Tingkat Empat

Rasanya baru kemarin duduk-duduk di Widyatama sambil ngobrol “aku gamau kuliah ih males, pengen sma aja terus” bareng Nida sambil megang beberapa formulir universitas swasta bandung.
Perasaan baru kemarin, duduk diberanda rumah sama teman-teman sambil melihat bintang (padahal mah ga ada bintang), “nanti kalau kita udah 20 tahun kita masih kumpul lagi ga yaa?” kata mereka.
Rasanya baru kemarin juga, menjalani osjur dengan rasa males semales malesnya dan rasanya baru kemarin kenal dengan baruna.

Tapi perasaan adalah bohong. Karena nyatanya sekarang aku akan menjalani tingkat empat. Hal ini baru disadari saat hari ini belanja bareng temen. Ia mengingatkan, “pi kamu udah tingkat empat, masa beli sepatu yang modelnya kaya anak sekolah?” Atau “Ayo pi belajar jadi perempuan, beli make up kek, kan udah mau tingkat empat..” Atau saat aku nanya lucu engga nya suatu tas… “Itu modelnya terlalu anak-anak pi…ganti selera dong…”

Ah tingkat empat. Sial. Ini waktunya harus serba realistis. Ga akan ada kuliah lanjut di luar kalau emang ga usaha dan hanya nulis-nulis target s2 di buku warna warni doang. Ga akan lulus sesuai target kalo cuman selalu bilang ‘mau lulus 2016’ tapi ga bener bener ngejar. Ga ada nikah tepat waktu kalo ga ada calonnya (aduh siah jd sedih)(loljk). Usia ‘cita-cita’ sudah didepan mata. Sudah bukan jamannya hanya menulis keinginan di dreambook. Sudah saatnya bergerak. Tapi sulit rasanya menjalani hari tanpa nonton film, baca novel, atau main candy crush…

Apakah mimpi masih bisa diraih oleh anak pemalas seperti ini……
Mungkin bisa kalau mau bergerak!

20150723-113850 PM.jpg

Meraba Posisi Tuhan (dalam hatimu)

Kukira berhala itu patung. Ternyata banyak. Banyak yang bisa jadi berhala selama ia menempati tempat Tuhan dihatimu. Siapa yang tertinggi dihatimu maka ialah berhala itu. Namun jika Tuhan ditempatkan nomor 1 dihatimu, maka kau tidak punya berhala.

Itu hal yang aku tangkap dari guru-guru masa kecilku.

Kau bilang hubungan tuhan dan manusia hanya lewat hati saja. Tak perlu diumbar-umbar–kalau iya maka kau sombong. Tak perlu ajaran agama disebar-sebar toh diri sendiripun belum benar. Tak perlu direfleksikan dalam pakaian, karena tuhan maha mengerti. Diam saja. Biar manusia dan tuhan bicara dari hati ke hati.

Aku paling tidak mengerti dengan pernyataan-pernyataan tersebut. Jika hubunganmu dengan tuhan hanya dalam hati saja, maka itu bagaikan seseorang yang memendam cinta. Bisa gila.

Tapi tak mungkin sih. Tak mungkin orang yang menempatkan Tuhan sebagai tuhan dalam hati nya ‘hanya’ berhubungan lewat hati saja. Kecuali kalau kau manusia yang gombal. Karena bahkan saat kau memendam cinta pada sesama pun kau akan menuliskannya; atau cerita pada teman dekat; atau stalking medsosnya; atau memperhatikannya saja. Bukan hanya mengatakan dalam hati ‘aku cinta’ lalu sudah; tidak memperhatikannya lagi. Kalau begitu caranya menaruh tuhan dalam hati, maka siapapun bisa menempatinya–bukan hanya Tuhan itu sendiri. Namun kau akan kelimpungan di alam barzakh saat Munkar Nakir bertanya “Mann Rabbuka?”

Dan lagi, mengapa selalu berharap Tuhan mau mengerti kondisi kita disaat kita tidak sama sekali melirik dan mencoba memahami FirmanNya?

Aku juga pernah mengalami masa dimana, “aku ingin senang-senang. Kondisiku sedang buruk. Ia pasti mengerti” tapi aku sadar itu hanya bisikan setan saja. Kondisi buruk yang menimpa kita diciptakan bukan untuk menjadi excuse. Tapi jadi pijakan tangga agar kita menjadi lebih tinggi. Asalkan tetap berjalan menujuNya

Wassalam!
Kalo ada salah maka salah aku dan kebenaran hanya milik Allah SWT.

Helliday

Semester ini aku memiliki holiday yang bukan holy day namun merupakan hell iday. Krik bgt ya. Jadi gini, dalam diri ini terdapat dua sisi yang selalu bersahutan saat helliday ini; yang saitonirojim dan yang malaikat.
Yang sisi setan selalu membuatku menyesali keputusan ini; mendingan jadi mahasiswa biasa aja ga usah ikut-ikut kalo ditawarin dosen ngapa2in. Mendingan kalo ‘milih’ dosen pilih yang ga ribet aja biar cepet kelar. Dan kalau semua itu terjadi, niscaya aku akan libur dengan bahagia.
Tapi ada sisi malaikat yang biasanya aku abaikan: yakni aku dapet ilmu lebih.

Wassalam, dari aku yang di h-4 lebaranpun belum liburan dan masih harus bulak balik gedung rektorat 🙂

20150713-112509 PM.jpg

All-right

Pada akhirnya semua kesedihan akan berujung baik-baik saja. Setidaknya hidupmu akan tetap jalan dengan tidak seburuk yang dibayangkan sebelumnya. Ingat saja kesedihanmu dimasa lalu, yang bisa membuatmu tidak tidur beberapa hari demi meredakan tangis. Kini mungkin kejadian itu sudah menjadi bahan candaan paling seru dengan teman lamamu. Atau bisa saja kejadian itu terlalu sompral untuk dijadikan bahan candaan, tapi hatimu sudah berdamai dengan semuanya. Jika ada yang mengusik, kau sudah tidak sesensitif dahulu. Atau setidaknya, kejadian itu sudah disimpan terlalu-terlalu-dan terlalu rapat sehingga tak ada lagi yang bisa mengoreknya dan membuatmu tersedu lagi. what kind of sadness do you have? Pertanyaan macam apa itu tadi. Tak perlu dijawab. Intinya nanti akan baik-baik saja. Semangat! Ah maaf kalau bosan.

20150704-105309 PM.jpg

Buka

20150702-062808 PM.jpg

Saat kamu bukber diluar, ingatlah kasian mama dan ayah yang bukbernya cuma berdua dirumah.
Alhamdulillah akhirnya hari ini kami bisa bukber fullltim bersama keluarga, setelah berhari-hari kebanyakan bukber sama temen.

Whats R8

256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut [162] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

[162] Thaghut, ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.

Apa yang kita lakukan dan kita pikirkan bisa jadi merupakan kebenaran, ataupun pembenaran. Padahal sebenarnya hati kecil masing-masing sudah tahu jawabannya; apakah yang dilakukan merupakan kebenaran atau hanya pembenaran.

Semoga kita bukan orang fasik, yang tahu mana benar dan salah, tapi terus mencari pembenaran.

Kata orang kebenaran itu relatif, tapi bagi yang memiliki pegangan seharusnya kebenaran sudah tidak bergantung dengan lingkungan mana dia berada, dengan siapa ia berbicara, atau ditanah mana ia berpijak. Karena Atid akan terus mencatat segala perbuatan, dimanapun kita berada, dan bersama siapapun kita bergaul.

IMG_0094

Differences between “Do What You(r desires) Want” & “Be Yourself”

“Be your self! Be proud of who you are!”

Lah bosen amat. Semua orang dan semua media sedang sangat in untuk membahas LGBT right ini. Si bodohnya adalah aku pikir dari dulu nikah sesama jenis emang udah di bolehin di US, oh ternyata baru sekarang dibolehinnya…………….. Soalnya Lady Gaga pernah bikin lagu yang no matter you’re lesbian, gay, bisex, pokonya be happy aja and tetaplah bangga dengan keadaan seperti itu.

Aku jadi mikir sedikit, kok hal-hal yang menyimpang tersebut dibilang “who you are”. Se-dukun apakah dirimu sampe bisa mengenal siapa diri ‘mereka’?

Orang bilang, jati diri manusia seharusnya sudah dikenal sejak usia SMP idealnya. Tapi lingkungan dan kejadian-kejadian dalam hidup mungkin bisa mengubah diri seseorang. Dan siapa yang mengenal siapa kita? Ya tentu Yang Menciptakan kita. Baiklah mungkin kau akan bilang aku ini normatif. Tapi urusan begini, memang mau lari kemana lagi?

Logikanya adalah kita lahir kedunia tanpa sedikitpun ‘kekayaan’ milik kita. Kekayaan disini maksudnya potensi-potensi yang ada dalam tubuh kita; akal, hati, dan fisik. Jangan lupa pula, bahwa kitapun telah diberi potensi eksternal; Al-Qur’an, Sunnah, juga Fitrah (kecenderungan untuk bertuhan). Semua manusia memiliki itu semua sama. Mau dia sekarangnya LGBT juga dia dulu pernah dilahirkan dengan memiliki potensi-potensi tersebut. Lingkunganlah yang mengubah semuanya.

Tentang fitrah manusia:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui [1169], — Ar-Rum : 30

[1169] Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.

Tentang potensi internal:

9. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. –As-Sajdah : 9

4. sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . –At-Tin:4

231. dan ingatlah ni’mat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah (AsSunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. –Al Baqoroh : 231

Tapi Allah juga tidak pernah memaksa, karena dia sudah menyediakan 2 jalan kehidupan; fujur atau taqwa. Bebasssh itu mah, makanya kita manusia yang belum tentu bener ya jangan gampang judge orang, soalnya Allah SWT pun udah memberi kebebasan terhadap manusia. Dengan konsekuensi masing-masing yang juga telah dijelaskan dalam Qur’an.

10. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan –Al-Balad:10

8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. –As-Syams:8

Rasanya janggal kalau Allah SWT memberikan kita semua potensi tersebut dengan cuma-cuma. Akal dan hati adalah dua potensi yang membedakan kita dengan makhluk lain. Yang membuat kita bisa memilih untuk menjalani hidup mau seperti apa. Tidak seperti hewan yang sudah hidup secara sunatullah dan tidak memiliki “hawa nafsu”.

“Hawa nafsu” adalah hal yang bisa membuat kita menjadi makhluk hebat jika berhasil menaklukannya. Misalnya bandingkan antara manusia dan domba. Kalau keduanya patuh sama Allah SWT, kan jelas manusia yang lebih ‘keren’ karena dia sudah berhasil menaklukan ‘hawa nafsu’ yang terkadang malah membuat kita hidup terlalu bebas. Jadi apa gunanya Allah menciptakan beberapa kelebihan kepada manusia dibanding makhluk lain? Kay, akan ku bahas pada tulisan selanjutnya kalau ga malesh.

Menurut aku sih ya, kita harus pintar membedakan manakah yang memang who-you-are-nya ‘manusia’ dan mana yang ‘keinginan manusia’. Kehidupan liberal yang menyongsong tinggi kebebasan menurutku merupakan “bebas we lah kumaha kamu asal bahagia”. Bahagia? Bahagia apa sih yang nggak fana di dunia ini? Dan prinsip tersebut juga tidak menjamin kebahagiaan yang hakiki. Bahagia yang mereka maksud (kata aku sih) terlalu duniawi yang ujung-ujungnya adalah hanyalah mengusung kebebasan sex.

Jadi siapakah “manusia” itu?

Mungkin kita harus ingat bahwa,

“Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”

Baiklah, hayu kita berbuka dulu. Nanti aku revisi lagi tulisan amburadul ini.