Differences between “Do What You(r desires) Want” & “Be Yourself”

“Be your self! Be proud of who you are!”

Lah bosen amat. Semua orang dan semua media sedang sangat in untuk membahas LGBT right ini. Si bodohnya adalah aku pikir dari dulu nikah sesama jenis emang udah di bolehin di US, oh ternyata baru sekarang dibolehinnya…………….. Soalnya Lady Gaga pernah bikin lagu yang no matter you’re lesbian, gay, bisex, pokonya be happy aja and tetaplah bangga dengan keadaan seperti itu.

Aku jadi mikir sedikit, kok hal-hal yang menyimpang tersebut dibilang “who you are”. Se-dukun apakah dirimu sampe bisa mengenal siapa diri ‘mereka’?

Orang bilang, jati diri manusia seharusnya sudah dikenal sejak usia SMP idealnya. Tapi lingkungan dan kejadian-kejadian dalam hidup mungkin bisa mengubah diri seseorang. Dan siapa yang mengenal siapa kita? Ya tentu Yang Menciptakan kita. Baiklah mungkin kau akan bilang aku ini normatif. Tapi urusan begini, memang mau lari kemana lagi?

Logikanya adalah kita lahir kedunia tanpa sedikitpun ‘kekayaan’ milik kita. Kekayaan disini maksudnya potensi-potensi yang ada dalam tubuh kita; akal, hati, dan fisik. Jangan lupa pula, bahwa kitapun telah diberi potensi eksternal; Al-Qur’an, Sunnah, juga Fitrah (kecenderungan untuk bertuhan). Semua manusia memiliki itu semua sama. Mau dia sekarangnya LGBT juga dia dulu pernah dilahirkan dengan memiliki potensi-potensi tersebut. Lingkunganlah yang mengubah semuanya.

Tentang fitrah manusia:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui [1169], — Ar-Rum : 30

[1169] Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.

Tentang potensi internal:

9. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. –As-Sajdah : 9

4. sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . –At-Tin:4

231. dan ingatlah ni’mat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah (AsSunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. –Al Baqoroh : 231

Tapi Allah juga tidak pernah memaksa, karena dia sudah menyediakan 2 jalan kehidupan; fujur atau taqwa. Bebasssh itu mah, makanya kita manusia yang belum tentu bener ya jangan gampang judge orang, soalnya Allah SWT pun udah memberi kebebasan terhadap manusia. Dengan konsekuensi masing-masing yang juga telah dijelaskan dalam Qur’an.

10. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan –Al-Balad:10

8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. –As-Syams:8

Rasanya janggal kalau Allah SWT memberikan kita semua potensi tersebut dengan cuma-cuma. Akal dan hati adalah dua potensi yang membedakan kita dengan makhluk lain. Yang membuat kita bisa memilih untuk menjalani hidup mau seperti apa. Tidak seperti hewan yang sudah hidup secara sunatullah dan tidak memiliki “hawa nafsu”.

“Hawa nafsu” adalah hal yang bisa membuat kita menjadi makhluk hebat jika berhasil menaklukannya. Misalnya bandingkan antara manusia dan domba. Kalau keduanya patuh sama Allah SWT, kan jelas manusia yang lebih ‘keren’ karena dia sudah berhasil menaklukan ‘hawa nafsu’ yang terkadang malah membuat kita hidup terlalu bebas. Jadi apa gunanya Allah menciptakan beberapa kelebihan kepada manusia dibanding makhluk lain? Kay, akan ku bahas pada tulisan selanjutnya kalau ga malesh.

Menurut aku sih ya, kita harus pintar membedakan manakah yang memang who-you-are-nya ‘manusia’ dan mana yang ‘keinginan manusia’. Kehidupan liberal yang menyongsong tinggi kebebasan menurutku merupakan “bebas we lah kumaha kamu asal bahagia”. Bahagia? Bahagia apa sih yang nggak fana di dunia ini? Dan prinsip tersebut juga tidak menjamin kebahagiaan yang hakiki. Bahagia yang mereka maksud (kata aku sih) terlalu duniawi yang ujung-ujungnya adalah hanyalah mengusung kebebasan sex.

Jadi siapakah “manusia” itu?

Mungkin kita harus ingat bahwa,

“Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”

Baiklah, hayu kita berbuka dulu. Nanti aku revisi lagi tulisan amburadul ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s