara menyuruh mereka mempelajari Islam agar berhenti melecehkan Islam. Bukan juga dengan membunuh jiwa-jiwa yang bertentangan dengan Islam.

Selain itu, dari tragedi “Charlie Hebdo” ini, akhirnya aku mengerti beberapa hal:

1. Dunia tidak adil dalam memandang Islam. Saat ada kejahatan atas nama Islam, berita ini menyebar sangat cepat dalam satu hari. Sementara berita mengenai kejahatan yang korbannya adalah ummat Islam sangat sulit didapatkan (misal: Palestin, Suriah, dll)

2. Dunia cepat sekali mendengungkan “Je Suis Charlie” namun menutup telinga untuk pembantaian ribuan muslim.

3. Semua orang yang saat membunuh teriak “Allahu akbar” dinamain dengan “Terrorist”

ah sedih

Ohya, tulisan ini bukan berarti juga aku pro dengan apa yang dilakukan oleh Charlie Hebdo yang menyelewengkan nabi Muhammad SAW. Mau bilang itu adalah seni, kebebasan, atau apalah, aku tak peduli karena mereka mungkin tidak mengerti bagaimana mulianya kedudukan Nabi Muhammad SAW bagi kami.

bisi mau baca: http://www.huffingtonpost.com/2015/01/07/muslims-respond-charlie-hebdo_n_6429710.html

Aku Salah

20150109-071829 PM.jpg

Mereka bilang, perempuan itu 10% logika dan 90% perasaan, dan laki-laki sebaliknya.

Aku mah penasaran aja

Apa sih maksud para perempuan di instagram saling muji temen cewenya?
“Iiiih cantik bangeet”
“Paansi km lebih cantik keles”

atau, “Ah cantiiik” “Duuh dibilang cantik sm yang lebih cantiikkk”. Atau jenis-jenis lainnya.

Waktu itu aku juga dibilang gitu, tapinya ga muji balik.
Aku malah bilang
“Kok baru nyadar?”
Mungkin aku salah jawab.

Jadi gak gaul kan. Huft.

20150106-101642 PM.jpg

People like you always want back the love they push aside.
People like me gone forever when you say goodbye

Ts,1989.

Source gambar: lupa…….

Yahoo(di)

Kenapa sampai kini Bani Israil masih terus melakukan kejahatan genosida terhadap warga Palestin–mungkin sudah diketahui banyak orang– yaitu karena mereka merasa merekalah kaum terpilih dibanding bangsa, ras, dan suku manapun didunia.

Memang, kenyataan sangat banyak nabi yang diutus dari kalangan Yahud sudah tidak dapat dipungkiri, mulai dari nabi Yakub, Ishak, Musa, dst. Tapi sesungguhnya alasan mengapa banyak nabi yang diutus dikalangan mereka karena mereka merupakan kaum yang paling susah untuk diajak ke jalan yang lurus.

Secara logika, apakah mungkin Allah mengutus Utusan-Nya ke sebuah kota yang kaumnya sudah soleh-solehah? Buat apa. Yang ada, Allah SWT akan mengutus UtusanNya kedalam sebuah kaum yang memang harus ‘diobati’ karena ‘sakit’nya sudah parah. Kenapa ada sejarah suatu kaum yang nabinya banyak sekali diutus? Ya karena ‘sakit’nya sudah terlalu sering dan banyak. Proud of it?

Dalam surah Al-Baqarah sudah sangat banyak disebutkan bagaimana karakter Bani Israil.

1. Dulu mereka ditindas. (contoh: Jaman Fir’aun, Adolf Hilter, dan dll)

2. Tapi mereka diberi banyak kenikmatan; terselamatkan dari Firaun (karena ditolong oleh Nabi Musa), oleh Allah diberi manna, salwa, tanaman, adas, bawang, dll (di QS Albaqoroh:47 dan 57), pokonya banyak 3. Banyak ahli kitab yang menyelewengkan Firman Allah SWT.

4. Mereka membunuh nabi-nabi (Ali Imran:21) [nabi aja dibunuh, manusia biasa gimana……………]

5. Malas melaksanakan perintah Allah SWT (ada di Albaqoroh juga, saat disuruh nyembelih sapi betina tapi mereka mengulur-ngulur waktu dan banyak bertanya pada Nabi mengenai jenis sapi. Padahal mereka emang ga mau melaksanakan)

6. Menyekutukan Allah SWT. Waktu di tinggal nabi Musa ke gunung Sinai, mereka malah nyembah sapi emas karena dihasut oleh seseorang yaitu Paman Sam Samiri. (sebenernya kata yang dicoret sblm Samiri pengennya sih ga di coret).

7. Hatinya lebih keras dari batu (kata Al-Baqoroh, bahkan batupun masih tunduk pada Allah SWT dengan cara jatuh, berubah saat dipegaruhi air, tapi hati mereka lebih keras dari itu)

8. Mengingkari perjanjian dengan Allah SWT [sama Allah SWT aja ingkar janji, sama manusia gausah ditanya kali ya……….]

9. Banyak lah pokonya, dalam surah Al-Baqoroh sangat sangat sangat banyak kisah tentang ini. Mungkin lain kali bakal dipos dengan jelas ayat-ayatnya yah.

Inget kan, Hitler dulu pernah menyisakan sedikit orang Yahudi supaya apa? “Supaya kalian tau kenapa saya menghabisi mereka”, katanya.

Jadi dari surah Al Baqoroh telah diketahui bahwa mereka adalah bangsa yang awalnya ditindas, lalu diberi pertolongan oleh Allah SWT dengan cara; mengutus nabi-nabi, menyuburkan tanah mereka, diberi ‘tempat air’, dan kenikmatan lainnya. Tapi, bukannya berterima kasih, mereka malah mengkhianati perjanjian dengan Allah SWT dengan tidak beriman dan membunuh nabi-nabi yang menolong mereka. Bahkan mereka menyekutukan Allah SWT dengan mudah.

Yuk baca lagi arti dari surah Al-Baqoroh………    :D:D:D:D:D