Cerita Sederhana

Sadar gak sadar, keajaiban dalam hidup ini sering terjadi. Keajaiban hadir bukan sebagai bukti kalau kamu itu hebat, tapi justru sebagai bukti kalau kita itu ga ada apa-apanya dan pemilik segalanya hanyalah Dia.

Seperti misalnya saat aku menjalani kelas 3 SMA dengan dilanda akademik yang buruk. Rasanya tidak rasional kalau bisa keterima di tempat kuliahku sekarang. Tapi saat itu aku sudah pasrah dan berusaha dalam hal lain–bukan belajar. Ajaibnya ternyata aku bisa kuliah kok.

Atau saat menjalani semester sekian, dimana belajar buat uts uas adalah h-seminggu, dan diabisin banget belajarnya, eh..malah keluar ip jelek yang bikin rumah tangga geger (lah lebay).

Misal juga, saat ada dua pilihan, yakni kuliah atau nemenin naira yang sakit. Kondisinya adalah semua orang punya kepentingan yang lagi ngga bisa ditunda. Kadang, saat aku milih bolos dan nemenin naira, justru indeks mata kuliah itu jadi ajaib bagiku.

Jaman semester hektik kemaren juga terkadang membawa kegalauan. Seperti dihadapkan pilihan; laporan ngumpulin telat tapi bantuin mama dulu atau ga usah bantuin mama tapi laporan tepat waktu? Atau hari Sabtu ke kampus ngerjain laporan bareng temen atau ngerjainnya dirumah tapi pasti bakal ga bener karena Naira pasti pengen ditemenin main mulu?

Kalau mau egois, aku bakal lebih milih gausah bantu mama dan gausah main sama Naira asal segala urusan kuliah beres. Tapi semua ‘keegoisan’ itu juga ga menjamin kalau aku akan sukses kuliah. Mengorbankan akademik dengan memilih prioritas lain yang lebih penting terkadang malah bisa mendongkrak ip.

Jadi pengen nulis lagi tulisan yang pernah ditulis di blog ini:

bahwa usaha manusia itu adalah 0. Semakin banyak usaha, maka akan semakin banyak angka 0 nya. Tapi angka nol bukankah tak berarti jika tidak ada angka 1 didepannya?

Angka 1 itu adalah keberadaan Allah SWT dalam hidup kita.

Percuma belajar mati-matian kalau bukan for the sake of Allah SWT. Karena sekarang atau nanti, akan kerasa kalau usahanya ternyata hanya nol saja.

Jadi jangan khawatir buat yang memprioritaskan urusan lain yang kata orang mah ga penting. Seperti memprioritaskan nyenengin ortu dengan bantu-bantu dirumah, atau memprioritaskan bantuin temen, atau hal-hal “gapenting” lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s