Rebel

20141027-055813-AM.jpg

Soekarno Hatta, obrolan, dan kemacetan sore ini membuat mataku terbuka lebar. Segala A hingga Z menyambung menjadi satu. Sebab akibat saling bertautan. Akhirnya aku menemukan para pencuri terbesar para hati yang kosong. Barangkali kemudian hari aku akan lebih menggunakan kerasionalan, dibanding hal yang masih harus ku istikharoh-kan. Dunia yang dipercaya seketika runtuh, entah bersisa atau tidak.

Adil akhirnya tidak ditemukan disetiap sudut manapun didunia ini. Se-sangat-tidak-adanya-seorangpun yang bisa dipegang, se-aneh-se-sulit diterimanya-takdir yang terjadi, semoga Allah selalu menjadi penuntun.
Yang terpenting hanyalah, jangan menjadi bodoh.

Instagram dan Diam

Media sosial selalu menunjukkan sisi positif atau kebahagiaan dari kehidupan manusia. Menunjukkan orang yang suka berjalan-jalan ke tempat bergengsi dan mahal, berfoto dengan kebahagiannya (entah keluarga, teman, atau lainnya), atau memperlihatkan kesuksesan hidupnya seperti lulus kuliah, wisuda, menikah, anak, dan sebagainya. Well, aku juga masuk kedalam tipe orang seperti itu. Mana mungkin aku upload foto saat lagi ngeplot Matlab yang udah salah sebanyak 571893086578756 kali. Berasa desperate banget. Lebih baik menampilkan saat aku sudah dinyatakan lulus. Entahlah, media untuk pamer sepertinya terlalu banyak atau mungkin memang itulah fungsinya.

Sebagai orang yang pamer terkadang aku ga bermaksud untuk pamer, tapi karena ya pengen aja. Atau mungkin aku belum bertanya lebih dalam pada diri sendiri, kenapa pi mesti ngupload di ig? Mau pamer? Mau diucapin selamat? Tapi asa lebay teuing ga sih kalo sampe direnungi segala. Kita juga ga bisa stop orang-orang dari media sosial mereka. Mau bilang, ih jangan upload-upload wae atuh, da aku teh di rumah mulu ga kaya kamu yang suka jalan-jalan. Kan ga bisa.

Disisi lain, kadang beberapa hal membuat kita jadi membanding-bandingkan diri. Seperti, waw keren, dia udah kuliah master lagi! Waw bisnisnya hebat! Waw keluarganya bahagia banget! Waw anaknya lucu! Jadi sirik! Kalimat terakhir itulah yang mayan mempengaruhi. Kita juga jadi mikir bahwa kenapa orang lain rasanya bahagia banget ari kita mah biasa-biasa aja.

Hal paling salah adalah orang-orang selalu menunjukkan kesuksesannya tapi ga pernah menunjukkan usahanya. Kadang aku sempet mikir bahwa kenapa orang-orang kesannya gampang buat sukses, buat udah kuliah lagi, buat udah berbisnis keren. Well, padahal kita juga harus tau bahwa dibalik kepameran manusia ada berdarah-darahnya dulu, ada usaha kerasnya, ada gagal-gagalnya. Sama seperti aku yang upload foto abis sidang padahal itu teh hasil pekerjaan dari Juni tahun 2015.

Barangkali aku harus meminimalisir melihat kebohongan-kebohongan yang tercipta antara diri sendiri dan media-media sosial. Meyakini bahwa banyak sekali hal yang ga manusia pamerkan.

Untuk mencapai apa-apa yang diinginkan, ga segampang liat foto orang di ig. Karena dulunya, mereka juga usaha dengan diam.


1.43 pm, setelah sadar masih banyak hal yang harus dikejar setelah ini.

Overthinking kills

Teriakan paling memekakkan telinga dialami digelap malam. Saat lampu satu persatu dimatikan. Hanya alunan pelan dari detik jam dinding yang terasa, juga cicak cicak yang sesekali menyuarakan perut lapar mereka. Atau kodok yang bernyanyi di kolam depan. Atau juga suara hening. Tahu kan apa itu suara hening? Ya, suara yang kita dengar saat diam. Tidak bisa kujelaskan, karena kalianpun mengerti.

Aku mulai memejamkan mata pukul 11. Siang hari melelahkan membuat badan hanya ingin berbaring. Tapi betapa kepala selalu tidak tahu waktu. Satu persatu kejadian ia tayang rekamannya, dalam mataku yang masih terpejam. Memperlambat waktu yang paling mengesankan. Waktu yang paling ingin kuhapus dan dilupa. Lalu rekaman percakapan, mengulang ulang terus perkataan yang menyentuh tapi menyakitkan. Mengulang juga literasiku yang tidak seharusnya kuucap.

Juga tatapan dan wajah wajah silih berganti muncul mengesankan perasaan mereka. Setiap waktu hari itu diperlambat tiap sekonnya. Apa yang harus dan tidak harus dikatakan, dilakukan, atau ditunjukkan, ia diktekan. Antara gila dan wajar rupanya beda tipis saat gelap dan hening seperti ini. Kalau sedang sangat buruk, barangkali air mata hanya menambah jelek suasana.

Bisakah kau diam? Tanyaku kepada kepalaku. Bernegosiasi memohon ingin menumpah lelah pada lelap. Berkali ia katakan: mengerti, aku akan berusaha diam, ah tapi itu hanya agar aku bahagia sekejap saja. Karena selanjutnya tayangan lain bergantian bermunculan kembali, menyisakan sesal dan bersalah dengan rasa berbeda. Terkadang jantung berpacu lebih cepat dari biasanya, darah lebih deras, mata lelah semakin sakit saat terpejam, saat segala ketakutan bermunculan seperti ini.

Isi kepalaku seperti tidak bisa berkompromi, jangan jangan ia bukanlah bagian dari diriku? Apakah suatu makhluk memasukinya dan mengeluarkan kecemasan, takut, kemarahan, dan perasaan buruk dengan tidak terkontrol? Karena ini bukan mauku!

Sayup sayup ayat suci dari masjid lalu terdengar. Rupanya benar, aku tidak tertidur malam ini. Rasanya baru beberapa menit memejam mata, tapi mengapa fajar sudah hampir tiba?

Suara suara dari masjid semakin berkumandang sana sini. Pikiranku mulai sedikit terkendali. Adegan adegan dan suara yang berputar perlahan memelan. Manusia sering lupa, bahwa segala ketakutan dan kecemasan sejatinya hanya bisa dipasrahkan pada-Nya. Tidak perlu berpikir terus hingga hampir gila. Tingkahku malam tadi, seolah aku ini tuhan pengendali takdir dan waktu.

Segala gelisah akhirnya menguap bersamaan dengan pendengaranku yang menangkap suara dari masjid-masjid. Akhirnya aku bisa terlelap pulas, tanpa sempat mendengar adzan shubuh.

Kau tahu? Malam seperti ini adalah jelmaan iblis agar manusia tidak mendengar panggilan Tuhannya saat fajar tiba, agar lupa bahwa segala kecemasan dan kekosongan ada Dia yang menenangkan.

Bayangan

Ini sudah hari ketujuh bagiku menempati kantor ini yang jam kerjanya hingga pukul 04 sore. Namun karena kondisi kota yang macet, aku lebih memilih pulang setelah maghrib agar lalu lintas sudah tidak begitu padat. Kalau kau tanya apa yang aku lakukan hingga magrib, aku biasa membaca buku-buku atau sekedar browsing, dan jika ada yang lembur, sesekali aku mengobrol dengan mereka.

Sudah tiga hari terakhir ini aku mengalami keanehan setiap pulang kantor. Tiga hari lalu, saat aku berjalan di basement, aku melihat sebuah bayangan mengikutiku. Itu adalah hari-hari dimana banyak orang menulis kisah mengenai kejahatan yang mengenai dirinya di medsos dan di share di grup-grup. Lokasinya pun kebanyakan berada di dekat kantor. Apakah aneh kalau aku merasa takut? Salah satu dari mereka mengatakan “Hati hati kalau berada di….kemarin saya diikuti oleh seorang lelaki……..untung saya pernah belajar beladiri sehingga saya berhasil kabur……..” Itu kata salah satu broadcast yang pernah kudapat. Aku yang sadar diri tidak bisa bela diri atau membawa alat untuk melindungi diri, segera melepas heels yang kupakai dan berlari sekencang mungkin kearah mobil dan dengan terburu-buru aku segera menyalakan mesin. Tidak mau tahu siapa pemilik bayangan itu.

Hari selanjutnya, aku sudah hampir lupa mengenai kejadian itu. Sampai ketika aku mulai memasuki basement–kali ini basement sebuah mall karena aku habis menonton sebuah film horor (dan sendirian!), lagi-lagi aku melihat bayangan itu lagi. Dua bayangan, satu milikku dan satunya entah siapa. Dengan memberanikan diri, akupun melihat kanan-kiri-depan-belakang sambil berjalan cepat. Sial, nihil. Lalu kulihat lagi bayangannya, masih ada! Film horor yang habis kutonton membayangi diriku, lalu aku segera berlari. Bayangan itupun lari! Tapi sosoknya tidak ada! Rupanya yang mengejarku sejak kemarin bukan penjahat, tetapi makhluk lain!

Akhirnya aku melewati hari itu dengan selamat lagi, tetapi berbeda dengan hari esoknya.

Sepulang kantor, aku menunggu seorang teman yang akan pulang bersamaku. Ya, aku mulai tidak berani berjalan di basement sendirian. Tetapi sesampainya dibasement, ia meninggalkanku sendirian diluar toilet–tentu karena ia sedang buang hajat. Kebelet, katanya. Kau tahu apa yang selanjutnya terjadi? Aku terkesiap setelah melihat dua bayangan lagi seperti kemarin, satu milikku dan satunya entah siapa.

Karena aku sadar temanku berada didekatku (meskipun itu didalam toilet), aku berusaha menenangkan diri. Setidaknya kalau terjadi apa-apa, ia bisa menolongku. Aku diam. Ia diam. Aku berjalan dua langkah. Ia juga. Aku berjalan mundur, dia juga mundur! Aku menggerakkan tangan kanan, ia juga menggerakan tangan kanannya! Tidak mungkin. Aku lalu menoleh ke kanan kiri, bayangan itupun melakukan hal sama.

Kemudian aku bernafas lega. Rupanya aku dihantui oleh diriku sendiri! Terkadang memang kita memiliki beberapa bayangan–bergantung bagaimana pencahayaan diruangan itu. Aku ingin minta maaf pada penjahat dan makhluk halus yang menjadi kambing hitam atas ketakutan dalam diriku tiga hari ini, lalu aku berjalan pulang dan lupa meninggalkan temanku yang sedang asyik berdiam diri.


Terkadang kita terlalu takut akan hal-hal disekeliling kita dan selalu menyalahkan keadaan atas kesialan yang menimpa. Padahal kalau mau berfikir lebih jujur, barangkali yang kita takutkan sebenarnya hanya muncul dari dalam diri saja. Mereka tidak pernah berusaha membuat kita gagal. Tapi bayangan kitalah.