who’s time?

Me-time itu awalnya memang menyebalkan–teringat aku dulu bukan orang yang sama sekali suka sendirian. Tapi ada kalanya dimana kamu-harus-sendirian. Dan aku kini sudah berdamai dengan itu. Bahkan sudah mulai nyaman dengan diri sendiri. Mulai nyaman dengan makan siang di Jalan Riau sendiri. Mulai nyaman dengan hunting barang sendiri. Yet i’m still dad’s girl yang lebih nyaman lagi kalau pergi bareng keluarga.

Family-time. Awalnya aku bosan, karena setiap minggu kami bepergian. Ke saparua lagi. Ke gramedia lagi. Ke ujung berung lagi. Ke Ngopi Doeloe lagi. Setelah masuk kuliah, family time itu menjadi mahal dan amat baik untuk recharge diri. Dimana bisa cerita apa saja yang tidak pernah penting bagi siapapun. Dimana aku bisa mengenalkan teman-teman yang tidak mereka tahu wajahnya. Dan lagi-lagi, tempat berantem sebagai pelampiasan banyak tugas.

Kampus-time. Aduh……capek ceritainnya, tapi bermangfaat kok insya allaaaaah

Friendzone (eh salah). Friends-time. Selalu menyenangkan. Tapi duit juga menangis………………………..

Jadi, bagaimana mengatur waktu? Bagaimanakah cara terbaik untuk memberikan waktu kepada Yang Memilikinya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s