Fake it, fake it, till you make it

Seringkali banyak persepsi salah mengenai “Ikhlas”. Dulu aku mengenakan tameng: Ah daripada ga ikhlas mending ga usah. Padahal itu hanyalah pembenaran atas kemalasan aja.

Misalkan nih, bisikan malaikat berkata, “kayaknya boleh tuh solat sunnah dulu” eh tapi bisikan lainnya berkata “agak males yaa, kan buru-buru, mau ini..itu…dll” Lalu diri sendiri mencoba menengahi. “Yah, daripada sholat sunnah tapi ga ikhlas, mendingan ga usah tapi ikhlas kali ya”. Itu terjadi cukup sering. Padahal bilang we males.

Benar, bahwa syarat sesuatu hal disebut ibadah itu adalah kalau ikhlas. Kalau ngga ikhlas, maka itu bukan ibadah. Tapi pengertian ikhlaslah yang harus digaris bawahi disini. Jika bicara mengenai ibadah, maka pengertian ikhlas juga harus sesuai dengan Qur’an. Apakah iya ikhlas itu sama dengan rela?

Salah satu kata ikhlas yang tercantum di Qur’an ada di surat Al Bayyinah, selain itu ada juga di Az Zumar tapi lupa ayatnya.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Mungkin bisa di cek arabnya juga apakah yang di bold itu sama dengan ikhlas. Tapi da emang iya. Karena arabnya adalah: Mukhlisiina Lahuddin yakni ikhlas dalam beragama. Tetapi rupanya dalam Qur’an terjemah, Mukhlis itu adalah memurnikan ketaatan padaNya.

Jadi, dalam konteks ini, ikhlas itu bukan nunggu sampe hati rela. Ikhlas adalah melakukan sesuatu karena Allah. Bukan karena ingin diliat orang, untuk pamer, atau karena untuk kelegaan hati aja. Bahkan kalaupun kita melakukan suatu kebaikan karena terpaksa, itu adalah hal yang ga salah. Kalo kata guru bahasa inggris: fake it, fake it, fake it, until you make it.

Awalnya mungkin terpaksa, tapi lama lama akan terbiasa. Karena kalo nunggu sampe “hidayah” dan “kerelaan” itu dateng, niscaya ga akan beres-beres sampe akhirnya kita berjalan di shiratal mustaqim yang lebih tajam dari pedang itu lalu menyesali semua yang telah terjadi.

 

 

 

Advertisements

4 Comments

  1. Masya Allah, Shofi, tulisan2nya keren bgt. Beneran bikin mengingat Allah.
    Jazaakillah ya untuk sharing nya, semoga bisa sama-sama saling mengingatkan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s