Domba, idul adha, dan mood manusia

In order to continue my life, I’ll write some shiz here.

Kalau kata orang nulis itu ngebosenin, tapi bagi opi usia 11 tahun hingga hari ini, menulis adalah kebutuhan yang bisa bikin maag kambuh kalo ga dilakukan. Tapi ya, aku akui makin kuliah kok isinya makin ga berbobot. Nulis disini tuh artinya bukan nulis berdasarkan perintah orang lain. Kalau nulis karena disuruh mah ya malez juga. Dan bukan nulis di wordpres aja ya maksutnya.

Malam ini malam takbiran, sedikit sebel karena mesjid depan komplek ko kaga takbiran yah. Rasanya jadi kurang kerasa lebarannya. Tapi takbiran dari mesjid-mesjid lain berhasil mengurangi berantakannya mood hari ini meskipun dikit. Bisi disangka curcol meskipun emang, jadi aku mau bilang kalo terkadang hidup kita seperti larutan teh manis atau oralit. Kalo gula atau garemnya kebanyakan, akan ada suatu titik dimana air udah ga bisa melarutkan dan jadi jenuh. Yah begitupun kamu dan manusia lainnya. Semoga semakin bertambah usia, titik jenuh kita menjadi semakin bertambah dan bisa menerima gula dan garam yang lebih banyak lagi meskipun bikin pengen muntah atau malah jadi giung (kemanisan in sundanese).

Harusnya idul adha adalah perayaan terbesar umat Islam yang kedudukannya lebih dari idul fitri. Tapi tradisi dan budaya malah menempatkannya berbeda. Dan harusnya kita berbahagia, itulah kenapa aku merasa berdosa. Karena mood dihari ini malah jelek bukan main. Sebenarnya ini akibat dari tumpukan mood mood jelek beberapa hari kebelakang. Juga karena 3 minggu kedepan bakal pergi dari Bandung jadi rasanya rempong pizan dalam mengurusi ini itu.

Tadi aja saat ngelewatin depot sapi domba di depannya depan depan depannya komplek, rasanya complicated banget. Pertama merasa kasian karena besok adalah waktu kematian mereka. Kedua, aku merasa iri dengki karena enak banget mereka besok masuk surga. Lah kalo manusia mah mati pun bakal lebih banyak yang ke neraka daripada ke surga. Tapi sudahlah ga perlu sisirikan karena keadilan bukan terletak dari kesamaan nasib. Lebaynya, mikirin gitu doang sampe bercucuran air mata segala. Emang suka ga bisa kontrol emosi sih manusia.

Kalau kelamaan nulis, takut jadi diari. Maka udahan aja. Terakhir aku mau nitip ya.
Buat kamu para domba, kalau besok mati dan bertemu Allah, bilangin tolong lapangkan dada para manusia dan buka mata manusia agar bisa lebih berbahagia dalam menerima semua takdirNya (wkwk rada so iye ya) Udah gitu aja. Semangat buat besok, mba ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s