Gosong dan Kosong

Seandainya kalian tahu, aku beruntung menikahi istriku. Aku pencinta makan, lalu ia pintar memasak. Serasi bukan? Aku tahu kau akan bilang tidak. Karena siapalah yang tidak senang memiliki istri yang jago memanjakan lidahmu. Siapa pula yang tidak menyukai makanan. Klise. Tapi tetap saja, aku beruntung.

Usia pernikahan kami baru beranjak tahun ke tujuh. Anak kami, tidak ada. Ia meninggal saat berusia 7 bulan di rahim ibunya, setahun yang lalu. Kami hanya harus bersabar. Hanya? Tidak, itu bukan sebuah hanya. Menunggu kehadiran seorang anak, membutuhkan kesabaran ekstra dan kalau dibilang lelah–aku mengakuinya. Lebih tepatnya, rindu, pada mereka yang belum aku temui. Rindu itu menyiksa, bukankah kau setuju?

Dua bulan lalu kerjaanku sungguh menumpuk. Aku beruntung. Banyak orderan skala besar disana-sini, sehingga beberapa kali aku menginap dikantor. Istriku memakluminya. Hingga suatu malam larut saat aku pulang, aku mendapati makan malam yang gosong. Maaf, kata istriku, tanpa terlihat menyesal. Aneh sekali, pikirku. Ingin segera beristirahat membuatku mengabaikan masalah ini. Aku tetap melahap. Hambar. Baru kali ini. Gosong. Baru kali ini.

Setelah hari itu, aku tidak lagi menginap dikantor. Aku selalu pulang, selarut apapun itu. Dan lagi, masakan istriku kembali gosong dan hambar. Kali ini tanpa kata maaf. Ia tidak menemaniku makan, karena sudah kenyang, katanya. Kupikir ia sudah makan duluan karena terlalu lama jika harus menungguku.

Hari ini, hari ulang tahun pernikahan kami yang ke delapan. Aku pulang cepat tanpa memberitahu istriku, membawa kado–rahasia, aku takut kau membongkarnya. Aku berjalan perlahan membuka pintu. Ia tidak sadar. Kulihat dapur mengepul. Ia sedang memasak. Tetapi tunggu, suaranya ada dikamar, seperti sedang menelpon seseorang.

Aku menguping, ia berbisik. Lalu tertawa. Lalu selanjutnya perkatan-perkataan dari mulutnya membuatku tak bernyawa. Seperti akan mati perlahan. Kubiarkan asap didapur semakin mengepul. Kubiarkan api semakin membesar. Tangis lelaki lemah ini kuharap dapat memadamkannya. Meski nyatanya, tidak. Api semakin membesar dan melahap apapun dihadapannya. Termasuk istriku, teleponnya, dan aku.

Gosong, aku tahu mengapa semua masakannya menjadi gosong. Rupanya ia selalu menyisakan kosong dan gosong, pada apa yang ingin ia tinggalkan.

 

20160807-074459 AM.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s