In syaa Allah

“Insyaa Allah” sering menjadi kalimat yang disalahgunakan dalam pergaulan. Menjadi tameng atas ketidak sanggupan seseorang dalam memenuhi janji. Awalnya, akupun menganggap enteng perkataan tersebut. Semacam, kalau nanti ada yang bilang, “loh, kan kamu udah janji? kok jadi ngga bisa?”, lalu aku bisa seenaknya menjawab, “kan aku bilangnya insya Allah…”

itulah yang dinamakan insya Allah nya orang sunda.

Tapi kata Insya Allah seharusnya bukan digunakan oleh orang sunda, melainkan oleh orang Islam dengan keyakinan Islam. Bukan digunakan untuk topeng dari khianatnya diri. Perintah mengucapkan Insyaa Allah ini bukan hanya sekedar tradisi belaka, namun memang telah dicantumkan di Surah Al-Baqoroh (lupa ayat brp……………). Disitu dijelaskan bahwa, jika kita ingin menjanjikan sesuatu di hari esok, maka harus mengatakan Insya Allah. Kenapa? karena apa yang terjadi esok adalah kuasa Allah. Worst casenya adalah, bagaimana kalau di waktu penepatan janji tersebut kita malah sakit? terkena musibah? atau bahkan…….meninggal?

Bukan untuk kasus-kasus lain seperti: bagaimana kalau besok aku malas? bagaimana kalau besok aku lebih mementingkan acara lain? bagaimana kalau aku ketiduran?

Bicara soal “hari esok” adalah topik menyeramkan. Kita mungkin sudah menjalani ribuan hari dalam hidup kita dengan masih diberi nyawa. Ribuan hari baik-baik saja tersebut kadang membuat manusia menjadi takabbur dan merasa bahwa hari lain pun akan sama baik-baik saja. Dalam surah Luqman Allah mengatakan bahwa ada beberapa hal yang hanya Allah saja yang tahu; apa yang dikandung didalam rahim, hujan, dibumi mana ia meninggal, dan apa yang terjadi di hari esok.

Terkadang aku merasa heran, bahwa seseorang yang dulu pernah ada di kehidupan kita, dengan cepat, dalam waktu bulan saja, sudah berada di kehidupan lain. Rasanya janggal. Betapa kematian itu adalah misteri yang tak bisa diduga.

Manusia tak bisa mengelak dari hal tersebut, namun –mungkin kau sangat bosan mendengarnya– kita hanya bisa mengusahakan untuk kehidupan selanjutnya; menjadi orang yang diridhoi-Nya, atau mendapat murkaNya. Keduanya pilihan, dan tidak pernah ada paksaan, bahkan dari Tuhanku sekalipun.

iya, Allah tidak pernah memaksa manusia untuk memilih jalan menujuNya……..meski konsekuensi ditanggung sendiri. 🙂

se-mangat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s