Happiest

Aku sudah mempersiapkan perkataan dan kalimat untuk menghiburnya, yang terlalu sering kehilangan. Lima tahun lalu, ia tertawa dan menggodaku saat aku datang bersama seorang teman lelaki, hei, ia menghancurkan kalimat-kalimat indah yang aku buat sepenuh hati untuk menghiburnya. Itu hari dimana adiknya–adik kembarnya, berpulang karena sebuah kecelakaan. Sial, bisa-bisanya membahas kehidupanku saat ia berada dalam dunia yang atas bawah kanan kiri depan belakang sudah berantakan.

Kurasa ia sudah lupa, 15 tahun lalu, saat ibunya juga pergi jauh. Ia tetap bermain bersamaku. Berlari kesana-kemari, mengajariku bersepeda, mengajariku melompati tali karet, hingga belajar memelihara kucing. Padahal malam itu aku mendengarnya menangis saat ibuku mengelus kepalanya, memberi beberapa nasihat untuk tetap berdiri tegar meski ibunya yang selama ini jadi tumpuannya–tidak akan pernah kembali. Disatu sisi aku ingin menghibur, tapi disisi lain, ia tidak pernah mau menunjukkan sedikitpun kesedihan itu. Bukankah kau juga mengerti, bahwa banyak sekali orang yang benci dikasihani?

Sejak hari itu, aku tahu hidupnya tidak seteratur dulu. Tidak seteratur hidupku yang masih diatur oleh kedua orang tua dengan rumah nyaman dan hidup berkecukupan. Kalaupun hari ini aku merantau, tapi aku masih tetap bergantung pada mereka. Sementara ia harus berpikir banyak untuk melanjutkan kehidupannya. Jika hati manusia terdiri dari beberapa ruangan, maka para pengisi hatinya, perlahan pergi satu persatu. Jangankan pergi satu-persatu, bahkan pergi seorangpun bukankan rasanya hampa sekali? Sementara ia mengalami banyak kepergian orang dalam hidupnya.

Rahasia saja, bahwa kepergian orang-orang dalam kehidupannya hanya diketahui olehku. Bukan ia bercerita, tetapi lebih karena aku mengenal semua orang dalam hidupnya. Tidak pernah ia menangis didepanku mengisahkan hampa hidupnya, sulitnya mencari biaya kuliah sendiri, bagaimana sepi sering menggerogotinya. Ia lebih suka mencari cela dalam kehidupanku untuk ia tertawai dan menjadikannya hiburan. Bukan hiburan baginya–tapi bagiku.

Lagi lagi hari ini seseorang pengisi hatinya pergi. Kalimat-kalimat penghibur sudah aku siapkan sebaik mungkin, tapi saat aku berusaha mengatakannya, ia segera menepis,: hei, pengangguran! Pasti bingung ya abis lulus mau ngapain? Ah, aku memang bukan penghibur yang baik.

Tapi kali ini tangismu sudah tidak bisa berbohong lagi. Ia akhirnya mengisi sudut matamu sebagaimanapun kau berusaha menertawai hidupku.


banyak sekali orang yang paling ceria–selalu ceria, tidak pernah bercerita, tidak pernah menangis, dan tentang kehampaan dalam hati mereka, tidak ada yang tahu bahkan cicak didindingpun.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s