pers.(pective)

Hari yang aneh. Pagi tadi, aku menyapa seorang teman. Ia tidak dengar. Atau pura-pura tidak dengar? Sorenya, kakiku masuk ke lubang lapangan basket kampus. Tahu seberapa malu dalam itu? Lalu malamnya, sepi sekali. Kenapa aku melihat bayang-bayang aneh mengikutiku? Imajinasiku melayang kemana-mana, akhirnya aku berlari pelan. Tetangga lalu menyapa diujung jalan, “Ngapain lari-lari neng?”

Setelah mau tidur, aku baru sadar. Aku lupa memakai kaca mata hari ini. Semua hal yang aku katakan tadi, hanya bayang palsu saja. Teman yang kutemui tadi pagi, adalah orang asing yang mirip seorang teman saja. Bayangan di malam hari, hanya dedaunan di pohon saja. Tunggu, apa tetangga yang menyapa itu lalu bukan tetangga?

Semua akan benar jika bisa melihat jelas. Asumsi hanya akan menyusahkan. Pakai kacamatamu, nak. Pakai pikiranmu, jangan lagi perasaan yang kerap dibawa.

[ditulis sambil bikin andat, dan dengerin lagu emo alay jaman smp; sekenhen&friends.]

Our real boss.

Kalau disuruh milih mau jadi guru apa jadi dosen, aku milih jadi dosen aja.

Menjadi orang dewasa diantara anak-anak adalah beban tersendiri. Seperti halnya kemarin saat aku mengajari mereka matematika. Mereka ialah anak kelas 6 SD Islam yang full day school. Aku pernah seperti mereka dengan materi pelajaran yang hampir sama (karena sekolahnya juga berlandaskan hal yang sama) jadi aku mengerti apa yang sudah mereka pahami dari bersekolah selama 6 tahun di sekolah yang setiap harinya dibahas mengenai orientasi hidup yang harus ke akhirat. Kemarin ada yang bertanya,

“Teh kenapa pake celananya kaya gitu?”……………………………omg gimana gak malu di’nasehatin’ sama anak kecil. Btw aku pake celana jeans mayan skinny meski ga ngetat amat. Kemudian aku berjanji tiap sabtu bakal pake rok aja, biar mereka ga bertanya-tanya mana benar mana salah. Kan sayang kalau mereka udah diajarin hal-hal yang benar tapi aku malah mencontohkan yang gak baik.

Beberapa bulan lalu aku pernah makan bareng keluarga, dan disebelah kami ada ayah-ibu-anak balita. Mereka lagi makan juga, namun ayah dan ibunya sedang ngobrol lumayan ricuh. Si anak kecilnya tiba-tiba teriak, “Ih diem! Kalau lagi makan kan gak boleh ngobrol!” Orang tuanya tersenyum, lalu mengangguk angguk. Dan diam.

Sebenarnya aku lebih kasihan sama Naira, adik bungsu yang sekarang udah menginjak usia SD. Waktu kecil, ia sering protes kalau apa-apa yang aku lakukan gak sesuai dengan materi yang dia dapet disekolah. Misalnya kerudung yang transparan, atau makan sambil berdiri, ngomong yang gak pantes, daaaaan banyak banget yang lainnya. Rasanya selalu aja ada yang ngingetin kalau aku salah. Tapi karena aku terlalu sering nggak sesuai dengan koridornya Naira mungkin dia jadi capek dan…………..yaudah.

Pernah juga Naira mengatakan suatu hal yang ga pantes, pas ditanya dapet kosa kata dari mana, ternyata dapet dari Mbak (‘baby sitternya’ dulu). Kan kasian.

Sayangnya lagi, ternyata ‘hal-hal baik’ yang sudah ada dikepala mereka, yang para guru susah payah menanamkan kedalam pemahaman dan hati mereka, akan mudah terkikis dengan melihat contoh-contoh ‘orang dewasa’ yang tidak sesuai. Apalagi kalau orang dewasanya yang mereka segani.

Makanya kenapa aku lebih milih jadi dosen, biar kalau aku salah, mahasiswa nggak akan menjadikan itu sebuah contoh. Lagipula diusia ‘mahasiswa’ seharusnya mereka udah punya ideologi masing-masing yang ga bisa kita judge baik atau buruknya (nanti disangka ga toleran).

yaudah tidur dulu deh soalnya besyok mau kuliah syelam…………………………