don’t avoid the thing that scares you.

Mungkin semua orang pernah ngerasain perasaan dan kecemasan bahwa kematian semakin mendekati dirinya. Misalnya waktu lagi sakit parah, kalau lagi gempa, hujan besar dan petir, atau saat insomnia di malam hari, saat mendengar pengumuman mesjid bahwa ada seorang tetangga yang diambilNya, atau juga saat lagi ngelamun kemudian pikiran-pikiran itu menyergap membuat kita ketakutan.

Pernah ga sih, waktu lagi takut dan berpikir tentang kematian, kita membayangkan dan sudah tahu diri ini lebih condong akan berbahagia atau justru merana—kalau sudah mati nanti. Aku juga pernah, yang ada aku hanya menyesal dan menyesal sekaligus lemah dan pasrah. Sekuat tenaga hanya bisa berzikir sambil berharap setiap zikir mampu menghapus dosa kita yang bagaikan spidol snowman yang bukan buat whiteboard, yaitu seperti susah diapus dan banyak.

Satu dan lain hal dihari ini membuatku sedikit mikir, bahwa akhir-akhir ini aku sering mencemaskan hal-hal yang sepele dan melakukan effort untuk hal yang kurang bermanfaat. Well, sebenarnya, kalau ditanya siapa itu tuhan? Maka seharusnya setiap orang memiliki jawabannya.

Siapakah yang (paling) berhasil membuat kita menangis? Siapakah yang (paling) mengisi pikiran sepanjang waktu? Siapakah yang (paling) berhasil membuat kita berkorban? Siapakah yang (paling) membuat kita seketika berbahagia? Siapakah yang selalu menjadi pertimbangan dalam setiap keputusan yang kita ambil? Siapa yang kepadanya kita menggantungkan kebahagiaan?

Jawabannya, mereka adalah tuhan dalam diri kita. Aku menulis ini juga sambil deg-deg-an, karena kalau mau menjawab pertanyaan tadi, takutnya bukan bermuara pada Allah SWT. Seperti yang tertera dalam surah Al-Ikhlas, bahwa Illah/Tuhan itu adalah sesuatu yang menjadi tempat bergantung semua harapan, kebahagiaan, cita-cita, dan seluruh kehidupan kita.

tumblr_mb1hqnbW4a1rwjr80o1_500

Kalau kita kembali pada Allah hanya saat sedih dan kecewa aja, kalau setiap perbuatan dan keputusan pertimbangannya hanya kepuasan diri sendiri, seharusnya kita bertanya lebih sering dan lebih dalam pada diri sendiri, siapa dan apa yang sebenarnya menempati posisi nomor satu dalam hidup kita? Astaghfirullahal-adzim, semoga Allah selalu menetapkan hati kita agar selalu menuju-Nya, dan memberikan kita kekuatan agar pantas mengatakan “La Ilaha Illallah muhammadar-rasulullah” saat nyawa meregang.

Karena bukankah sangat curang, kalau kelak dialam barzakh dan alam akhirat kita ingin Allah selalu menolong kita, tapi saat didunia kita “hanya” mengingat Allah kala lagi sedih aja? Itupun kalo iya.


Ditulis tepat beberapa puluh menit sebelum mendengar kabar seorang Uwa yang dipanggil-Nya. Selalu saja merasa aneh ketika beliau beberapa bulan lalu sempat mengobrol, tapi sekarang melihatpun sudah tidak bisa. Ketika dulu beliau masih sangat kuat, ternyata sekarang sudah diambil oleh Yang Maha Kuat dan Penyayang. Semoga kesalahannya dihapuskan, keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran (terutama a adi, a rama, dan a azhari), kuburnya dilapangkan, dan diberi tempat tertinggi disisiNya. Aamiin ya robbal alamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s