Take me away

Draft Kamis minggu kemarin

Hari ini, entah sampai kapan, rasanya aku ingin sekali meninggalkan bandung. Bahkan menghapuskannya jika aku tuhan. Setiap sudutnya, kini selalu berhasil membuatku kesakitan. Sepanjang jalan pulang, seluruh kota rasanya sedang menertawakan dan melihatku dengan iba. Bukan tentang manusia, tapi tentang memori dalam setiap langkah dikota ini. Aku tidak pernah tahan dengan perjalanan. Kanan-kiri-depan-belakang, semuanya memori kebahagiaan. Namun kau tentu paham, kebahagiaan adalah kefanaan. Sekali dalam seumur hidupku, hari ini aku terlalu benci bandung. Oh, bahkan aku sekarang bisa mengucap kata itu; benci. Maafkan aku. Maafkan. Ini tulisan yang terlalu jelek untuk sesuatu yang dulu aku sangat cintai. so so so sorry i was drunk

Maturity

Rasa sayang bukan harus selalu ditunjukkan dengan semua hal yang menyenangkan. Seperti bagaimana cerewetnya ibumu saat kau akan bepergian jauh. Rasanya tidak menyenangkan, tapi memang itu bukti sayangnya. Atau betapa setiap jam makan siang kau di ingatkannya untuk makan. Atau juga dosen yang menegur disaat kita lalai menugas atau tidak memperhatikannya. Semuanya tidak enak. Tapi bukankah mereka menyayangi kita?

Begitupun hidup, Pemilik Kehidupan ini juga menyayangi kita. Bukan selalu dengan diberi hidup berkecukupan, keluarga yang hangat, teman yang selalu menghibur, atau kesehatan. Bisa juga ia membentangkan jalan yang berduri, agar kita semakin kuat dan dewasa. Terkadang aku jadi sangat menyesal, mengapa tidak menjadi dewasa dari dulu-dulu saja, sehingga Ia tidak perlu membentangkan jalan berduri itu dekat denganku, dan mereka yang aku cintai. Semoga kita semua memiliki hati yang lapang dalam menerima setiap takdir-Nya. Meski harus banyak menanjak dan berdarah karena batu yang tajam. Menangislah saja, selama itu tidak dosa.