How deep is your Iman?

Terkadang jikalau ada suatu statemen perintah, kita sebagai manusia terpelajar yang pintar dan kritis tidak akan langsung nurut, malah lebih senang bertanya: kenapa harus kaya gitu? Apa landasannya? Apa teorinya? Apa buktinya?

Seperti misalnya: ‘Eh pake hijab tuh wajib’
Akan ada jawaban: ‘Kok aneh ya, kan sama-sama manusia. Tubuh laki-laki perempuan juga sama aja, paling kita menutupi yang bedanya aja. Kok mesti sampe tangan kaki juga?’ (asli ada yang pernah bilang kaya gitu). ‘Ga ah ga percaya’

Atau
‘Tau ga di Islam mah ga ada pacaran’
Maka akan ada jawaban
‘Yaaa gimana atuh yaa, nanti gimana nikahnya kalo ga kenal dulu? Nanti kalau orangnya zonk gimana? Kalau malah nanti ga langgeng gimana?’ Sehingga ‘engga ah aku mah pacaran aja’

Contoh lain
‘Ga boleh nyontek loh’
Maka pertanyaan yang muncul:
‘Gimana dong cara lulusnya? Orang lain juga udah ga jujur masa kita jujur sendiri, nanti malah ga lulus’

Dan harap kagetlah, karena hal ini ternyata sudah terjadi pada kaum Bani Israil yang sudah Allah ceritakan di qs Al-Baqoroh. Allah memerintahkan:
‘Kurbankanlah seekor sapi’
Tapi mereka yang pintar dan kritis itu bertanya sangat banyak pertanyaan:
‘Yang kaya gimana? Warnanya apa? Laki-laki atau perempuan? Gemuk apa kurus?’
Di ayat selanjutnya Allah menyatakan bahwa hal itu sengaja mereka lakukan agar tidak jadi menyembelih sapi. ‘Hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu’ begitu kata ayat selanjutnya. Padahal batu yang keras dan emang ‘batu’ pun menurut jika Allah perintahkan untuk tergelincir disungai (masih di ayat selanjtnya). Lah manusia?

Kata kuliah Studium Generale kemarin yang membahas tentang kehalalan setelah ada seorang mahasiswa yang nanya, ‘iya saya tau beberapa makanan itu haram, tapi apa bisa dijelasin secara medis yang bisa lebih masuk logika?’
Lalu dijawab sama pengisinya: ‘saya bisa jelasin, sudah banyak penelitian tentang ini. Tapi apakah sebagai seorang yang memiliki iman hal itu jadi penting?’

Kembali ke qs Al Baqoroh, jadilah kita manusia yang memiliki iman, sehingga jika ada suatu perintah, ciri orang beriman adalah: ‘sami’na wa atho’na’ (kami dengar dan kami taat)
Sementata ciri orang munafik adalah ia yang akan menjawab: ‘(lupa arabnya)’
(Kami dengar dan kami mengingkari)

Kalau kita masih banyak bertanya menenai apa yang turun dariNya, sehrusnya kitalah yang bertanya pada diri sendiri: apakah aku masih memiliki iman?

Advertisements

One thought on “How deep is your Iman?

  1. Mengapa babi haram? Karena Allah swt telah mensyariatkannya haram. (dalam buku “Halal dan Haram”)

    Benar, dalam setiap urusan agama yg terpenting adalah mengimani dlm hati, perkataan, dan perbuatan. Kalau harus sesuai logika, mungkin pada zaman Rasulullah saw hidup, tak akan ada sahabat yg beriman. Karena pada saat itu ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) belum terlalu berkembang hingga hikmah2 dari ajaran Allah dan Rasul-Nya tak banyak diketahui. Tak perlu mengetahui hikmahnya, para sahabat tetap sami’na wa atho’na.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s