(((girls only)))

Biasalah, anak gabut kayak aku sering banget buka we-heart-it dan liat gambar-gambar lucu doang, lalu di save-savein di handphone. Udah kayak abg labil. Tapi gapapa. Di situ, aku sering ngeliat post-an para cewek-cewek bule yang kesel banget sama yang namanya period. Sampe bilang fucking dan segala macemnya, dan banyak juga yang sarkas. Kalau aku sih sempet kaget, kok bencinya selebay itu sih? Oh iya, mungkin mereka nggak merasakan positifnya, kalau aku sih merasa ada positifnya dari ‘period’ yakni…diperbolehkan (malah diwajibkan) untuk nggak melakukan beberapa aktivitas seperti sholat, atau shaum.

Yang bikin senengnya adalah bisa tidur sepuasnya di pagi hari (duh maafin kalau rada syaiton). Memang, kalau dipikir-pikir, lebih banyak rempong dan sakitnya. Seperti emosi dan mood yang gampang jelek, sakit perut dan kepala yang bikin rambut pengen dijambakin, atau lemes dan ngga bisa ngapa-ngapain. Bukan itu doang, tapi kitapun dituntut untuk tetap higienis meski kondisi tubuh lagi jelek.

Tapi nih ya, hasil diskusi sama teman (lebay amat sampe didiskusiin), bahwa sebenarnya adanya siklus ini justru sebagai persiapan bagi para wanita buat nanti di masa depan kalau jadi ibu.

. Mood yang gampang jelek. Mungkin ini salah satu latihan supaya kita lebih memiliki emosi yang stabil dan tau cara mengatasinya. Karena makin besar, makin banyak masalah yang membuat mood jelek, apalagi kalau udah ibu-ibu kali yah.

2. Sakit perut. Bisa jadi ini juga sebagai tahap persiapan buat melahirkan, kan kalau hamil dan melahirkan mules-mules tuh katanya mah, jadi biar nanti nggak kaget amat kalau sakit perut.

3. Pusing dan gampang sakit. Mungkin ini supaya para cewe-cewe bisa tetep jaga kesehatan sebelum sakit menyerang.

4. Harus bersih. Ya, sesungguhnya bagi aku yang waktu kecilnya anaq manja, saat beralih dan merasakan period, hal ini mayan ngagetin sih. Tapi mau-nggak mau semua cewek baik itu emang anak yang rajin, pemales, dsb, harus bersih dalam hal apapun biar nanti nggak geleuhan kali yah pas udah gedenya.

Begitulah hasil pemikiran aku dan beberapa teman disemester kemaren. Banyak hal negatif yang sebenarnya nantinya bakal jadi positif, semangat girlzzzzzzzz

Tentang Hal Pertama Yang Di Hitung di Akhirat

Sholat.
Pengen ngeclose tab ga? Tahan yah shay.
Di surat Al Maun tertulis,
“Maka kecelakaanlah bagi orang yang sholat”
“Yaitu orang-orang yang lalai dari sholatnya”

Jadi, kata siapa orang yang sholat pasti selamat?

Banyak orang berceloteh, ‘ah si eta mah sholat sih sholat tapi kelakuannya….’ Atau
‘Yang penting jilbabin hati dulu, sekarang aja banyak orang yang kerudungan tapinya bejat..’

Seolah olah kesimpulannya adalah:

Sama sekali gak ada hubungannya antara aktivitas ibadah ritual dengan kehidupan sehari-hari. 

Kondisi seperti ini juga bisa jadi membuat orang merasa bahwa ibadah ritual tuh nonsense, yang penting mah jadi orang baik aja. Tapi jangan jadi orang baik deng kan bisi gampang diputusin 😦 *maap oot

Coba aja kita cari dalam Al-Qur’an, apakah pernah Allah memerintahkan manusia untuk melaksanakan sholat? Hayoh ih cari cepetan jangan baca doang………..

Gak ada kan ya? *padahal belom nyari*

Iya, gak ada. Allah selalu menyuruh manusia untuk ‘mendirikan shalat’ dan tidak menyuruh untuk melaksanakan sholat. Jadi itulah jawaban kenapa ada yang sholat tapi maksiat, yaitu karena dia tidak mendirikan sholat, tapi hanya mengerjakan saja. Bedanya apa? Ya jelas beda. Kalau mendirikan, kita harus menghadirkan Allah di dalam hati, dan khusu. Sementara kalau mengerjakan……..ya sebatas ingin melepas kewajiban saja.

Maaf aku takut jadi orang fasik kalau banyak omong tapi ga ada perbuatan. Akupun bahkan jujur aja, ditengah kesibukan yang sebenarnya gak sibuk ini kadang sholat cuman sebatas penggugur kewajiban aja. Biar nggak merasa dosa kalau nggak solat. Cuman sekedar biar merasa lega karena kewajiban sudah ditunaikan.

Kata seorang guru SMP, kalau sholatnya khusu, maka abis sholat akan kerasa efek dari sholatnya. Pernahkah?

Pernah takbir sambil benar-benar meresapi bahwa diri ini sangat kecil dibandingkan Dia yang kekuasaannya meliputi apapun? Bukan mikirin laporan yang masih belom beres.

Pernah baca Al-Fatihah sampai merinding membayangkan jalan yang bukan shiratal mustaqim? Bukan memikirkan uang yang tadi siang hilang. Pernah baca surah pendek dan benar-benar membayangkan bagaimana horornya neraka? Bukan ngebayangin filem setan yang tadi baru ditonton. Atau pernah rukuk, sujud, sambil benar-benar menyesali dosa-dosa yang sudah tidak termaafkan lagi?

Atau pernah itidal sambil benar-benar bersyukur atas karunia yang telah kita dapat? Bukan membayangkan makan apa nanti malam.

Atau pernahkah sujud sambil merasa diri ini lemah dan merasa sedang menghadap Sang Raja, yang menyerahkan kehidupan hanya kepadaNya? Bukan memikirkan sejadahnya yang bau (eh).

Pernah abis sholat merasa lega lalu jadi pengen berbuat kebaikan kepada semua orang?

Banyak yang pernah. Hanya saja, kita harus meningkatkan intensitasnya agar semakin banyak sholat yang tidak sia-sia. Bagiku sendiri, hal ini cukup sulit. Tapi surga memang mahal. Makanya jangan memiliki amal yang murah.

🙂 semangat

“Amanah adalah suatu bentuk penjagaan”

Sekian tahun denger kata ‘amanah’, akhirnya sekarang tau arti sesungguhnya. Sebagai orang Islam, kita diberi berbagai amanah yang kadang sering dikeluhkan. Sholat, shaum, berhijab dengan benar, sebenarnya adalah bentuk penjagaan Allah agar kita tetap setia pada Islam. Seharusnya kita bersyukur dengan diberinya amanah, dan tak heran jika orang yang menanggalkan amanah lama kelamaan akan jauh dari jalanNya. Atau jika dilingkunganmu kau sedang memegang suatu amanah, ya mungkin itu adalah cara ‘penjagaan’ supaya nggak kabur. Semoga yang baca mengerti dan sefrekuensi dengan yang nulis, jadi nggak ada salah arti.

In syaa Allah

“Insyaa Allah” sering menjadi kalimat yang disalahgunakan dalam pergaulan. Menjadi tameng atas ketidak sanggupan seseorang dalam memenuhi janji. Awalnya, akupun menganggap enteng perkataan tersebut. Semacam, kalau nanti ada yang bilang, “loh, kan kamu udah janji? kok jadi ngga bisa?”, lalu aku bisa seenaknya menjawab, “kan aku bilangnya insya Allah…”

itulah yang dinamakan insya Allah nya orang sunda.

Tapi kata Insya Allah seharusnya bukan digunakan oleh orang sunda, melainkan oleh orang Islam dengan keyakinan Islam. Bukan digunakan untuk topeng dari khianatnya diri. Perintah mengucapkan Insyaa Allah ini bukan hanya sekedar tradisi belaka, namun memang telah dicantumkan di Surah Al-Baqoroh (lupa ayat brp……………). Disitu dijelaskan bahwa, jika kita ingin menjanjikan sesuatu di hari esok, maka harus mengatakan Insya Allah. Kenapa? karena apa yang terjadi esok adalah kuasa Allah. Worst casenya adalah, bagaimana kalau di waktu penepatan janji tersebut kita malah sakit? terkena musibah? atau bahkan…….meninggal?

Bukan untuk kasus-kasus lain seperti: bagaimana kalau besok aku malas? bagaimana kalau besok aku lebih mementingkan acara lain? bagaimana kalau aku ketiduran?

Bicara soal “hari esok” adalah topik menyeramkan. Kita mungkin sudah menjalani ribuan hari dalam hidup kita dengan masih diberi nyawa. Ribuan hari baik-baik saja tersebut kadang membuat manusia menjadi takabbur dan merasa bahwa hari lain pun akan sama baik-baik saja. Dalam surah Luqman Allah mengatakan bahwa ada beberapa hal yang hanya Allah saja yang tahu; apa yang dikandung didalam rahim, hujan, dibumi mana ia meninggal, dan apa yang terjadi di hari esok.

Terkadang aku merasa heran, bahwa seseorang yang dulu pernah ada di kehidupan kita, dengan cepat, dalam waktu bulan saja, sudah berada di kehidupan lain. Rasanya janggal. Betapa kematian itu adalah misteri yang tak bisa diduga.

Manusia tak bisa mengelak dari hal tersebut, namun –mungkin kau sangat bosan mendengarnya– kita hanya bisa mengusahakan untuk kehidupan selanjutnya; menjadi orang yang diridhoi-Nya, atau mendapat murkaNya. Keduanya pilihan, dan tidak pernah ada paksaan, bahkan dari Tuhanku sekalipun.

iya, Allah tidak pernah memaksa manusia untuk memilih jalan menujuNya……..meski konsekuensi ditanggung sendiri. 🙂

se-mangat!

Cerita Sederhana

Sadar gak sadar, keajaiban dalam hidup ini sering terjadi. Keajaiban hadir bukan sebagai bukti kalau kamu itu hebat, tapi justru sebagai bukti kalau kita itu ga ada apa-apanya dan pemilik segalanya hanyalah Dia.

Seperti misalnya saat aku menjalani kelas 3 SMA dengan dilanda akademik yang buruk. Rasanya tidak rasional kalau bisa keterima di tempat kuliahku sekarang. Tapi saat itu aku sudah pasrah dan berusaha dalam hal lain–bukan belajar. Ajaibnya ternyata aku bisa kuliah kok.

Atau saat menjalani semester sekian, dimana belajar buat uts uas adalah h-seminggu, dan diabisin banget belajarnya, eh..malah keluar ip jelek yang bikin rumah tangga geger (lah lebay).

Misal juga, saat ada dua pilihan, yakni kuliah atau nemenin naira yang sakit. Kondisinya adalah semua orang punya kepentingan yang lagi ngga bisa ditunda. Kadang, saat aku milih bolos dan nemenin naira, justru indeks mata kuliah itu jadi ajaib bagiku.

Jaman semester hektik kemaren juga terkadang membawa kegalauan. Seperti dihadapkan pilihan; laporan ngumpulin telat tapi bantuin mama dulu atau ga usah bantuin mama tapi laporan tepat waktu? Atau hari Sabtu ke kampus ngerjain laporan bareng temen atau ngerjainnya dirumah tapi pasti bakal ga bener karena Naira pasti pengen ditemenin main mulu?

Kalau mau egois, aku bakal lebih milih gausah bantu mama dan gausah main sama Naira asal segala urusan kuliah beres. Tapi semua ‘keegoisan’ itu juga ga menjamin kalau aku akan sukses kuliah. Mengorbankan akademik dengan memilih prioritas lain yang lebih penting terkadang malah bisa mendongkrak ip.

Jadi pengen nulis lagi tulisan yang pernah ditulis di blog ini:

bahwa usaha manusia itu adalah 0. Semakin banyak usaha, maka akan semakin banyak angka 0 nya. Tapi angka nol bukankah tak berarti jika tidak ada angka 1 didepannya?

Angka 1 itu adalah keberadaan Allah SWT dalam hidup kita.

Percuma belajar mati-matian kalau bukan for the sake of Allah SWT. Karena sekarang atau nanti, akan kerasa kalau usahanya ternyata hanya nol saja.

Jadi jangan khawatir buat yang memprioritaskan urusan lain yang kata orang mah ga penting. Seperti memprioritaskan nyenengin ortu dengan bantu-bantu dirumah, atau memprioritaskan bantuin temen, atau hal-hal “gapenting” lainnya.