Happiest

Aku sudah mempersiapkan perkataan dan kalimat untuk menghiburnya, yang terlalu sering kehilangan. Lima tahun lalu, ia tertawa dan menggodaku saat aku datang bersama seorang teman lelaki, hei, ia menghancurkan kalimat-kalimat indah yang aku buat sepenuh hati untuk menghiburnya. Itu hari dimana adiknya–adik kembarnya, berpulang karena sebuah kecelakaan. Sial, bisa-bisanya membahas kehidupanku saat ia berada dalam dunia yang atas bawah kanan kiri depan belakang sudah berantakan.

Kurasa ia sudah lupa, 15 tahun lalu, saat ibunya juga pergi jauh. Ia tetap bermain bersamaku. Berlari kesana-kemari, mengajariku bersepeda, mengajariku melompati tali karet, hingga belajar memelihara kucing. Padahal malam itu aku mendengarnya menangis saat ibuku mengelus kepalanya, memberi beberapa nasihat untuk tetap berdiri tegar meski ibunya yang selama ini jadi tumpuannya–tidak akan pernah kembali. Disatu sisi aku ingin menghibur, tapi disisi lain, ia tidak pernah mau menunjukkan sedikitpun kesedihan itu. Bukankah kau juga mengerti, bahwa banyak sekali orang yang benci dikasihani?

Sejak hari itu, aku tahu hidupnya tidak seteratur dulu. Tidak seteratur hidupku yang masih diatur oleh kedua orang tua dengan rumah nyaman dan hidup berkecukupan. Kalaupun hari ini aku merantau, tapi aku masih tetap bergantung pada mereka. Sementara ia harus berpikir banyak untuk melanjutkan kehidupannya. Jika hati manusia terdiri dari beberapa ruangan, maka para pengisi hatinya, perlahan pergi satu persatu. Jangankan pergi satu-persatu, bahkan pergi seorangpun bukankan rasanya hampa sekali? Sementara ia mengalami banyak kepergian orang dalam hidupnya.

Rahasia saja, bahwa kepergian orang-orang dalam kehidupannya hanya diketahui olehku. Bukan ia bercerita, tetapi lebih karena aku mengenal semua orang dalam hidupnya. Tidak pernah ia menangis didepanku mengisahkan hampa hidupnya, sulitnya mencari biaya kuliah sendiri, bagaimana sepi sering menggerogotinya. Ia lebih suka mencari cela dalam kehidupanku untuk ia tertawai dan menjadikannya hiburan. Bukan hiburan baginya–tapi bagiku.

Lagi lagi hari ini seseorang pengisi hatinya pergi. Kalimat-kalimat penghibur sudah aku siapkan sebaik mungkin, tapi saat aku berusaha mengatakannya, ia segera menepis,: hei, pengangguran! Pasti bingung ya abis lulus mau ngapain? Ah, aku memang bukan penghibur yang baik.

Tapi kali ini tangismu sudah tidak bisa berbohong lagi. Ia akhirnya mengisi sudut matamu sebagaimanapun kau berusaha menertawai hidupku.


banyak sekali orang yang paling ceria–selalu ceria, tidak pernah bercerita, tidak pernah menangis, dan tentang kehampaan dalam hati mereka, tidak ada yang tahu bahkan cicak didindingpun.

 

don’t avoid the thing that scares you.

Mungkin semua orang pernah ngerasain perasaan dan kecemasan bahwa kematian semakin mendekati dirinya. Misalnya waktu lagi sakit parah, kalau lagi gempa, hujan besar dan petir, atau saat insomnia di malam hari, saat mendengar pengumuman mesjid bahwa ada seorang tetangga yang diambilNya, atau juga saat lagi ngelamun kemudian pikiran-pikiran itu menyergap membuat kita ketakutan.

Pernah ga sih, waktu lagi takut dan berpikir tentang kematian, kita membayangkan dan sudah tahu diri ini lebih condong akan berbahagia atau justru merana—kalau sudah mati nanti. Aku juga pernah, yang ada aku hanya menyesal dan menyesal sekaligus lemah dan pasrah. Sekuat tenaga hanya bisa berzikir sambil berharap setiap zikir mampu menghapus dosa kita yang bagaikan spidol snowman yang bukan buat whiteboard, yaitu seperti susah diapus dan banyak.

Satu dan lain hal dihari ini membuatku sedikit mikir, bahwa akhir-akhir ini aku sering mencemaskan hal-hal yang sepele dan melakukan effort untuk hal yang kurang bermanfaat. Well, sebenarnya, kalau ditanya siapa itu tuhan? Maka seharusnya setiap orang memiliki jawabannya.

Siapakah yang (paling) berhasil membuat kita menangis? Siapakah yang (paling) mengisi pikiran sepanjang waktu? Siapakah yang (paling) berhasil membuat kita berkorban? Siapakah yang (paling) membuat kita seketika berbahagia? Siapakah yang selalu menjadi pertimbangan dalam setiap keputusan yang kita ambil? Siapa yang kepadanya kita menggantungkan kebahagiaan?

Jawabannya, mereka adalah tuhan dalam diri kita. Aku menulis ini juga sambil deg-deg-an, karena kalau mau menjawab pertanyaan tadi, takutnya bukan bermuara pada Allah SWT. Seperti yang tertera dalam surah Al-Ikhlas, bahwa Illah/Tuhan itu adalah sesuatu yang menjadi tempat bergantung semua harapan, kebahagiaan, cita-cita, dan seluruh kehidupan kita.

tumblr_mb1hqnbW4a1rwjr80o1_500

Kalau kita kembali pada Allah hanya saat sedih dan kecewa aja, kalau setiap perbuatan dan keputusan pertimbangannya hanya kepuasan diri sendiri, seharusnya kita bertanya lebih sering dan lebih dalam pada diri sendiri, siapa dan apa yang sebenarnya menempati posisi nomor satu dalam hidup kita? Astaghfirullahal-adzim, semoga Allah selalu menetapkan hati kita agar selalu menuju-Nya, dan memberikan kita kekuatan agar pantas mengatakan “La Ilaha Illallah muhammadar-rasulullah” saat nyawa meregang.

Karena bukankah sangat curang, kalau kelak dialam barzakh dan alam akhirat kita ingin Allah selalu menolong kita, tapi saat didunia kita “hanya” mengingat Allah kala lagi sedih aja? Itupun kalo iya.


Ditulis tepat beberapa puluh menit sebelum mendengar kabar seorang Uwa yang dipanggil-Nya. Selalu saja merasa aneh ketika beliau beberapa bulan lalu sempat mengobrol, tapi sekarang melihatpun sudah tidak bisa. Ketika dulu beliau masih sangat kuat, ternyata sekarang sudah diambil oleh Yang Maha Kuat dan Penyayang. Semoga kesalahannya dihapuskan, keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran (terutama a adi, a rama, dan a azhari), kuburnya dilapangkan, dan diberi tempat tertinggi disisiNya. Aamiin ya robbal alamiin.

Tujuh juli.

10 tahun lalu aku memberikan ayah sebuah kado ulang tahun berbungkus kado merah. Sebuah buku berjudul: Dilarang Merokok! Bukunya sekecil bungkus rokok juga setebal bungkus rokok. “Ayah harus baca yah!” Kataku saat itu. Ayah hanya ketawa dan mengiyakan lalu mengambil buku kecil tersebut.

Hari ini aku memiliki perspektif lain terhadap ayah dan rokoknya yang membuatku tidak pernah membenci perokok. Bukan berarti aku suka, bahkan jika ayah berhenti merokok aku akan sangat senang!

Rokok ayah dimataku adalah gambaran perjuangan ayah. Sejak kehidupan ayah waktu muda yang tidak mudah, lalu menikahi mama dan menghidupi kami yang semuanya sama sekali tidak semudah apa yang kutulis.

Terkadang saat aku beresin meja ayah dan menemukan puntung rokok yang bertumpuk, yang kubayangkan adalah bagaimana ayah sering begadang, membaca buku-buku berbahasa segala macam. Terkadang membaca tafsir, terkadang mekanika, terkadang mengonsep ngonsep sesuatu dilaptopnya. Dan ayah melewati itu semua dengan rokoknya.

Entahlah, ga bisa berkata banyak, aku benci rokok ayah karena membuatku sedih, bahwa dengan melihatnya aku jadi melihat segala perasaan dan kesulitan ayah demi membahagiakan kami! Selamat ulang tahun ayah! Xoxo!

–Draft 7 Juli 2016, 11.13AM

 

Pascalulus #1

Terlihat dua orang sedang mengobrol serius

b: Sekarang kamu sibuk ngapain?
a: Sibuk nyari temen yang pengen ditemenin
b: Hmmm….oh….ok….

13631391_1140986872635775_7830366248537547359_n

sumber gambar: buzzfeed.
Btw semua gambar di blog ini bersumber dari tumblr/buzzfeed/pinterest/sendiri.

 

Perempuan Di Balik Jendela

Kurang lebih sudah 10 tahun kamu selalu berdiri di balik jendela tempat tinggalku. Aku ingat betul, setiap hari Kamis pukul 10, kau selalu berpijak disitu hingga pukul 10.30. Lalu pergi. Aneh sekali.

Tahun-tahun pertama, kamu datang bersama dengan tangisanmu dan teriakanmu akan namaku. Kukira kau sudah gila sehingga aku hanya menertawakanmu dari dalam sini, dan enggan menemuimu sedetikpun. Lebih tepatnya barangkali aku sudah muak. Tangisan dan teriakanmu tidak mampu membuatku lupa bagaimana kau meninggalkanku demi hidup bersama lelaki tua-kaya-raya itu. Padahal kau sudah janji selalu bersamaku, sehidup semati.

Lama-lama, aku luluh juga. Itu butuh waktu 9 tahun, hingga tahun lalu aku berhasil memaafkanmu. Meski kau perempuan, tetapi kau sangat setia–lupakan lelaki tua yang barangkali sudah tiada itu. Aku tidak tahu apakah hubungan antara “perempuan” dan “kesetiaan” itu berbanding terbalik sehingga aku mengatakan “tetapi” seperti kalimat tadi. Tapi rasanya cocok saja. Aku jadi lupa mengapa dulu aku sempat membencimu setengah mati.

Sudah pukul 09.00 hari Kamis, tahun 2016. Genap sepuluh tahun kau menemuiku. Aku bersenandung riang sambil menyisir. Aku sudah mandi, berpakaian bagus, dan menyemprotkan minyak wangi. Membayangkan kau datang lagi pukul 10.00 sambil membawa sekotak brownies kesukaanku seperti minggu kemarin membuatku ingin tersenyum sampai menangis. Kau harus mengerti, kadang terlalu senangpun membuat kita ingin menangis.

Lalu Jhony menghampiriku tertawa, meledekku yang sedang mengusap tangis. Ah kasihan, dia tidak mengerti.

Benar! Pukul 10 lewat 6 detik kau sudah disitu sambil melambaikan tangan dengan sumringah.Senang sekali melihatmu senang. Aku jadi ingin tertawa sekaligus menangis lagi. Kau menyuruhku mendekat. Kemudian menunjukkan secarik kertas padaku dibalik kaca,

Aku punya kejutan! tulisanmu begitu rapi.

Aku menggerakkan bibirku, apaaa? kataku tak sabar, sambil sedikit memukul jendela. Paling ia akan memberiku brownies, atau kopi, atau bunga?

Kamu terlihat memanggil seseorang, lalu lelaki muda berkemeja garis-garis datang, berdiri disebelahmu sambil tersenyum dan menundukkan kepala padaku–maksudnya ingin salam. Apa maksudnya? Siapa dia? Aku bertanya-tanya sampai kamu akhirnya menulis lagi,

Aku akan menikah, restui kami ya

Aku tidak bisa menjawab apa-apa, seperti kehilangan kesadaran. Aku membaca tulisan itu berulang-ulang. Kau melambai-lambai tanganmu menunggu jawabanku. Lelaki sialan itu malah tersenyum penuh kemenangan.

Aku lalu menggeleng kepala. Tidak bisa. Tidak mungkin. Apa artinya 10 tahun ini kita selalu bertemu? Apa artinya hadiah-hadiah yang selalu kau berikan padaku? Apa artinya aku selalu berdandan rapi setiap Kamis pukul 10? Apa artinya tawa dan tangisku selama ini yang hanya untukmu?

Perlahan, aku melihat lengan kananku. Ah, sakit sekali, tapi terkadang sakit fisik itu kita butuhkan agar lupa akan sakit yang didalam sini. Aku kehilangan akal sehat. Seperti akan gila. Sebuah cutter yang selalu kuselip dibalik celana akhirnya sudah menyentuh tangan kananku bahkan sudah memotong 1-2 urat. Jhony kulihat sedang sibuk mengobrol dengan dinding. Ah, ia memang gila.

Sementara kau dan orang itu, memukul-mukul jendela. Berteriak memanggil dokter. Kalian menangis. Aku terjatuh lemas dan tertawa. Kunci rumahku hampir terbuka oleh seseorang yang kau panggil ia dengan sebutan dokter, kemudian aku melihatmu lagi, sedang menempelkan secarik kertas,

Berhenti, Ayah! Kenapa harus bunuh diri?

Sebelum kesadaran menyergap sempurna, aku terlanjur tak sadar.

Jalan Riau no. 11, Bandung

tumblr_nd0abiZyux1tchrkco1_500

Epilog:

Hari ini harusnya jadi hari kebahagiaanku, yaitu hari dimana aku meminta restu ayah dan ibu untuk menikah. Kau tahu? Ibu seperti sudah tidak peduli lagi–sibuk bersama adik-adik yang merupakan saudara tiriku. Ia kaya sekali dan sangat berbahagia. Sampai-sampai tak pernah menanyakanku, apalagi mengunjungi ayah.

Kau tahu? Saat meminta restu ayahpun hasilnya tidak bagus. Ia malah mencoba bunuh diri. Setelah ayah pingsan, lalu aku mengobrol dengan dokter. Katanya, ayah melihatku seperti melihat ibu. Wajah kami memang mirip. Tapi rupanya meminta restu darinya sama saja memunculkan perasaan sakit seperti saat ibu pergi dulu.

Apakah kau tau? Aku sangat bingung. Mengapa hidupku selalu seperti ini sejak aku kecil–aku ingin ayah dan ibuku yang dahulu, 10 tahun lalu. Aku jadi ingin berdiri terus sepanjang hari disini. Di rel kereta api.

Lupin

Siapalah yang tidak mengenal Lupin, pencuri ulung sepanjang masa yang penuh tipu muslihat dan pengkhianatan yang cerdik. Kalau kau tidak tahu, maka hari ini kau jadi tahu.

Tetapi pencuri paling kejam bukanlah Lupin. Ia adalah smartphonemu. Aku benci menamakannya dengan ‘smartphone’ karena kepintarannya dapat mengisap tatapan mata teduh para orang-orang dekat. Ia juga tidak pantas menjadi kata-kata dalam puisi ataupun prosa. Aku akan memanggilnya handphone, seperti anak-anak 90-an yang baru diberi handphone saat kelas 3 SMP sehingga jadi memiliki hobi bermain snake.

Betapa kini kita tidak perlu mengetik di mesin ketik, tidak perlu berjalan kesana-kemari untuk mendapat jawaban dari pertanyaan, tidak perlu berkirim surat pada dirinya dengan tinta hitam berkertas merah muda lalu menunggu 3 bulan untuk mendapat jawaban, juga tidak perlu membayar mahal untuk sebuah lembar foto keluarga. Bahkan foto sendiri pun sudah berjumlah ribuan dalam galeri kita masing-masing.

Kalau orang jaman dulu iri, maka aku juga iri. Bagaimana mereka menghabiskan waktu secara manusiawi. Sekarang hidup kita seperti dikelilingi hantu–mereka ada tapi tidak yakin benar ada atau tidak. Jiwanya melayang kemana ingin mereka berada. Saat tawa dan senyum manusia bukan untuk orang didepannya, tetapi untuk entahlah siapa. Terkadang aku ingin berkata, pergi dan temui orang itu, agar saat kau tidak ada maka benar benar tidak ada dan agar saat kau ada maka kau benar-benar ada.

Ia juga menjadi belati yang dengan mudah membuat manusia saling kecewa lalu saling benci bahkan jadi tidak saling mengenal. Padahal, bukankah jiwa manusia ada dalam tubuhnya? bukan handphonenya. Maka temuilah.

Ya, ia adalah pencuri terbesar di era ini, yang mencuri kerinduan, sapaan, obrolan basa-basi memuakkan, tatapan, dan kepedulian. Bahkan hal sepenting kesayangan juga perjanjian.

Tapi apa daya, aku tidak bisa berbuat banyak selain menulis ini.
Tapi apa daya, toh aku juga sedang dicurinya.

-Bandung, 02.37
bersama rencana-rencana yang gagal

20160811-025452 PM.jpg

“Deserve”

Bandung, 2001

Betapa egoisnya aku, baru kusadari saat kau berubah sikap. Lalu kau menaruh sepucuk surat di bukumu yang kau masukkan dalam tasku. Terlihat tulisan tanganmu dengan tinta merah muda: Aku lelah, apakah harus selalu aku yang menunggu? Apakah aku yang harus selalu mengejar? Apakah aku yang harus selalu memberi kejutan? Apakah aku yang harus selalu mementingkan urusanmu, tapi sialnya, kau tak mengenal diriku? Aku tidak suka berbasa-basi. Segera sesampainya dirumah, kutekan nomor telpon rumahmu. Kalau kau bertanya padaku berapa nomornya saat aku tidurpun–aku bisa menjawabnya. Terlalu hapal. Hampir genap 4 tahun aku selalu memenceti tombol itu setiap harinya.

Rupanya memang, sudah saatnya kau perhitungan akan segala pengorbananmu padaku. Aku empat tahun ini selalu tersenyum saat kau tiba di depan rumah membawa bonsai-bonsai kesukaanku. Tapi apakah aku pernah kerumahmu untuk membawakan nasi goreng kesukaanmu? Aku empat tahun ini selalu tertawa setiap kau berikan komik-komik lucu terbaru. Tapi apakah aku tahu betapa kau menyukai komik-komik detektif? Kau juga mengajariku matematika setiap ulangan, tapi apakah aku peduli bahwa esoknya kau akan ulangan fisika dan sudah remedial 3 kali? Telpon darimu kubiarkan menggantung bersamaan dengan kesadaran-kesadaran ini. Bahwa tidak satupun, aku mengenal dirimu. Bahwa tentang diriku, kau sudah hapal segala jalan pikiran dan semuanya.

Tiga belas menit setelah kau menutup telepon, aku hanya termangu menyadari betapa aku memang jahat dan egois. Hanya ingin disenangkan, tanpa mau menyenangkan. Kukira kamu wajar membenciku, karena yang kau berikan padaku selalu pengorbanan. Tapi kau tak pernah berbahagia.

Tunggu, apakah perhitungan itu perlu bagi orang yang saling mengasihi? Jika tidak, maka aku tidak apa-apa. Ini bukan masalah apa-apa. Karena ini, tidak pernah jadi apa-apa.


layaknya seorang ibu dan ayah yang tak peduli anaknya akan membalasnya atau tidak, mengingatnya atau tidak, memperdulikannya atau tidak.

11.07 8/5/2012

 

Koran Pagi

Kebiasaanku di pagi hari enam bulan terakhir ini adalah duduk di beranda depan rumah, menyesap teh hangat dan membaca koran. Dengan bapak berada disampingku, menikmati kopi dan koran yang sama–tapi berbeda halaman. Terlalu biasa. Tetapi menenangkan dan menyenangkan. Terlebih jika aku sudah menemukan puisimu dalam koran itu. Namamu R. S., 19 tahun, sama sepertiku. Pun inisial namamu.

Pagi itu berbeda, aku menghabiskan waktu dikereta menuju Bandung karena perkuliahan akan segera dimulai. Tentu laman puisimu berada ditanganku. Sampai akhirnya seorang perempuan berambut sebahu terlihat sibuk berjalan mencari tempat duduk. Ah, disini. Katanya pada kursi disebelahku. Aku tersenyum sekenanya, lalu perempuan itu duduk, merapikan tas, dan terkaget melihat tanganku, hey! Itu puisiku!
Dia adalah kamu. Giliranku yang kemudian terkaget.

Sejak kejadian itu, aku dan kamu menjadi sangat akrab. Kau sangat menyenangkan dan tidak sesendu tulisanmu disetiap pagi itu. Terlebih rupanya kita berada dalam satu kampus yang sama, dengan jurusan berbeda. Aku di sastra, lalu kau di teknik kimia. Anak pintar. Setiap sore kami selalu berjanji bertemu di bawah pohon hanya untuk sekadar berbicara mengenai apapun. Mulai dari bajumu yang tidak matching hingga persoalan ayah-ibumu yang ternyata akan berpisah. Tetapi semenjak kau terkena ulat bulu, kita jadi sering berpindah tempat.

Satu tempat yang kau tidak sukai, perpustakaan. Heran, kau adalah seorang penyair yang hebat tetapi tidak menyukai buku-buku. Karena aku sudah menyukaimu. Begitu jawabanmu setiapku bertanya. Sejak aku dekat denganmu, puisi di koran pagi menghilang. Karena puisi-puisiku adalah kamu, dan kamu sudah ada disini. Buat apa aku menulis lagi? Jawabmu setiap aku menagih puisi-puisi itu.

Hari ini, aku kembali duduk di beranda. Menyesap secangkir teh hangat, dengan koran pagi di tanganku. Puisimu kembali hadir. Aku tersenyum. Aku sadar, aku lebih menyukai puisimu daripada dirimu. Kini kau kembali menjadi perempuan dalam setiap puisi yang kau tulis. Kembali menjadi perempuan sebelum bertemu denganku. Sendu, berteman dengan buku, dan menyukai kesendirian di perpustakaan kampus.

Aku berhasil menghidupkan puisimu lagi. Maafkan aku, yang lebih memilih puisi dan sendumu.

20160807-073807 AM.jpg

Hari Pertama

Ini hari pertama dalam hidupmu yang ada dalam hidupku. Hari terakhirku justru menjadi hari pertamamu. Siang itu aku memohon pada malaikat untuk menghadiri mimpi-mimpi manusia. Urusanku belum selesai, kataku memelas.

Kini aku memiliki 40 hari untuk menyelesaikan semua perkaraku. 50 hektar tanah dan segala tetek bengeknya sudah kuwasiatkan dalam mimpi adikku. Kematianku cukup muda, aku baru 32 tahun. Tak pernah terpikirkan untuk menulis wasiat dan urusan-urusan yang kupinta untuk selesaikan usai kematianku. Kecuali tentangmu, perempuan yang tinggal 100 meter dari rumahku, karena kutulis setiap hari. Sehingga benar apa yang tersirat dibenakmu, aku mati penasaran dan tidak tenang.

Aku tidak layak menuliskan apa yang seharusnya dan akan terjadi pada diriku disini–kata mereka, itu rahasia. Sehingga apa yang aku katakan ini, hanya yang beririsan saja dengan keperluan manusia, terutama dirimu.

Seandainya bisa kuulang waktu, aku ingin kembali lagi kedunia. Itulah yang dikatakan para orang-orang mati, terutama para pendosa. Begitupun aku. Terutama aku. Terlebih setelah melihat dirimu berada dalam pemakamanku. Kau berjalan perlahan, terakhir, dan penyendiri. Aku terenyuh, kau tahu namaku? Bahkan kau menangisi kematianku? Setelah sepi, kau menancapkan bunga mawar ditanah basahku, sambil sesekali mengelap ingusmu. Seharusnya aku merasa senang, tapi sungguh, sebagaimanapun membahagiakannya, kematian bukan hal yang romantis atau menyenangkan. Aku benci kisah Romeo Juliet.

Ini, hari terakhir dalam hidupku. Tetapi hari pertama dalam hidupmu, berada dalam hidupku. Tetapi aku telah mati.

2:22

20160804-031835 PM.jpg

Gosong dan Kosong

Seandainya kalian tahu, aku beruntung menikahi istriku. Aku pencinta makan, lalu ia pintar memasak. Serasi bukan? Aku tahu kau akan bilang tidak. Karena siapalah yang tidak senang memiliki istri yang jago memanjakan lidahmu. Siapa pula yang tidak menyukai makanan. Klise. Tapi tetap saja, aku beruntung.

Usia pernikahan kami baru beranjak tahun ke tujuh. Anak kami, tidak ada. Ia meninggal saat berusia 7 bulan di rahim ibunya, setahun yang lalu. Kami hanya harus bersabar. Hanya? Tidak, itu bukan sebuah hanya. Menunggu kehadiran seorang anak, membutuhkan kesabaran ekstra dan kalau dibilang lelah–aku mengakuinya. Lebih tepatnya, rindu, pada mereka yang belum aku temui. Rindu itu menyiksa, bukankah kau setuju?

Dua bulan lalu kerjaanku sungguh menumpuk. Aku beruntung. Banyak orderan skala besar disana-sini, sehingga beberapa kali aku menginap dikantor. Istriku memakluminya. Hingga suatu malam larut saat aku pulang, aku mendapati makan malam yang gosong. Maaf, kata istriku, tanpa terlihat menyesal. Aneh sekali, pikirku. Ingin segera beristirahat membuatku mengabaikan masalah ini. Aku tetap melahap. Hambar. Baru kali ini. Gosong. Baru kali ini.

Setelah hari itu, aku tidak lagi menginap dikantor. Aku selalu pulang, selarut apapun itu. Dan lagi, masakan istriku kembali gosong dan hambar. Kali ini tanpa kata maaf. Ia tidak menemaniku makan, karena sudah kenyang, katanya. Kupikir ia sudah makan duluan karena terlalu lama jika harus menungguku.

Hari ini, hari ulang tahun pernikahan kami yang ke delapan. Aku pulang cepat tanpa memberitahu istriku, membawa kado–rahasia, aku takut kau membongkarnya. Aku berjalan perlahan membuka pintu. Ia tidak sadar. Kulihat dapur mengepul. Ia sedang memasak. Tetapi tunggu, suaranya ada dikamar, seperti sedang menelpon seseorang.

Aku menguping, ia berbisik. Lalu tertawa. Lalu selanjutnya perkatan-perkataan dari mulutnya membuatku tak bernyawa. Seperti akan mati perlahan. Kubiarkan asap didapur semakin mengepul. Kubiarkan api semakin membesar. Tangis lelaki lemah ini kuharap dapat memadamkannya. Meski nyatanya, tidak. Api semakin membesar dan melahap apapun dihadapannya. Termasuk istriku, teleponnya, dan aku.

Gosong, aku tahu mengapa semua masakannya menjadi gosong. Rupanya ia selalu menyisakan kosong dan gosong, pada apa yang ingin ia tinggalkan.

 

20160807-074459 AM.jpg