Koran Pagi

Kebiasaanku di pagi hari enam bulan terakhir ini adalah duduk di beranda depan rumah, menyesap teh hangat dan membaca koran. Dengan bapak berada disampingku, menikmati kopi dan koran yang sama–tapi berbeda halaman. Terlalu biasa. Tetapi menenangkan dan menyenangkan. Terlebih jika aku sudah menemukan puisimu dalam koran itu. Namamu R. S., 19 tahun, sama sepertiku. Pun inisial namamu.

Pagi itu berbeda, aku menghabiskan waktu dikereta menuju Bandung karena perkuliahan akan segera dimulai. Tentu laman puisimu berada ditanganku. Sampai akhirnya seorang perempuan berambut sebahu terlihat sibuk berjalan mencari tempat duduk. Ah, disini. Katanya pada kursi disebelahku. Aku tersenyum sekenanya, lalu perempuan itu duduk, merapikan tas, dan terkaget melihat tanganku, hey! Itu puisiku!
Dia adalah kamu. Giliranku yang kemudian terkaget.

Sejak kejadian itu, aku dan kamu menjadi sangat akrab. Kau sangat menyenangkan dan tidak sesendu tulisanmu disetiap pagi itu. Terlebih rupanya kita berada dalam satu kampus yang sama, dengan jurusan berbeda. Aku di sastra, lalu kau di teknik kimia. Anak pintar. Setiap sore kami selalu berjanji bertemu di bawah pohon hanya untuk sekadar berbicara mengenai apapun. Mulai dari bajumu yang tidak matching hingga persoalan ayah-ibumu yang ternyata akan berpisah. Tetapi semenjak kau terkena ulat bulu, kita jadi sering berpindah tempat.

Satu tempat yang kau tidak sukai, perpustakaan. Heran, kau adalah seorang penyair yang hebat tetapi tidak menyukai buku-buku. Karena aku sudah menyukaimu. Begitu jawabanmu setiapku bertanya. Sejak aku dekat denganmu, puisi di koran pagi menghilang. Karena puisi-puisiku adalah kamu, dan kamu sudah ada disini. Buat apa aku menulis lagi? Jawabmu setiap aku menagih puisi-puisi itu.

Hari ini, aku kembali duduk di beranda. Menyesap secangkir teh hangat, dengan koran pagi di tanganku. Puisimu kembali hadir. Aku tersenyum. Aku sadar, aku lebih menyukai puisimu daripada dirimu. Kini kau kembali menjadi perempuan dalam setiap puisi yang kau tulis. Kembali menjadi perempuan sebelum bertemu denganku. Sendu, berteman dengan buku, dan menyukai kesendirian di perpustakaan kampus.

Aku berhasil menghidupkan puisimu lagi. Maafkan aku, yang lebih memilih puisi dan sendumu.

20160807-073807 AM.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s