Back from the death

[tulisan ke 352 di blog ini yang di publish, tulisan ke 618 dari yang publish maupun draft]

Yah sebenarnya kalau kemodernan dan kekinian manusia generasi ini menyatakan kepercayaan itu ga penting dan ga guna, kalau bagi aku sih harusnya itu menjadi hal penting dan krusial. Jangan susah-susah cari contoh, kaya misalnya di negara maju di asia timur sana sebut saja nama negaranya adalah Mawar (so’so’an dirahasiakan tea gening), kejadian bunuh diri di rel kereta udah wajar banget akibat emang yang namanya “keyakinan” ga mereka agungkan dan ga dicantumkan dalam segala hal apapun. Setidaknya di kita masih ada di ktp lah ya jadi bisa inget-inget dikit.

Kenapa ga punya keyakinan jadi nyambung ke bunuh diri, ya iya karena dengan ga adanya keyakinan mereka akan meyakini (atau meraba?) bahwa hidup sesudah mati itu ga ada. Kesannya jadi hidup di dunia ini ga usah diperjuangin, karena jalan pintasnya udah ada: kematian.

Atau kata cerita pa zadrakh waktu itu, bahwa di India mereka menganut keyakinan reinkarnasi itu ada. Jadi kalau kita lahirnya sengsara mendingan mati aja biar nanti hidup kembali bisa berada di kasta yang lebih tinggi. Jadi disana kalau ada rakyat miskin yang dianiaya ya bodo amat.

Secara gamblang dan jelas banget sebenernya udah keliatan bahwa “keyakinan” akan menjadi cerminan perjuangan hidup kita. Apakah kita lemah dalam berjuang karena yakin ada jalan pintas lain? Atau kita adalah pejuang hidup yang yakin semua hal akan ditanya tanggung jawabnya?

Anggap saja aku netral dan tidak memilih apapun, maka kelak aku akan lebih memilih yang kedua: lebih baik hidup ini diperjuangkan. Karena kalau niscaya nanti pas mati aku malah reinrkarnasi, aku ga akan rugi telah hidup susah sebelumnya. Ya tinggal nikmati aja kehidupan selanjutnya tersebut itu. Tapi kalau nanti pas mati ternyata ada dunia lain yang mencari pertanggung jawaban hidup sebelumnya juga aku ga akan kelimpungan karena ada yang diperjuangkan.

Kalau aku memilih menyerah dalam hidup, sukur sukur beneran ada reinkarnasi atau beneran hidup udah selesei. Lah kalau ternyata ada pertanggung jawaban? kan mamphus. Jadi memilih kehidupan setelah mati itu masih ada atau engga ya emang balik lagi ke diri masing-masing.

Masalahnya adalah, jika kita memilih tetap berjuang, apa yang seharusnya diperjuangkan dalam hidup? Apa yang seharusnya menjadi jawaban setiap anggota tubuh jika kelak ada hari pertanggung jawaban?

20160326-035443 PM.jpg

Ditulis sambil nunggu rifa jemput, katanya mau “nugas” bareng.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s