#JustKidding

20150124-054540 AM.jpg

Heeehehehehehe

Advertisements

Cari Aman

nemu di draft bulan 07 tanggal 29 tahun 2014

Aku paling benci kalimat itu: Jangan cari aman.

Kalimat ini sering sekali terdengar saat aku mengikuti diklat dan osjur. Kalimat ini pula yang berhasil membangkitkan emosi lengan untuk mengacung meski entah nanti mau ngomong apa. Kenapa aku benci? Karena aku memang merasa sedang cari aman, dan orang yang bilang begitu terasa seperti sedang mencemoohku meski kenyataannya tidak. Lalu kenapa aku malah jadi mau mengacungkan tangan? Entah, mungkin aku hanya ingin membuktikan pada diri sendiri kalau aku sedang tidak cari aman.

Suatu hari aku pernah berpikir, kenapa hidupku sebegini aman-nya. Kalau lihat perjalanan hidup manusia-manusia hebat, mereka selalu mengalami rintangan tak habis-habisnya. Seperti Rasulullah SAW yang dianggap sesat dan gila, bahkan dilempari kotoran dan diperlakukan buruk oleh petinggi negaranya. Seperti juga Zainab Al-Ghazali yang dipenjara, diperkosa, dan disiksa habis oleh pejabat Mesir dizamannya. Atau Sumayyah, wanita hamil yang dibunuh dengan cara ditusuk kemaluannya hingga tombak tersebut menembus bayi diperutnya. Mungkin zaman sekarang bisa kita lihat di Gaza, sudah ratusan atau mungkin ribuan syuhada yang mengalami perihnya hidup.

Naira kemarin bertanya, 

“Teh, kalau orang Islam mah dunia teh jadi kayak neraka ya biar nanti diakhiratnya masuk surga?”

 

 

 

jasmerah

nemu di draft, bulan 08 tanggal 06 tahun 2013

Kata bung karno sih kita itu harus Jas Merah, artinya jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Setuju sekali dengan quote dari kata Bung Karno tadi, kita seharusnya menengok kebelakang dan mempelajari kesuksesan orang sukses dan meninggalkan kesalahan orang salah.

Sebenarnya ada pola sangat menarik dari kehidupan manusia sejak jaman Nabi Adam. Ada suatu pola yang terus terulang-ulang dari jaman ke jaman. Kalau saja semua orang menerapkan baik-baik jas merah dalam hatinya, mungkin pola ini tidak akan terjadi. Sayangnya, tidak. Banyak yang menempatkan sejarah hanya sebagai pelajaran membosankan saat sekolah. Sama sih aku juga.

Polanya itu seperti ini:

Ada sebuah masyarakat yang hidupnya tidak teratur. Mereka mengikuti jejak nenek moyang, menyembah apa yang nenek moyang mereka sembah. Lalu datang seorang Rasul, sayangnya rasul itu adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Jadi aja dia nggak begitu dipercaya dan malah dihina dina. Kalau rasul itu ada dalam diri seorang yang mereka agungkan, mungkin mereka bakal mengikuti (mereka berdalih sperti itu). Udah gitu, rasul dikasih mu’jizat untuk membuktikan kebenarannya, sayangnya masih aja masyarakat itu nggak percaya. Akhirnya, masyarakat tersebut diazab karena terlalu keras kepala.

Lalu terulang, laul terulang, hingga akhir zaman kini.

Lihat kisah nabi Idris, Nuh, Hud, Saleh, Ibrahim, Luth, Ismail…….dst. Atau kalau ragu, boleh saja tengok surat Al-Anbiya. Atau surat belasan (duh lupa).

Biar lebih meyakinkan, lihat saja akhir zaman ini.

Lihat. Pikirkan baik-baik.

Sudahkah melihat pola yang sama?

Let me know if u feel the same! ^^

who’s time?

Me-time itu awalnya memang menyebalkan–teringat aku dulu bukan orang yang sama sekali suka sendirian. Tapi ada kalanya dimana kamu-harus-sendirian. Dan aku kini sudah berdamai dengan itu. Bahkan sudah mulai nyaman dengan diri sendiri. Mulai nyaman dengan makan siang di Jalan Riau sendiri. Mulai nyaman dengan hunting barang sendiri. Yet i’m still dad’s girl yang lebih nyaman lagi kalau pergi bareng keluarga.

Family-time. Awalnya aku bosan, karena setiap minggu kami bepergian. Ke saparua lagi. Ke gramedia lagi. Ke ujung berung lagi. Ke Ngopi Doeloe lagi. Setelah masuk kuliah, family time itu menjadi mahal dan amat baik untuk recharge diri. Dimana bisa cerita apa saja yang tidak pernah penting bagi siapapun. Dimana aku bisa mengenalkan teman-teman yang tidak mereka tahu wajahnya. Dan lagi-lagi, tempat berantem sebagai pelampiasan banyak tugas.

Kampus-time. Aduh……capek ceritainnya, tapi bermangfaat kok insya allaaaaah

Friendzone (eh salah). Friends-time. Selalu menyenangkan. Tapi duit juga menangis………………………..

Jadi, bagaimana mengatur waktu? Bagaimanakah cara terbaik untuk memberikan waktu kepada Yang Memilikinya?

Pergilah Wahai Mimpi-Mimpi Fana

Draft tanggal 12 Juni 2014

Waktu smp aku selalu diajarkan oleh setiap guru, bukan hanya guru agama–bahkan guru ips, guru ipa, guru tik–bahwa orientasi hidup itu harus ditujukan kehidupan yang abadi.

Kemudian setelah aku melihat dunia, semua manusia malah mencoba meruntuhkan kalimat tersebut. Semua orang begitu ambisius dengan mimpinya masing-masing–namun mimpi yang orientasinya dunia. Aku sempat malu saat SMA, disaat semua orang meneriakkan mimpinya masing-masing dan aku hanya terdiam. Aku jadi apapun mau, asal selamat. Inginnya sih aku bilang begitu, tapi apa daya. Aku merasa takut dan lemah akan ‘mimpiku’ saat berada dilingkungan yang sangat akademis.

Pikirku saat itu, why dont we focus on one thing. Yaitu bagaimana agar selamat sampai akhir nanti. Tapi untuk mencapai itu, bagaimana? dengan ‘sarana’ apa aku berjalan menuju itu? jadi dokterkah? guru? jadi anak teknik kah?

Jadi, sekarang aku sudah punya mimpi yang tidak terlalu fana:

jadi oseanografer dan atau jadi dosen dan atau jadi penulis dimana ketiga profesi tersebut akan menghantarkan aku menuju cita-citaku yang sebenarnya. Dengan jadi dosen dan penulis aku ingin bermanfaat untuk seluruh manusia dengan ilmu yang (semoga) terus mengalir dikalangan manusia.

–dan oh, tentu saja aku juga harus jadi anak solehah bagi kedua orang tua agar aku bisa menyelamatkan mereka dikehidupan selanjutnya.

Kalaupun nanti aku berakhir hanya jadi ibu rt saja, tak apa (asal suaminya kaya). semoga itu bisa jadi sarana juga untuk menghasilkan generasi islami yang meneruskan perjuangan Rasul.

 

Bermimpilah untuk akhirat, maka kau akan menggenggam dunia.