Mahkota

Kalo sekarang ke kampus terus liat mahasiswa yang diklat diklat rasanya ikutan cape dan merasa kasian karena perjalanan mereka masih panjang wkwkwk…tapi tentu jaman dulu aku pernah ikutan semacem gitu tapi lupa apakah itu oskm, atau diklat terpusat, atau diklat divisi yang ingin aku tulis disini..

Saat itu kita ngelingker, terus di tanya sama si kakanya, cita-cita mau ngapain? (omg typical bgt). Semuanya menjawab secara formalitas. Tapi ada seorang temen yang jawab,

Saya abis lulus mau tahfiz dulu

Kenapa? Tanya si penanya.

Soalnya, kalau seorang anak bisa tahfiz, nanti di akhirat bisa ngasih mahkota buat kedua orang tua…..

Lalu hening,

Ya, terkadang aku merasa ambis banget ngejar dunia, (meskipun seharusnya keduanya beriringan), bahkan mikir “tahfiz” itu rasanya berattt banget. Padahal kalau masalah perkuliahan atau TA dituntasin abis sampe paper-paper udah sekardus (lebai)

Ya sih ambis itu ga salah, tapi salahnya adalah kalau mengabaikan untuk apa kita hidup seharusnya di dunia dan kalau niatan mengejar itu semua ga melibatkan Allah dan hanya untuk kepuasan diri.

ini tulisan sebagai pengingat diri sendiri saja karena aku merasa masih jauh dari niat baik…

20160621-041723-PM.jpg

 

The way you&I write #part3

Betapa membosankannya judul ini sampai sampai ada #part3 nya segala. Tapi tak apalah ya.

Aku adalah manusia yang memfollow tips-tips menulis, tips menerbitkan buku, mengolah karakter, memilih klimaks yang greget, mendescribe lokasi dengan menarik, memunculkan konflik, dan hingga cara-cara self publishing. Tapi makin lama aku sadar, bahwa ini adalah nonsense–untuk saat ini. Karena meskipun udah puluhan tahun (berasa tua) aku simpan dan pelajari, tapi aku ga pernah menulis dengan benar. heuheuheu

Suatu hari yang cerah, aku pernah mendapat wejangan dari tere liye waktu ia mengadakan training menulis,

Saya paling bingung kalo pada nanya: gimana sih caranya nulis? Karena nulis itu ga butuh pelajaran rumit yang kita harus pahami dalam-dalam seperti kalau kita belajar pelajaran eksak, seperti pelajaran kuliah, atau lain-lainnya.

Kalau mau nulis, jangan bertanya! Tapi nulis!
Karena kunci bisa nulis itu satu, yaitu nulis!

Aku hanya bisa berkata dalam hati, iyaaaajugaaayaaa. Meskipun kita harus sadar diri juga, bahwa ga mungkin sekalinya nulis langsung bisa kayak J.K Rowling.

Wel wel wel sesungguhnya hal yang menyenangkan dari menulis itu adalah kita jadi lebih mengenal diri sendiri dan mengenal isi pikiran kita. Ga jarang kalau lagi ga pararuguh lalu aku mencoba nulis, akhirnya jadi clear: oh jadi ini yang dari tadi aku cemaskan. Selain itu juga kita jadi mengenal diri sendiri (aku udh ngomong ini berapa kali ya). Selain itu, kita juga jadi mengenal diri sendiri, mengenal diri sendiri, dan diri sendiri. Mungkin aku sebut banyak karena itu dampak paling paling paling kerasa dari hasil aku nyampah-nyampah selama ini di wordpres, heu (lagi seneng dengan kata ‘heu’).

Best thing I have

Sudah 2 tahun lebih menjalankan ritual mengantar Ghina pulang ke bandara, tapi ini tetap jadi momen menyesakkan. Awalnya aku kira hubungan antar kami kami bersaudara yang rempong dan banyak berantem ini biasa aja, sampai akhirnya aku ngerasa kosong tiap dadah dadah sama ena di bandara, sampai akhirnya aku ikutan sedih dan kesel tiap si iya cerita sambil nangis, sampai akhirnya aku rela ikutan maen barbie dan meluangkan banyak waktu untuk main ala anak kecil demi bikin naira seneng. Sampai akhirnya aku lebih sering menangis karena membaca doa orang tua dibandingkan nangis karena TA (apa bgt perbandingannya teh)

Sampai akhirnya juga aku sadar, sebanyak apapun kecewa atau kekurangan, itu semua ga akan ngaruh terhadap perasaan ini terhadap mereka. Karena pulang tetaplah keluarga.

Baru kali ini aku memiliki perasaan yang ga pernah padam meski badai ujan panas salju melanda. Semoga kita bisa saling menyelamatkan kelak, didunia ataupun diakhirat. Sedih ih wkwkkw

20160725-120526 AM.jpg

The way you&I write #Part2

Sebenernya ini mah “The way I write” tapi biar ga terkesan egois jadi tetep ada you nya.

Awalnya aku beneran menyukai kegiatan nulis itu waktu SMP. Yang aku inget adalah aku sering nulis (tp ga tau nulis dg keadaan bahagia ga tau sedih ga tau biasa aja) dan dishare ke guru sekolahan dan keluarga bahkan digeser-geser ke tiap bangku orang dikelas untuk dimintain pendapat. Pendapat paling umum sih: “Pi, pakai EYD yang baik ya…” berhubung bahasanya emang bahasa sehari-hari (yah tidak berbeda dengan blog ini).

Di bangku SMA aku membuat blog yang pindah-pindah dari multiply, blogspot, bahkan blogsome, dan terakhir tumblr yang ada hingga hari ini (shofiak.tumblr.com, ini pun aku ga tau paswordnya apa, kalo ganti hp niscaya ga akan on tumblr lagi). Saat TPB (mereun, aku juga lupa,) aku baru mulai percaya bahwa ini adalah passsssion! Meskipun sekarang sih aku kembali meragukannya wkkwk.

Hal ini dimulai dari setiap ada ide buat nulis (terutama fiksi), aku langsung merasakan rasa-rasa aneh dalam perut dan dada, mungkinkah ini arti dari peribahasa butterflies in my stomach? Iyak betul! Sampe-sampe pengen senyum-senyum sendiri.

Selain merasakan butterflies, darah yang ngalir ke ujung jari jari tangan dan kaki tuh rasanya dingin, dan aku excited bangettt lalu segera buka laptop, takut idenya ilang. Saking banyaknya butterflies tersebut, aku biasanya malah jadi beneran mules (asli ini mah). Jadi aja kepotong dulu nulisnya. Akhirnya lupa deh.

Ada suatu masa, sebut saja masa blogspot dan tumblr, dimana aku lagi pengen nulis banget, etapi yang bikin males nya–barangkali kamu mau bilang aku jahat atau kaku atau super aneh– yaitu banyak pafolow-folow dengan orang yang dikenal dari temen SD hingga SMA (krn kan pas kuliah udah pindah wordpres), sehingga aku jadi males. Soalnya kalo aku dibuli mereka teh suka bilang, ah entar ditulis di tumblr… wkwkwkw males banget ga dibilang kaya gitu. Ya becanda sih, tapi aku jadi mikir banyak bahwa ada hal yang harus difilter dan ada yang engga. Udah gitu juga aku mau nulis yang rada jahiliyah teh takut. Ya biasalah, takut di judge.

Akhirnya berjalanlah waktu, terkadang ia berlari tapi kadang juga ngesot (naon si pi), dan aku disibukkan oleh kehidupan duniawi. Aku ga pernah nulis di word atau di buku tulis, tetapi hanya di tumblr aja. Aku ngefollow banyyyyak banget akun mulai dari temen sampe fangirl-nya artis artis dan penyanyi holiwood. Alhasil aku ga pernah nulis lagi, karena apa, karena hidup aku penuh dengan reblog-reblog-reblog-dan reblog atau like-like-like-dan like sampe lupa kalo aku punya laman sendiri. Akhirnya tumblr tersebut pun ga ada tulisan aku, kalo pun ada paling kegalauan yang dituangkan dalam satu kalimat doang.

Akupun menyadari bahwa aku membutuhkan suatu akun yang ga ada distraksi apa-apa. Yaitu wordpress, karena mau reblog juga ga se-bagus fiturnya tumblr, dan emang kesannya “nulis banget” gitu. Di tahun 2012 lahirlah blog ini bersamaan dengan akun tumblr baru yang emang fungsinya buat reblog doang. Niatnya ga akan di publish dan buat pribadi doang dan cuman di tempel di twitter dan ig.

Dan betul, menurut standar diriku sendiri, bahwa dengan aku memiliki wordpress ini, kerajinan nulis jadi meningkat. Sampai akhirnya berada dititik ini, dimana aku merasa keren sama orang yang punya target nulis: seminggu sekali, atau sebulan sekali, udah gitu hasilnya bagus dan berguna pula. Well, bahkan aku nahan buat ga nulis seminggu aja udah hebat. Karena nulis di wordpress ini rasanya udah terlalu kebiasaan. Lama-lama aku takut nyampah (padahal udah) dan ga penting bahkan mudhorot. Semoga itu mah pikiran lebay aja.

Aku pernah kepo sama suatu tumblr yang penulisnya hits itu geuning (kamu pasti tau deh), dia aja nulis ga tiap hari banget, dan aku mati-matian nahan biar ga mencet “publish” tiap abis nge draft diwordpress. Baru 2 hari ga ngepost aja rasanya kaya sebulan. Aku merasa bahwa ini bukan hal yang baik sih, entahlah.

Pertama karena aku cukup minder dengan orang lain yang pengalamannya banyyyyak sehingga wajar kalo menulis banyak; seperti cerita traveling, cerita pengalaman lomba, ato foto-foto bagus, atau apalah. Da aku mah apa atuh gini2 aja sebagai anak rumahan. Kedua, ada yang bilang kalau kita harus hati-hati untuk menulis dan jangan ngasal. Lah ini ngasal mulu. Terus aku juga masih kepikiran takut ini tuh pencitraan seperti yang pernah ditulis di sini. Aku bingung sih, ini baik dan bagus diterusin ga yah.. Dan percayalah padaku, nulis di wordpress ini ga butuh effort yang luar biasa sehingga kalo dibilang, “niat banget sih (gabut banget sih) pi ngeblog mulu” oh my god, ini bukan niat, hanya saja rasanya itu sebagaimana kamu kebelet pipis dan harus ke wc….aku juga bukan nulis kaya blogger keren yang pergi ke cafe cafe buat nulis… kadang angkot dan hape pun jadi buat ngepost mah….

Tapi pertanyaan dan pernyataan dalam paragraf terakhir tadi itu ga akan membuat aku berhenti ngewordpress, karena ga bisa aja. Ga tau deng

Terakhir, aku ingin berkata pararunten bagi follower yang menerima email mulu karena aku ngepostnya sering, hehehe

20160716-121658 AM.jpg

I Am Afraid Of Terrorism But Not As Much As Muslims Are — Thought Catalog

Matthew WiebeMy usual city bus ride to work consists of trying to carve out my own two inches of personal space and burrow into my music to drown out the school kids yelling. But in the aftermath of yet another attack on innocent people, this time in an airport in Istanbul, the mood was decidedly…

melalui I Am Afraid Of Terrorism But Not As Much As Muslims Are — Thought Catalog

Oportunis

Kamu pengkhianat
Kataku pada diriku sendiri
Setiap kali prasangka-prasangka yang diatur sedemikian rupa
Ternyata dikecewakan manusia

Kamu pengkhianat
Ujarku pada diriku sendiri
Karena setiap yang tertanam dalamku selalu salah
Manusia berhasil mematahkan apa yang kutanam
Kamu baik, kataku pada manusia
Ternyata ia hanya ingin melihatku menderita saja
Kamu perhatian, ujarku pada manusia
Padahal ia baru bertanya kabar dihari 5789 pertemanan
Dan 5788 hari sebelumnya,
Melihatkupun enggan
Oh, rupanya kabarku bukan tujuannya

Aku tidak mau mengkhianati diriku sendiri lagi
Maafkan aku

20160716-044432 PM.jpg

di km 58, bareng Alvi, sudah menyentuh t a lagi….

The way you&I write #Part1

“You’re what you eat”
sepertinya sangat berlaku bagi siapapun yang nulis. Kaya misal abis baca bukunya sophie kinsella yang kalimatnya sering banget ada: what on earth… why on earth….. lalu ku jadi ikut ikutan pernah nulis kaya gitu. Terus kadang terhipnotis juga gaya nulisnya tere liye, atau sesimpel-simpelnya ketularan sama blog orang lain.

Ada suatu rahasia yang aku jaga sejak masa remaja kira kira umur 16 tahun lah. Sebenernya ga rahasia sih, tapi pengen aja bilang kalo ini rahasia. Yaitu kita akan secara reflek ngikutin cara nulis ornag yang sering chat sama kita/orang yang kita kagumi/tulisan yang berkesan buat kita. Aku mengamati dari hasil sms atau chat-chat dengan orang yang intens chat dg kita seperti grup persahabatan wanita (halah), chat dg orang yang lagi curhat panjang, si doi, atau dosen, yang lama-lama kok bahasanya jadi serupa yaaa.

Paling jelas keliatan akan saling mempengaruhi sih kalo udah chat yang lamaaaaaaaaaaaaaa banget. Contohnya yang satu alay yang satu engga eh lama-lama dua-duanya jadi mix alay dan engga. Aku sadar banget sih waktu jaman dimana tiap hari dan hampir tiap jam pasti smsan sama nida sekedar nanya: mendingan bolos les apa engga? atau tau gakkk si naira ngegunting rambut aku (sumpah emang segapenting dan seababil itu). Lama-lama pas lulus aku sadar bahwa aku ketular gaya ngetiknya nida dan sebaliknya.Tapi yang paling ngaruh itu adalah kesan. Kalau kita berkesan sama sesuatu, maka itu akan digunakan dalam tulisan, meskipun orang itu ga pernah dipengaruhi tulisan kita, bahkan ga tau siapa. Kayak misalnya…….yahgitulah meni harus dicontohin wae..

Kadang juga terdeteksi dari diksi-diksi yang digunakan orang dalam nulis atau ngobrol secara persis dan aku hanya bisa berkata dalam hati: hmmm diksinya seperti kenal yaaaa. Seperti yang sering aku ketik yaaa. Atau juga kadang aku sadar sendiri ooopsss aku mengatakan diksi yang sering dia pakai… atau ooopss ini diksi yang si A tulis *lalu delet tulisan atau berkata: ah bodo amat

Yah begitulah………


7/12/2016 11.27pm.
Masih bingung dengan buku terjemahan timur tengah yang bahasanya begini: si fulan yang bagaikan kurma itu berjalan menuju sungai nil bak seorang ibu merindukan anaknya…… plz i dont get it.

11.16 pm

Kata orang dan kata meme meme sih lebaran itu menyebalkan dalam hal kalo ditanya kapan lulus atau kapan nikah. Beruntung aku cuman ditanyain kapan lulus aja, mereka beranggapan kalo aku masih muda padahal kan emang.

Kirain kalo ditanya kapan lulus rasanya bakal ngeselin seperti yang orang bilang. Tapi ternyata biasa aja ah hahahaha (naha ketawa).

Yang menyeramkannya adalah pertanyaan selanjutnya: udah ini mau ngapain teh?

Bagaikan ibu hamil yang belom empat bulan, mereka ga boleh bilang2 dulu kalo lagi hamil karena bisi ga jadi. Itulah rasanya pas ditanya: abis ini mau ngapain. Kalo aku cerita “pengennya sih…(kuliah/kerja/lain2)” takutnya ga kesampean seperti ibu hamil tadi. Yah, sampai hari ini aku masih rada insecure kalo ditanya gituan, apalagi kalau mendalam seperti kalo aku jawab mau kuliah akan ditanya lagi: dimana? Kalo dijawab kerja juga: dimana? Ngapain?

Sudahlah shofia dan para orang di tingkat akhir, simpan semua keresahan, kerjain dulu ta/revisiannya. Karena kata Allah kalau Dia berkehendak maka hanya dengan “jadilah” maka jadilah.

20160707-112852 PM.jpg

J-1: As Beauty As An Angel

Satu jam lagi Ramadhan akan meninggalkan kita, maka satu jam terakhir ini aku ingin menulis sesuatu.

Ada sebuah ayat yang menarik untuk dicermati, bahwa makhluk sekelas malaikat pernah “iri” terhadap manusia.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS 2:30)

Saat itu manusia diciptakan, lalu Allah mengumumkan bahwa manusia memegang jabatan: Khalifah di muka bumi (wakil Allah). Seketika malaikat bertanya-tanya: Kenapa manusia? Padahal kami (malaikat) adalah hamba Allah yang tidak akan berbuat kerusakan, dan akan selalu taat? Kenapa musti manusia yang merupakan makhluk yang dapat menumpahkan darah?” Memang, dulu sempat terpatri dipikiran bahwa jadi malaikat itu enak ya, sepertinya sih cantik, taat, dan hidupnya ga ada godaan. Justru itulah, adanya godaan dan hawa nafsu itu yang membuat manusia jadi lebih hebat kalau bisa taat.

Rupanya bukan hanya malaikat, iblispun menolak kenyataan ini dengan tidak mau bersujud pada manusia saat Allah memerintahkan seluruh makhluk bersujud (aku pernah nulis ini deh tp biar aja ya). Sujud disini bukan berarti menghambakan diri, tetapi bentuk makhluk lain “siap” membantu manusia dalam menjalani tugas kekhalifahannya.

Kadang aku juga suka mikir, kerjaan malaikat itu beberapa diantaranya ngurusin manusia, sisanya wallahu alam. Ingat-ingat saja lagu “sepuluh malaikat yang wajib diketahui” yang kita hapalin waktu PG/TK. Tugas-tugasnya malaikat yaitu menurunkan rizki untuk manusia, mencatat amal baik/buruk manusia, mencabut nyawa, bertanya pada manusia di alam kubur, dll. Kebayang ga sih jadi malaikat rokib/atid tiap hari nempel terus sama kita dan jeli atas segala perbuatan kita dan ditulisin satu-satu. Terdengar membosankan dan cukup waw tapi toh mereka memang malaikat; makhluk yang akan selalu taat.

Manusia sebagai “anak baru” inipun Allah tunjuk sebagai wakil Allah dimuka bumi, bukan malaikat (makhluk yang sangat taat dan tidak memiliki nafsu) juga bukan iblis (makhluk taat yang sudah beribadah lebih lama dan diciptakan jauh lebih dulu dari manusia). Haruskah idung kita ngapung karena kita menempati jabatan yang dipertanyakan dua makhluk sehebat iblis dan malaikat?

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS 17:70)

Kalau diibaratkan dengan teknologi, maka kita adalah gadget paling banyak fiturnya sehingga sanggup jika diberi beban yang lebih. Kenapa? Karena manusia memiliki potensi yang bisa mendukung tugas kita. Dan potensi itu tidak dimiliki makhluk-makhluk lainnya. Seperti halnya juga teknologi, jika aku adalah sebuah hp smartphone tetapi aku tidak mengenal “diriku sendiri” bisa jadi aku hanya memaksimalkan fitur fitur yang aku tahu saja: sms dan telepon. Padahal kalau aku mau belajar, maka aku akan tahu si pembuat “diriku” pengennya aku jadi apa, dan fitur-fitur apa saja yang bisa menghantarkan aku ke tujuan tersebut.

Pun manusia, kita harus mengenal diri kita sehingga kita akan tahu, apa yang Allah inginkan saat Dia menciptakan kita? Diri kita yang super rumit ini (bayangkanlah saat kamu belajar biologi, sel2, darah, saraf2, atau psikologi, atau kegalauan2 dan overthinking yang kamu miliki) akan sangat “mubazir” kalau Allah menciptakan kita yang rumit ini hanya untuk hepi-hepi terus.

Kalau kamu adalah peracik obat-obatan, pembuat robot, atau pembuat-pembuat lainnya, barangkali ga mungkin bikin sesuatu hal yang hebat dan rumit tapi cuman buat: biarkanlah mereka hidup dan menikmatinya. Tanpa ada suatu “tujuan” khusus. Belum lagi tumbuhan (yang buahnya kita makan dan sayurnya sangat sehat), hewan (yang dagingnya berprotein), langit (yang siang dan malam memiliki porsi seimbang), dan tanda-tanda kekuasaanNya yang lainnya yang kalo dipikir-pikir itu semua “buat kita”.

Udah mah manusia itu sendiri merupakan penciptaan yang hebat, lalu makhluk-makhluk lain juga diciptakan untuk mendukung kehidupan kita. Masihkah kita berpikir bahwa hidup kita harus sesederhana yang dijalankan sekarang ini? (seharusnya bukan kita, tetapi aku)

Tujuannya itu apa? Barangkali telah disebutkan di paling atas: menjadi khalifah dimuka bumi. Yang menjalankan hidup sesuai aturanNya, meng-uswatunhasanah-kan Rasulullah Muhammad SAW, dan menjadikan Allah sebagai Rabb, Malik, dan Illah-nya.

Sekian dulu tulisan dimalam takbiran ini, tulisan ini ditulis pukul 05 sore tapi berhenti karena harus mengerjakan sesuatu hal (yah biasalah kerempongan lebaran) sehingga baru dilanjut malam ini. Semoga jadi pengingat khususnya buat diri sendiri dan umumnya buat yang baca.

Habis mudik, kalau sempat akan dilanjutkan, dan semoga kita bertemu Ramadhan selanjutnya! 🙂

Taqobalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Maafkan aku ya……..

20160705-075840 PM.jpg

Puasa ga puasa

Wacana terbaru bulan ini “yg puasa hrs ngehormatin yg ga puasa” agaknya pernah aku setujui dalam 5 detik dihari aku lagi ga puasa disiang bolong dan lupa sarapan. Dalam 5 detik itu aku mikir, iya juga ya, kerasa banget susahnya makan waktu ga puasa. Tapi hal itu ternyata ga bener karena kebanyakan emang tempat makan buka kok, yang tutup paling warung nasi atau beberapa tempat makan dipinggir jalan. Selain itu mau makan juga bebas bebas aja orang ditutup kain. Kerasa ‘susah makan’nya karena ya masa we mau makan ditempat umum. Kalo makan ya makanlah ditempat makan, jangan di bawa kemana2, dan itu bukan hal ribet kok.

Akhir ramadan ini rupanya aku ga saum lagi. Kadang aku bertanya tanya, ya Allah kok gini2 amat ya, pdhl kan akhir ramadan lagi pengen2nya mengais amalan2 (cie gak) dan merupakan hari2 dimana kita sadar bahwa awal ramadan diisi dg hal yang kurang maksimal dan pengen di ganti di hari2 terakhir ini. Namun disisi lain aku inget perkataan seseorang kalau kita juga harus qonaah dalam menerima takdir yang ga bisa diubah. Barangkali dengan berlapang dada justru Allah akan menghargai itu. Wallahu alam.

Kemarin aku menghabiskan waktu full dirumah. Dan kalo dirumah mah ga puasa juga makan aja sesuka hati. Paling kalo nadia tergiur dia akan mengacungkan jari tengah:( kalau gina paling bakal ngomel2. Soalnya yaa kalo mereka ga puasa juga suka gitu. Jadi emang wajar aja, gausah terlalu baper (lah siapa yg baper).

Tetapi tahun ini naira mulai belajar puasa rutin secara full. Tahun2 sblumnya ia hanya 1/2 hari. Tapi oh tapi, rupanya nayra sangaaaat gampang tergoda buat buka puasa. Suatu pagi pukul 7.30 aku lagi sarapan, ehh datanglah naira dan merengek2 minta sesuap. Sebenernya dia ga laper, hanya saja kabitaan (tergiur). Pernah juga lagi migrain, dan cara cepet ngilanginnya dengan bikin kopi. Naira mencium wanginya lalu merengek lagi minta buka. Akhirnya aku simpulkan: ga puasa kali ini harus kaya orang puasa dan mikir dulu kalo mau makan apakah ada naira ato engga.

Kemarin saat kami lagi otw bukber keluarga, di pinggir jalan ada aa aa minum cendol dingin dong! Si naira mulai agak tergoda tapi kami bilang gini, ‘ih kalo naira ttp puasa hebat tauu, bisa ngalahin orang gede yang tadi!!’ Lalu naira ketawa, ‘iyaa yaaa’. Eh udah gitu beberapa menit kemudian malah ada teteh2 di motor minum chatime………….

Disini aku mau info aja bahwa setiap perbuatan baik sengaja atau engga bakal ngaruh ke orang lain. Dalam hal ini yang ga puasa trs makan di tempat umum lalu keliatan anak kecil yang lagi belajar puasa bisa ngeganggu ‘belajar’ mereka yang udah susah2 di bujuk2 sama keluarganya biar kuat. Ini fyi aja, mau menghargai atau engga mah memang urusan masing2.