Nenek Moyang = Cari Aman

Sejujurnya, dulu, kalau baca terjemahan Qur’an rasanya kaya lagi didongengin. Apalagi waktu SD, dimana yang diceritakan adalah kisah nabi-nabi. Ya, aku tau teori: Qur’an itu pedoman hidup.

Tapi, teori dan kenyataan bertolak belakang, karena aku masih menganggap Qur’an hanya kisah cerita masa lalu semata yang entah apa korelasinya dengan kehidupan jaman sekarang.

Saat ilmu dan perbuatan berbeda, disitulah bodohnya manusia. Ilmunya tidak dijadikan sebagai cahaya yang menuntun ke jalan yang seharusnya. Ilmu itu hanya digunakan sebagai pijakan lulus sekolah tapi akan menjerumuskan disaat yang lain.

Kalau kita pikir baik-baik dan dalam-dalam, tentu saja isi Qur’an akan terus bisa digunakan hingga akhir zaman; sesuai janjiNya. Di zaman modern canggih hari ini pun.

Salah satu topik yang paling sering dibahas dalam Qur’an adalah mengenai kesesatan akibat mengikuti nenek moyang. Kupikir itu hanya berlaku untuk kaumnya para nabi-nabi terdahulu yang memilih menyembah berhala karena mengikuti nenek moyang. Hanya untuk kaum nabi terdahulu yang kaget karena ada agama lain yang menentang agama yang telah dianut mereka ratusan tahun. Hanya untuk kaum nabi terdahulu yang bisanya hanya mengejek agama Islam yang dulu berpengikut sedikit.

Tapi sekali lagi, Qur’an berlaku untuk setiap zaman.

Mari refleksi pada diri sendiri, apakah keyakinan yang kita miliki adalah hasil dari “cari aman” ngikut orang tua dan males mikir? Bukan males mikir, tapi kalau terlalu kritis mungkin takut sesat? Atau takut dikatain? Atau juga ga ada waktu buat mikirin Islam? Atau terlalu sibuk bikin kolo? (duh w bgt). Semoga keyakinan yang kita pilih memiliki dasar yang kuat, yang nanti kalau diakhirat Allah tanya kenapa kita Islam, kita punya jawaban hebat dan benar yang bukan: ngikut mamah ayah.

Maka sebaiknya kita tutup telinga jika ada yang mendiskreditkan siapa saja yang ingin mencari ilmu islam. Karena dari mana pemahaman yang benar itu kalau bukan dari belajar mengenai Islam. Tapi kata orang sih kalau mentoring takut malah sesat? Daripada bingung, aku jadi ingin nanya: apa bedanya ia yang “sesat” dengan kamu yang tidak mau belajar? kalau akhirnya sama-sama tidak menuju tujuan yang seharusnya?

Semacam kuliah aja, siapa yang ambis akan jadi bahan dikatain manusia. Ya gapapalah terserah. Tapi kalau ambis ngejar akhirat masih dikatain juga? Mungkin kita patut berprasangka baik kalau dia sudah punya kunci surga.

Kalau salah, salah aku. Kalau benar, dari Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s