22

Mengobrol dan menulis adalah cara untuk merapikan dan menata ide-ide atau emosi yang ada dikepala kita. Lalu ijinkan aku untuk merapikan apa yang sedang berantakan dikepalaku saat ini. Ga penting sih, tapi suka-suka lah.

Memang sepertinya tingkat akhir adalah masa-masa yang bagaikan buah simalakama. Kalau dibilang pengen lulus cepet, ya pengen. Pengennya karena biar bareng temen-temen dan juga biar ga bimbingan lagi. Lalu ya, banyak lah alasan lain, misalnya biar ga bayar kuliah lagi, biar cepet bisa ngelakuin hal lain entah kuliah lagi atau kerja, dll. Tapi ada sisi lain ada hal-hal yang bikin males lulus. Pertama, karena ga pasti dunia apa yang akan dihadapi setelah lulus. Kedua, karena ngerasa masih ga bisa apa-apa. Ketiga, karena masih pengen ngampus. Keempat, biar renang di saraga tetep bayar 5ribu.

Ga jarang sekarang kalau aku menghirup udara di kampus tuh pake banyak mikir. Semacam, ya ampun, apakah aku masih punya waktu banyak buat menghirup udara dikampus ini dan merasakan segala atmosfernya lagi? Entah atmosfer kuliah atau atmosfer bersama teman-teman.

Bukan berarti pede mau cepet lulus, tapi lulus adalah sebuah keniscayaan. Entah lulus dari annex atau saraga, entah lulus Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari dst, entah 2016 17 18 19 20 21 22 23 24 25 dst. Ini seperti masa-masa akhir SMA. Namun waktu SMA rasanya cukup menggairahkan karena masih bisa bicara mengenai mimpi. “aku mau kuliah mesin” lalu esoknya ganti jadi “eh farmasi deh” lalu seminggu kemudian “eh nikah dulu deh” itu bisa. Tapi sekarang, sudah terlalu banyak waktu habis jika ingin memutar jurusan, dan masa depan sudah bukan hal yang bisa dimimpikan tinggi lagi. Tapi sudah harus realistis.

Mungkin ini memang waktu dimana harus menyerahkan segala kemungkinan padaNya, penulis skenario hidup kita.

Bye. Semoga all the best for us!

20160228-073942 AM.jpg

Makar

Kamu mungkin bosan mengartikan agama. A=tidak, Gama=kacau. Dalam bahasa sanksekerta agama artinya “tidak kacau”.

Kalau di ktpmu tulisannya agama Islam, mungkin aku bisa cerita sedikit. Bahwa dalam Kitab Suci kita Islam tidak pernah dikatakan sebagai agama.

“Inna ddiena ‘indallahil islam” kalau di quran terjemah artinya, “tidak ada agama lain disisi Allah selain Islam” Tapi ingatlah, Quran itu berbahasa arab, jadi kalau dari ayat tersebut, Islam dalam bahasa arab ialah “dien”. Lalu apa bahasa Indonesianya Dien? Apakah Dien itu agama? Rupanya tidak guys.

Dien memiliki arti sistem. Islam adalah sebuah sistem. Mungkin orang majusi tak apa kalau ia hanya mengingat tuhannya dikala api menyala. Tapi orang berdien islam, seluruh hidupnya berada dalam “sistem” yang dimiliki Allah.

Kalau ditanya mengapa aturan islam saat mendetail, bahkan masuk wc dan sekedar keluar rumah ada aturannya, itu karena memang cakupan Islam adalah seluas dan sedetail itu.

Maka aneh dan tidak masuk akal saat orang Islam membeda-bedakan “waktu” dan “tempat” untuk ‘agama’ bahkan profesi. Apalagi sekarang ada Islam liberal. Ntap. Mereka membuat makin kaburlah arti Islam sebenarnya. Benar dicampur salah menjadi wajar, lgbt yang bisa bikin manusia punah juga wajar.
Tapi semoga kita tidak terjebak dengan mewajarkan yang tidak wajar.

“Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali asing….” (HR Muslim)

Ps. Maap ngepos tiap hari

20160223-085304 PM.jpg
ah selo lahh

Sepertiga

Sepertiga kali kedua malam itu aku terbangun. Aku mendengar isak tangis lagi, lalu lantunan ayat-ayat suci. Setengah jam kemudian masih terdengar. Masih wajar. Lalu satu jam. Tak apa-apa. Dua jam, rasanya mulai janggal. Seperti De Javu. Persis tahun lalu.

Tiga jam. Lantunan ayat suci masih terdengar. Aku masih mengerjakan pekerjaanku. Aku akhirnya sudah berani bertanya lagi dengan was-was pada diri sendiri, perasaan takut menyergap sempurna.

“ada apa?”

Kuharap bukan perihal sejenis permasalahan orang ‘dewasa’. Dulu semua bisa akting baik-baik saja, padahal setiap sepertiga malam semua penghuni menangis tersedu.

20160204-110342-PM.jpg

 

#fiksibelaka

Relation Ship

Kami seketika diam berpandangan setelah guru kami bertanya,
“Apa itu akidah?”

Beliau menunjuk satu-satu untuk menjawab pertanyaan itu. Giliranku.

“Coba ya pak, mungkin akidah itu pemahaman seseorang?” Ngasal banget. Tentunya salah.
“Yang lain?” Tanyanya. Bermacam jawaban temanku, ada yang bilang mental, agama, pemahaman, keyakinan, dsb. Kelas mulai rusuh, bukan karena siswa siswa ketakutan ditanya, tapi karena memang penasaran. Jadi apa itu akidah? Sejak SD hingga SMP kami selalu mengikuti pelajaran Akidah Akhlak tanpa tahu apa artinya. Baru dipertanyakan saat sudah kelas 9, mau lulus.

“Oke, misalkan saya punya domba, lalu domba itu ditali ke pohon. Yang mana yang akidah?”
Kami makin bingung, apasih maksudnya? kerusuhan itu ada yang dimanfaatkan juga untuk mengobrol dan bercanda. Kami menggeleng tidak tahu apa korelasi domba dengan akidah.

Lalu beliau menjawab, “akidah itu talinya”.
Semakin bengonglah kita, tapi kelas sudah mulai hening.
Ya, lalu beliau menjelaskan bahwa akidah itu adalah ikatan. Ikatan antara manusia dengan Kholiknya. Saat itu aku manggut manggut, baru mengerti.

Seberapa kuat akidahmu bukan berarti seberapa kuat prinsip dan pemahamanmu, tetapi dalam kata lain itu bisa berarti, seberapa kuat ikatanmu dengan Allah?

Apakah dengan angin berhembus saja ikatanmu bisa lepas? Atau justru pisau tajam tak mampu melepaskan ikatan itu?

Semoga tak peduli siapapun dan apapun itu yang mencoba merenggangkan “ikatan”mu denganNya, akidahmu akan tetap bertahan hingga hari kau benar kembali padaNya.

20160218-092000 PM.jpg
(“We believe in God and the Day of judgment” But they’re not true believers)
Nauzubillah